Antara Panggilan Allah dan Rayuan Dunia: Mengapa Masjid Hanya Terisi Beberapa Saf Sementara Mall Penuh Sesak?

Bahron Ansori
Ilustrasi gambar orang ibadah di masjid.(dok Pixabay)

Sebuah pemandangan kontras yang menyayat hati kini kian sering menghiasi sudut-sudut kota besar maupun daerah di tanah air.

Di saat suara adzan menggema dengan merdu memanggil umat untuk bersujud ke rumah Allah, realita di lapangan justru menunjukkan hal yang berbanding terbalik. Masjid-masjid yang seharusnya menjadi pusat ketenangan dan dipenuhi hamba yang rindu akan Rabb-nya, acapkali hanya terisi oleh segelintir jamaah dalam beberapa saf saja.

Ironisnya, di waktu yang bersamaan, pusat perbelanjaan atau mall justru tampak bak lautan manusia. Ribuan orang rela berdesak-desakan, mengantre panjang, dan menghabiskan waktu berjam-jam demi mengejar kesenangan duniawi yang semu.

Fenomena “Masjid Sepi, Mall Ramai” ini seolah menjadi pengingat sekaligus tamparan keras bagi kita semua tentang sejauh mana prioritas ibadah di tengah gempuran gaya hidup modern yang serba konsumtif.

Padahal adzan bukan sekadar suara. Ia adalah panggilan langit kepada bumi. Ia adalah undangan dari Allah kepada hamba-Nya untuk datang, bersujud, dan menenangkan hati. Namun betapa sering panggilan itu kalah oleh diskon, hiburan, dan gemerlap dunia.

Baca juga  Mengerikan! Inilah Dialog Manusia Saat Jelang Kematian yang Digambarkan Al-Quran, Tak Ada Kata 'Nanti' Lagi

Mall menjadi simbol kesibukan dunia. Lampu terang, musik, makanan, dan berbagai barang membuat manusia betah berlama-lama di dalamnya. Orang bisa berjalan berjam-jam tanpa merasa lelah. Tetapi ketika diminta berdiri lima menit untuk shalat, terasa begitu berat bagi sebagian hati.

Masjid sebenarnya adalah tempat paling mulia di muka bumi. Di sanalah dosa-dosa gugur, doa-doa diangkat, dan hati yang gelisah menemukan ketenangan. Namun jika hati telah terlalu sibuk dengan dunia, kemuliaan masjid tidak lagi terasa istimewa.

Inilah salah satu tanda penyakit hati yang perlahan menjalar. Dunia terasa lebih menarik daripada akhirat. Manusia lebih bersemangat mengejar yang sementara, daripada mempersiapkan yang abadi. Padahal kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang kekal.

Bayangkan jika kita datang ke mall dan semua toko tutup, tentu kita merasa kecewa. Tetapi ketika masjid terbuka luas dan Allah memanggil kita untuk shalat, banyak yang justru merasa tidak punya waktu. Seakan urusan dengan Allah bisa ditunda, sementara urusan dunia harus segera diselesaikan.

Baca juga  Fiqih Jual Beli dalam Berdagang

Padahal kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari banyaknya barang yang kita miliki. Ia lahir dari hati yang dekat dengan Allah. Banyak orang memiliki segalanya di dunia, namun hatinya tetap kosong dan gelisah. Sebaliknya, ada orang yang sederhana hidupnya, tetapi hatinya penuh kedamaian karena rajin memakmurkan masjid.

Masjid bukan hanya tempat shalat. Ia adalah tempat memperbaiki jiwa. Di sanalah manusia belajar rendah hati, belajar bersujud, dan mengingat bahwa dirinya hanyalah hamba. Ketika seseorang sering datang ke masjid, hatinya akan menjadi lebih lembut dan hidupnya lebih terarah.

Sebaliknya, jika masjid mulai ditinggalkan, kehidupan manusia perlahan kehilangan arah. Nilai-nilai ruhani memudar, dan dunia menjadi tujuan utama. Tidak heran jika kegelisahan, konflik, dan kekosongan batin semakin banyak dirasakan manusia modern.

Masjid yang sepi sebenarnya bukan hanya kesedihan bagi bangunannya, tetapi juga kesedihan bagi umat. Karena sepinya masjid adalah tanda jauhnya hati manusia dari Rabb-nya. Dan ketika hati jauh dari Allah, maka keberkahan hidup pun perlahan menghilang.

Baca juga  Apa Gunanya Syahadat Jika Sujud Saja Enggan? Menelisik Paradoks Iman yang Kian Mengkhawatirkan

Padahal langkah menuju masjid adalah langkah yang sangat dicintai Allah. Setiap langkah menghapus dosa dan mengangkat derajat. Setiap sujud mendekatkan hamba kepada Rabb-nya lebih dari apa pun di dunia ini.

Bayangkan jika setiap adzan berkumandang, manusia berbondong-bondong menuju masjid sebagaimana mereka berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan. Betapa hidup ini akan dipenuhi keberkahan. Betapa banyak hati yang akan kembali tenang.

Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh dunia. Tetapi kita bisa memulai dari diri sendiri. Mulai membiasakan langkah menuju masjid. Mulai menjadikan adzan sebagai panggilan yang paling kita tunggu dalam kehidupan.

Semoga suatu hari nanti, pemandangan itu berubah. Ketika adzan berkumandang, jalan-jalan menuju masjid menjadi ramai oleh manusia yang bersegera memenuhi panggilan Allah. Dan saat itulah, umat ini akan kembali menemukan kekuatan, keberkahan, dan kemuliaannya.

 

TAG: