Saat Spirit Ramadan Dikalahkan Keramaian Lebaran, Antara Masjid dan Pertokoan

Heri C
Ilustrasi perbedaan suasana yang menjadi ciri ramadhan akan segera berlalu. (Foto: Ai)

Ada satu tanda yang sering luput disadari ketika Ramadan hampir pergi. Ia tidak berpamitan dengan suara keras, tidak pula dengan pengumuman yang menggema. “Ramadan pergi perlahan dengan ditandai oleh perubahan yang terjadi di sekitar kita,”.

Jika di awal bulan, masjid dan mushola penuh oleh langkah kaki yang bergegas menuju saf salat tarawih, maka di penghujung Ramadan pemandangan itu mulai berubah. Saf yang dulu rapat perlahan merenggang.

Jamaah yang dulu melimpah kini tersisa sebagian. Suara lantunan Al-Qur’an yang dahulu bergema hingga larut malam mulai berkurang, seperti nyala lampu minyak yang perlahan diredupkan.

Sebaliknya, pasar dan pertokoan justru menjadi semakin ramai. Jalanan yang sebelumnya lengang setelah salat tarawih kini dipenuhi kendaraan. Orang-orang berbondong menuju pusat perbelanjaan, memilih baju baru, sepatu baru, kue-kue lebaran, dan berbagai keperluan hari raya.

“Beberapa bahkan melupakan wajah kumal yang memadang dari seberang jalan atau bahkan dari balik kaca etalase sembari memegang karung kumuh”

Ramadan, yang seharusnya menjadi bulan menenangkan jiwa, perlahan berubah menjadi bulan yang sibuk oleh urusan dunia. Seolah-olah manusia sedang mengejar sesuatu yang berbeda dari yang dahulu mereka cari di awal bulan.

Baca juga  Harga Cabai Tembus Rp80 Ribu, Pemprov Jateng Siapkan Subsidi dan 308 Gerakan Pangan Murah

Fenomena ini seperti seorang tamu agung yang datang sebulan penuh ke rumah kita. Pada awal kedatangannya, kita menyambut dengan penuh hormat. Rumah dibersihkan, hidangan disiapkan, perhatian diberikan sepenuhnya.

Namun menjelang hari kepulangannya, perhatian itu justru beralih kepada hal lain. Kita sibuk merapikan halaman, memikirkan pesta setelah tamu itu pergi, bahkan kadang lupa mengantar kepergiannya dengan penghormatan yang layak.

“Padahal Ramadan adalah tamu yang tidak semua orang dijamin dapat menemuinya kembali “.

Ada pula perumpamaan lain yang terasa begitu dekat. Ramadan seperti mata air di tengah perjalanan panjang kehidupan manusia. Pada awal perjalanan, orang-orang berlari mendekatinya, meminum airnya, menyegarkan diri. Namun ketika perjalanan hampir selesai, sebagian justru berjalan menjauh dari mata air itu, sibuk mempersiapkan kemah dan perayaan di ujung perjalanan.

“Padahal mata air itu mungkin tidak akan mereka temui lagi tahun depan”.

Ironisnya, semakin dekat dengan hari kemenangan, justru semakin banyak yang tanpa sadar menjauh dari ruh Ramadan itu sendiri. Padahal sepuluh hari terakhir adalah waktu yang paling dijanjikan keberkahan. Di sanalah malam Lailatul Qadar tersembunyi, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Baca juga  Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Namun yang sering terlihat justru kebalikannya, malam-malam yang dahulu diisi dengan ibadah kini digantikan dengan keramaian pusat perbelanjaan.

Tentu tidak ada yang salah dengan mempersiapkan hari raya. Islam sendiri mengajarkan kegembiraan dalam menyambut Idulfitri sebagai momen kemenangan.

Tetapi ketika persiapan itu membuat manusia kehilangan momentum spiritual Ramadan, di situlah kita patut bertanya kembali kepada diri sendiri. “Apa sebenarnya yang kita cari selama sebulan ini?”

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dan memperhalus rasa kemanusiaan kepada sesama.

Karena itu, ketika tanda-tanda Ramadan mulai beranjak pergi—ketika saf di masjid mulai renggang dan pusat perbelanjaan semakin padat, mungkin itu adalah pengingat halus bagi kita semua bahwa tamu agung (ramadhan) itu sedang bersiap pulang. Yang semua orang didunia ini tidak pernah tahu pasti, apakah tahun berikutnya masih berjumpa atau tidak dengan tamu agung.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

Baca juga  9 'Benteng' agar Tak Terseret Arus Fitnah Zaman