Persaudaraan sejatinya adalah anugerah terindah yang menghiasi hidup manusia, namun betapa banyak ikatan suci ini yang harus kandas di tengah jalan. Ternyata, hancurnya persaudaraan tidak selalu bermula dari pertengkaran hebat, melainkan akibat penyakit hati dan ambisi duniawi yang dibiarkan tumbuh subur tanpa disadari.
Padahal Allah telah menegaskan bahwa ikatan iman bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ikatan ruhani yang suci. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini bukan hanya pernyataan, tetapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebab pertama yang paling sering meretakkan persaudaraan adalah cinta dunia yang berlebihan. Dunia sejatinya hanyalah sarana, tetapi ketika ia menjadi tujuan, ia menuntut pengorbanan. Tanpa disadari, kita mulai mengukur hubungan dengan untung dan rugi, manfaat dan mudarat. Persaudaraan yang dulu tulus karena Allah berubah menjadi relasi yang rapuh, mudah goyah saat kepentingan bersinggungan.
Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh-jauh hari bahwa dunia yang dilapangkan justru bisa menjadi ujian terbesar umat ini, bukan karena kefakiran, melainkan karena kelalaian. Dunia tidak salah, tetapi hati yang terlalu menggenggam dunia itulah yang membuat persaudaraan kehilangan ruhnya.
Sebab kedua adalah hasad dan iri hati yang tidak dijaga. Ketika saudara kita diberi kelebihan oleh Allah—baik harta, ilmu, kedudukan, atau pengaruh—hati kita diuji. Apakah kita ikut bersyukur, atau justru merasa sempit? Hasad sering kali tidak muncul dalam bentuk kebencian terbuka, melainkan dalam rasa tidak nyaman, sikap dingin, atau doa yang mulai jarang terucap.
Padahal Rasulullah SAW menyebut hasad sebagai api yang melahap kebaikan, menghanguskan pahala tanpa terasa. Jika penyakit ini tidak segera diobati dengan syukur dan doa kebaikan, maka persaudaraan yang tadinya hangat perlahan akan menjadi asing.
Sebab ketiga adalah lisan yang tidak dijaga karena urusan dunia. Banyak hubungan retak bukan karena niat jahat, tetapi karena kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan. Dalam urusan dunia, kita sering merasa perlu membela diri, mempertahankan pendapat, atau menunjukkan posisi.
Sayangnya, kita lupa bahwa satu kalimat yang melukai bisa meninggalkan bekas jauh lebih lama daripada luka fisik. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memilih perkataan terbaik, bukan sekadar benar. Dalam konteks persaudaraan, menjaga perasaan sering kali lebih mulia daripada memenangkan perdebatan.
Sebab keempat adalah ghibah dan prasangka buruk yang dibenarkan oleh logika dunia. Ketika kepentingan terlibat, kita mudah menilai niat orang lain, menafsirkan sikap saudara dengan kacamata curiga. Dari sinilah ghibah lahir, sering dibungkus dengan alasan “sekadar klarifikasi” atau “agar waspada”. Padahal Allah menyamakan ghibah dengan memakan bangkai saudara sendiri—perumpamaan yang sangat keras, karena dampaknya memang menghancurkan. Prasangka buruk membuat hati kehilangan kejernihan, dan ketika kepercayaan runtuh, persaudaraan pun kehilangan pondasinya.
Sebab kelima adalah perasaan lebih tinggi karena pencapaian duniawi. Saat Allah memberi keberhasilan, tidak semua hati lulus ujian. Ada yang tetap rendah hati, namun ada pula yang tanpa sadar mulai menjaga jarak, merasa tidak lagi sejajar.
Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk merendahkan secara terang-terangan, tetapi bisa berupa sikap merasa tidak perlu mendengar, enggan menghargai, atau lupa bahwa semua kelebihan hanyalah titipan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesombongan sekecil apa pun menghalangi seseorang dari surga. Jika keberhasilan membuat kita menjauh dari saudara, maka ada yang keliru dalam cara kita memaknainya.
Sebab keenam adalah ketidaksabaran dalam menyikapi perbedaan pilihan dunia. Tidak semua saudara Allah takdirkan berjalan di jalur yang sama. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang memilih satu jalan, ada yang memilih jalan lain. Dunia sering mendorong kita untuk ingin seragam, ingin dimengerti, ingin dibenarkan. Ketika perbedaan muncul, ego menuntut menang, sementara persaudaraan dikorbankan.
Padahal Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memilih memaafkan. Banyak hubungan sebenarnya bisa diselamatkan jika kita mau sedikit menahan diri dan mengalah, bukan karena kalah, tetapi karena cinta kepada Allah.
Sebab ketujuh, dan yang paling mendasar, adalah lupa bahwa dunia ini sementara dan kita akan kembali sendiri-sendiri. Ketika akhirat menjauh dari kesadaran, dunia terasa sangat penting. Kita lupa bahwa kelak, yang ditanya bukan seberapa besar pencapaian kita, tetapi bagaimana akhlak kita.
Bukan seberapa tinggi posisi kita, tetapi bagaimana kita memperlakukan sesama. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa memaafkan tidak mengurangi kemuliaan, justru menambahnya. Namun karena dunia terasa dekat, kita sering menunda memaafkan, menunda berdamai, seolah waktu masih panjang.
Pada akhirnya, muhasabah ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, melainkan untuk mengajak kita berhenti sejenak. Dunia boleh kita miliki, tetapi jangan sampai ia menguasai hati. Persaudaraan karena Allah adalah nikmat yang mahal, rapuh jika tidak dijaga, namun sangat bernilai jika dirawat.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari cinta dunia yang berlebihan, melapangkan dada kita untuk memaafkan, dan menjaga persaudaraan kita hingga kelak dikumpulkan kembali di bawah naungan rahmat-Nya. Aamiin.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



