Sebuah fenomena miris tengah menghantui rumah tangga modern saat ini. Sosok ibu, yang secara tradisional dikenal sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak, kini dituding mulai kehilangan taringnya akibat jeratan gawai (gadget). Muncul istilah ‘Ibu Akhir Zaman’ yang merujuk pada pola asuh yang malas mendidik dan minim keteladanan.
Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana rumah tampak tenang dan senyap, namun sebenarnya menyimpan musibah besar. Keheningan itu tercipta bukan karena kedamaian, melainkan karena ibu dan anak sama-sama terpaku pada layar masing-masing tanpa ada sentuhan komunikasi.
Gadget Sebagai ‘Pengasuh Modern’
Banyak orang tua kini menjadikan gawai sebagai pelarian praktis. Anak yang rewel, menangis, atau sekadar ingin perhatian, langsung “disumpal” dengan video atau gim agar diam.
“Pendidikan karakter, adab, iman, dan akhlak tergeser oleh algoritma yang tak peduli halal-haram,” tulis sebuah ulasan reflektif mengenai kondisi pendidikan keluarga saat ini, Minggu (21/12/2025).
Ironisnya, proses penyerahan pendidikan kepada layar ini sering dilakukan tanpa rasa bersalah. Ibu merasa tugasnya selesai saat rumah tidak bising, padahal di saat yang sama, bimbingan jiwa sang anak sedang tergerus.
Kontradiksi Perintah dan Perilaku
Masalah terbesar bukan hanya pada penggunaan teknologi, melainkan pada runtuhnya keteladanan. Banyak ibu menuntut anaknya untuk salat tepat waktu, jujur, dan sopan, namun perilaku sang ibu justru menunjukkan sebaliknya.
“Lisan memerintah, tetapi perilaku mengkhianati. Anak bukan hanya belajar dari kata-kata, melainkan dari apa yang ia lihat setiap hari,” lanjut ulasan tersebut.
Saat anak menyaksikan ibunya kecanduan media sosial, sering bergunjing, atau menunda ibadah, maka itulah pelajaran paling kuat yang tertanam di hati anak. Pendidikan perintah yang kosong tak akan mampu mengalahkan kuatnya pendidikan visual dari perilaku orang tua.
Sekolah Bukan ‘Tempat Sampah’ Tanggung Jawab
Kecenderungan lain yang muncul adalah sikap menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah atau pesantren. Seolah-olah peran ibu hanya sebatas melahirkan dan memenuhi kebutuhan fisik.
Padahal, sekolah hanya bersifat memperkuat. Ketika rumah kehilangan nilai-nilai dasarnya, sekolah akan kewalahan menghadapi arus kerusakan moral dari luar. Dampaknya kini mulai nyata: lahir generasi yang cerdas secara tren, namun rapuh secara jiwa, miskin empati, dan dangkal spiritualitasnya.
Menyalakan Kembali Cahaya Rumah
Meski tantangan akhir zaman kian berat dengan tekanan ekonomi dan sosial, harapan itu tetap ada. Menjadi ibu yang baik tidak berarti harus menjadi sempurna, melainkan menjadi sosok yang ‘hadir’.
Langkah pertama dimulai dengan meletakkan gawai dan kembali mengatur waktu. Pendidikan anak tidak harus dimulai dari ceramah panjang, melainkan dari perbaikan adab dan ibadah yang dipraktikkan langsung oleh orang tua.
Jika benteng rumah kembali kokoh dan ibu kembali pada hakikat perannya sebagai pendidik utama, maka rumah akan kembali bercahaya. Anak-anak pun berpeluang tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya lihai bermain teknologi, tetapi juga selamat dunia dan akhirat.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







