Mengeluh tentang keadaan dan orang lain seolah menjadi kebiasaan yang melemahkan jiwa di tengah kerasnya menjalani hidup. Padahal, merenungi hakikat hidup yang singkat seharusnya menyadarkan kita bahwa mengisi waktu dengan energi negatif hanya akan membuang kesempatan emas yang telah dititipkan Sang Pencipta.
Hidup ini, jika kita renungkan dengan jujur, ternyata amat singkat. Hari berganti hari begitu cepat, usia bertambah tanpa bisa ditawar, sementara banyak dari kita tanpa sadar menghabiskan waktu terbaik hanya untuk mengeluh. Mengeluh tentang keadaan, tentang orang lain, tentang nasib yang terasa tidak adil. Padahal, setiap helaan napas adalah amanah, dan setiap detik adalah kesempatan yang tak akan pernah kembali. Hidup terlalu berharga jika hanya diisi dengan keluh kesah yang melemahkan jiwa.
Mengeluh memang manusiawi. Ia sering muncul ketika lelah, ketika harapan belum tercapai, atau saat doa terasa belum berjawab. Namun, ketika keluh kesah menjadi kebiasaan, ia perlahan menggerogoti semangat, menumpulkan syukur, dan memenjarakan pikiran. Kita merasa seolah hidup ini hanya berisi masalah, padahal sering kali yang berubah bukan keadaan, melainkan cara kita memandangnya. Keluh kesah yang berlarut-larut tidak mengubah takdir, justru sering memperberat langkah kita sendiri.
Hidup yang singkat menuntut kesadaran yang jernih: apa yang ingin kita wariskan dari hari-hari kita? Wajah muram penuh keluhan, atau jejak kebaikan dan keteguhan? Orang-orang yang hidupnya bermakna bukanlah mereka yang tanpa masalah, melainkan mereka yang mampu mengelola masalah tanpa kehilangan harapan. Mereka memahami bahwa setiap ujian membawa pesan, setiap kesulitan menyimpan pelajaran, dan setiap keterbatasan membuka ruang untuk bertumbuh.
Sikap yang mencerdaskan adalah mengubah keluh kesah menjadi refleksi. Bukan bertanya, “Mengapa ini terjadi pada kita?” melainkan, “Apa yang bisa kita pelajari dari ini?” Pertanyaan kedua mengaktifkan akal, menumbuhkan kedewasaan, dan melahirkan solusi. Dalam banyak penelitian psikologi positif, individu yang mampu mengalihkan fokus dari keluhan menuju makna terbukti lebih tangguh secara mental, lebih optimis, dan lebih bahagia dalam jangka panjang. Ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga fakta ilmiah.
Lebih dari itu, iman mengajarkan bahwa hidup tidak pernah sia-sia. Tidak ada air mata yang jatuh tanpa diketahui Tuhan, tidak ada lelah yang luput dari perhatian-Nya. Ketika kita memilih berhenti mengeluh dan mulai bersabar serta berusaha, pada saat itulah hati menjadi lapang. Syukur tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari kesadaran bahwa di balik kekurangan, masih banyak nikmat yang sering terlewat kita hitung. Orang yang bersyukur bukan berarti hidupnya ringan, tetapi hatinya kuat.
Hidup ini singkat, namun dampaknya bisa panjang. Satu keputusan untuk tetap berbuat baik di tengah lelah bisa mengubah hidup orang lain. Satu kata penguat yang kita ucapkan bisa menjadi cahaya bagi jiwa yang hampir menyerah. Jika waktu yang terbatas ini kita habiskan untuk mengeluh, kita kehilangan kesempatan untuk memberi, belajar, dan bertumbuh. Tetapi jika kita mengisinya dengan ikhtiar, doa, dan sikap positif, hidup yang singkat ini akan terasa penuh makna.
Mencerahkan diri berarti berani berdamai dengan realitas, tanpa menyerah pada keadaan. Kita boleh lelah, tetapi jangan putus asa. Kita boleh sedih, tetapi jangan tenggelam dalam keputusasaan. Hidup yang dewasa adalah hidup yang menerima kenyataan sambil terus bergerak memperbaiki diri. Di sinilah letak kekuatan sejati: bukan pada bebasnya masalah, melainkan pada kemampuan bangkit setiap kali jatuh.
Akhirnya, mari kita ingat bersama: hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam keluh kesah yang tak berujung. Waktu adalah modal, hati adalah kemudi, dan pilihan adalah arah. Kita bisa memilih menjadi pribadi yang terus mengeluh, atau menjadi pribadi yang belajar, bersyukur, dan memberi manfaat. Semoga kita memilih jalan kedua—jalan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna. Karena ketika hidup berakhir, bukan keluhan yang akan dikenang, melainkan kebaikan yang pernah kita tebarkan.



