Judul di atas sama sekali tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Judul ini sengaja dipilih sebagai cermin evaluasi, agar siapa pun yang membacanya berkenan bercermin pada diri sendiri. Harapannya, tulisan ini tidak berhenti sebagai opini, tetapi menjadi pencerahan yang menumbuhkan kesadaran akan kelemahan manusiawi yang sering tak disadari.
Perasaan superioritas yang muncul dari status sebagai senior—baik dalam lingkungan akademik, profesional, maupun sosial—merupakan fenomena psikologis yang telah lama dikaji para peneliti. Psikologi sosial menyebutnya sebagai status-based superiority bias, yakni kecenderungan individu yang memiliki masa kerja atau pengalaman lebih lama untuk merasa lebih berhak, lebih benar, dan lebih berkuasa. Sejumlah riset menunjukkan, bias ini justru sering berbanding terbalik dengan kualitas kepemimpinan dan efektivitas kerja tim.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology menunjukkan bahwa individu yang terlalu menekankan senioritas cenderung mengalami penurunan empati dan keterbukaan terhadap masukan. Mereka lebih mudah mengabaikan ide baru dan memandang kritik sebagai ancaman, bukan sebagai peluang perbaikan. Sikap ini pada akhirnya berdampak pada menurunnya kualitas komunikasi dan kepercayaan dalam kelompok.
Dari sudut pandang psikologis, rasa senioritas sering kali lahir dari kebutuhan mempertahankan rasa aman dan kontrol. Psikolog organisasi menjelaskan bahwa individu yang merasa posisinya terancam oleh generasi baru akan lebih defensif dan cenderung merendahkan pihak lain. Studi tentang insecurity-driven dominance menunjukkan bahwa perilaku meremehkan junior bukanlah tanda kekuatan, melainkan indikasi kecemasan terhadap relevansi diri.
Dalam konteks organisasi, senioritas yang berlebihan terbukti menjadi penghambat inovasi. Riset Harvard Business School menegaskan bahwa organisasi dengan hierarki kaku dan budaya “yang lebih lama selalu lebih benar” memiliki tingkat inovasi lebih rendah dibanding organisasi yang mendorong pertukaran gagasan lintas usia dan jabatan. Ide-ide segar sering mati sebelum diuji, bukan karena tidak berkualitas, melainkan karena datang dari “orang yang belum senior.”
Secara sosial, rasa senioritas yang berlebihan berpotensi memicu konflik antargenerasi. Penelitian sosiologi menunjukkan bahwa relasi yang timpang antara senior dan junior meningkatkan risiko fragmentasi kelompok. Ketika generasi muda merasa suaranya tidak dihargai, mereka cenderung menarik diri atau bersikap pasif, sehingga kohesi sosial melemah dan tujuan bersama sulit dicapai.
Dari sisi etika, senioritas yang disalahgunakan melahirkan ketidakadilan struktural. Studi etika organisasi menegaskan bahwa penyalahgunaan status senior sering berujung pada diskriminasi terselubung—baik dalam pembagian tugas, penilaian kinerja, maupun kesempatan berkembang. Hal ini merusak integritas personal dan institusional sekaligus menurunkan moral kolektif.
Bahaya lain yang tak kalah serius adalah menurunnya kualitas mentoring. Penelitian tentang knowledge sharing menunjukkan bahwa senior yang merasa terlalu superior cenderung enggan mentransfer ilmu secara utuh. Padahal, organisasi yang gagal melakukan transfer pengetahuan lintas generasi berisiko kehilangan kompetensi inti ketika senior tersebut tidak lagi aktif.
Dalam dunia pendidikan, fenomena ini juga mendapat sorotan serius. Riset pedagogik modern menunjukkan bahwa pendidik yang menutup diri terhadap metode baru karena merasa “sudah berpengalaman” cenderung tertinggal secara pedagogis. Pendidikan yang sehat justru tumbuh dari dialog, refleksi, dan kesediaan belajar dua arah—bahkan dari peserta didik sekalipun.
Senioritas yang berlebihan juga memengaruhi penilaian kinerja. Studi manajemen sumber daya manusia menemukan bahwa individu yang terlalu bergantung pada masa lalu sering mengabaikan tuntutan kompetensi masa kini. Pengalaman tanpa pembaruan justru menjadi beban, bukan keunggulan.
Selain itu, hierarki yang terlalu kaku menciptakan budaya ketakutan. Penelitian Amy Edmondson tentang psychological safety menegaskan bahwa tim yang anggotanya takut berbicara karena tekanan senior memiliki performa lebih rendah, tingkat kesalahan lebih tinggi, dan kreativitas yang tumpul. Lingkungan yang sehat bukan yang sunyi dari perbedaan pendapat, tetapi yang aman untuk menyuarakannya.
Dalam jangka panjang, rasa senioritas yang tidak terkendali dapat merusak reputasi pribadi dan lembaga. Ilmu perilaku organisasi menunjukkan bahwa kepercayaan yang rusak akibat perlakuan tidak adil sulit dipulihkan. Dampaknya bukan hanya pada produktivitas, tetapi juga pada loyalitas dan keberlanjutan institusi itu sendiri.
Karena itu, diperlukan kesadaran diri yang mendalam dari para senior. Penelitian kepemimpinan modern sepakat bahwa pemimpin paling berpengaruh bukanlah yang paling lama berada di sistem, melainkan yang paling mampu melayani, membimbing, dan memberdayakan orang lain. Senioritas sejati bukan soal dominasi, tetapi soal kontribusi.
Sebagai penutup, berbagai penelitian ilmiah menguatkan satu kesimpulan: rasa senioritas yang berlebihan membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat. Ia menghambat pertumbuhan individu, melemahkan organisasi, dan merusak tatanan sosial. Maka, keseimbangan antara pengalaman dan kerendahan hati adalah kunci. Pengalaman semestinya menjadi cahaya penerang jalan bersama, bukan bayang-bayang yang menutup langkah generasi setelahnya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







