Di Akhir zaman ini, selingkuh tak lagi bersembunyi di lorong gelap. Ia tampil terang-terangan, dipamerkan di layar ponsel, dibungkus kata “teman”, “rekan kerja”, atau “sekadar chat biasa”. Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurang harta, tetapi karena rapuhnya iman dan kendali diri. Yang lebih mengerikan, selingkuh kini sering dianggap wajar, bahkan dimaklumi. Padahal ia adalah api kecil yang membakar kepercayaan, merobohkan keluarga, dan mengundang murka Allah jika tak segera disadari.
1. Lemahnya Iman dan Rasa Takut kepada Allah
Sebab paling utama orang berani selingkuh adalah lemahnya iman. Hati yang jarang disentuh zikir, doa, dan shalat akan mudah tergoda. Ketika rasa muraqabah—merasa diawasi Allah—menghilang, dosa terasa ringan. Orang lupa bahwa Allah Maha Melihat, bahkan ketika pesan dihapus dan panggilan disenyapkan.
2. Normalisasi Maksiat oleh Lingkungan
Lingkungan yang permisif membuat selingkuh tampak biasa. Candaan tentang “pelarian”, cerita perselingkuhan yang ditertawakan, atau konten hiburan yang meromantisasi pengkhianatan, semuanya membius nurani. Ketika maksiat dinormalisasi, batas halal-haram menjadi kabur.
3. Media Sosial dan Akses Tanpa Batas
Gawai di tangan, godaan di mana-mana. Media sosial memudahkan komunikasi rahasia, membuka pintu nostalgia dengan masa lalu, atau perkenalan instan tanpa tanggung jawab. Banyak perselingkuhan berawal dari “sekadar menyapa”, lalu berlanjut karena tak ada rem hati yang kuat.
4. Ketidakpuasan Emosional dalam Rumah Tangga
Sebagian orang mencari di luar karena tak menemukan kehangatan di dalam. Komunikasi yang dingin, perhatian yang menipis, atau luka lama yang tak disembuhkan membuat seseorang mencari pelarian. Sayangnya, pelarian itu justru menambah luka baru, bukan menyembuhkan.
5. Krisis Komitmen dan Tanggung Jawab
Di akhir zaman, komitmen sering kalah oleh ego. Janji pernikahan dianggap formalitas, bukan amanah. Ketika tanggung jawab terasa berat, sebagian memilih jalan pintas: memuaskan diri tanpa memikirkan akibat bagi pasangan, anak, dan kehormatan keluarga.
6. Minimnya Ilmu tentang Dosa dan Dampaknya
Banyak yang tak benar-benar memahami betapa berat dosa zina dan pendahuluannya. Islam menutup semua pintu menuju zina, bukan hanya melarang perbuatannya. Tanpa ilmu, seseorang mudah meremehkan chat mesra, candaan genit, atau pertemuan berdua yang diharamkan.
7. Nafsu yang Tak Dikendalikan dan Gaya Hidup Hedonis
Ketika hidup hanya mengejar rasa senang, nafsu menjadi raja. Gaya hidup hedonis mendorong pemenuhan instan tanpa pikir panjang. Padahal nafsu yang dituruti tanpa kendali akan menuntut lebih, hingga menyeret pelakunya pada kehinaan demi kehinaan.
Islam tidak hanya melarang, tetapi juga memberi jalan keluar.
Solusi pertama adalah menguatkan iman dengan shalat tepat waktu, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadirkan rasa takut serta harap kepada Allah.
Kedua, menutup pintu-pintu zina: menjaga pandangan, membatasi interaksi lawan jenis, dan bijak menggunakan media sosial.
Ketiga, memperbaiki komunikasi rumah tangga—berbicara dari hati ke hati, saling mendengar, dan menumbuhkan kasih sayang dengan cara yang halal.
Keempat, menuntut ilmu tentang pernikahan, hak dan kewajiban suami-istri, serta bahaya dosa-dosa hati. Kelima, bergaul dengan lingkungan yang saleh, karena teman yang baik akan mengingatkan, bukan menjerumuskan. Keenam, berpuasa sunnah dan melatih kendali diri, sebagaimana anjuran Nabi SAW bagi yang ingin menundukkan syahwat. Terakhir, segera bertaubat jika terlanjur tergelincir—taubat nasuha yang disertai penyesalan, berhenti total, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Di akhir zaman yang penuh godaan ini, menjaga kesetiaan adalah jihad sunyi. Berat, tetapi mulia. Dan bagi siapa yang menjaga kehormatan diri dan keluarganya, Allah menjanjikan pertolongan, ketenangan, dan keberkahan yang tak ternilai.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







