Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > Tangis Ammar bin Yasir Pecah di Hadapan Rasulullah, Merasa Khianat karena Tak Kuat Disiksa, Justru Ini yang Terjadi!
Risalah

Tangis Ammar bin Yasir Pecah di Hadapan Rasulullah, Merasa Khianat karena Tak Kuat Disiksa, Justru Ini yang Terjadi!

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 17 Januari 2026 09:37
Bahron Ansori
Membagikan
Ammar bin Yasir
Padang pasir menjadi saksi penderitaan tiada tara yang dialami oleh Ammar bin Yasir, salah satu sahabat nabi yang menjadi simbol keteguhan iman. (dok Freepik.com)
Membagikan

Penderitaan tiada tara dialami oleh Ammar bin Yasir, salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang menjadi simbol keteguhan iman meski nyawa berada di ujung tanduk. Di bawah terik matahari Makkah yang membakar, Ammar harus menyaksikan pemandangan memilukan: ibunya, Sumayyah, gugur sebagai syahidah pertama setelah disiksa dengan keji oleh kaum kafir Quraisy.

Bukan sekadar derita fisik, Ammar bin Yasir sempat mengalami guncangan batin hebat saat dirinya dipaksa mengingkari Allah demi nyawa. Namun, alih-alih dicela, kesetiaan hatinya justru dibela langsung oleh wahyu Allah SWT. Bagaimana perjuangan hidup sosok yang disebut Rasulullah sebagai pria yang “dipenuhi iman hingga ke tulang sumsum” ini?

Di tengah panasnya padang pasir Makkah, ada jeritan yang tak tercatat dalam sejarah para tiran, tapi terukir abadi di langit keimanan. Ammar bin Yasir, seorang lelaki lemah tanpa pelindung, berdiri di barisan terdepan orang-orang yang memilih iman di saat iman berarti derita. Tubuhnya diseret, jiwanya ditekan, tapi hatinya telah memilih Allah.

Ammar bukan bangsawan Quraisy, bukan pula orang berpengaruh. Ia hanya seorang hamba yang merdeka dalam tauhid, namun terbelenggu dalam kekuasaan zalim. Justru karena itulah ia menjadi sasaran empuk. Cambuk, batu panas, dan caci maki menjadi menu harian yang menyertai syahadatnya.

Baca juga  Pesan Al-Quran Kepada Seluruh Umat Manusia: Wasjud Waqtarib!

Bersama ayah dan ibunya, Yasir dan Sumayyah, Ammar merasakan pahitnya iman di awal Islam. Mereka bertiga diseret ke tengah terik, diikat, disiksa tanpa belas kasihan. Di hadapan mereka, Rasulullah ﷺ hanya mampu berkata lirih namun penuh makna: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.”

Kata-kata itu bukan sekadar penghiburan. Itu adalah janji langit. Janji bahwa luka yang mereka tanggung tidak sia-sia. Sumayyah membuktikannya lebih dulu. Ia wafat sebagai syahidah pertama dalam Islam, dengan tombak tertancap di tubuhnya, namun tauhid tetap di dadanya.

Ammar bin Yasir Saksikan Ibunya Gugur

Ammar menyaksikan ibunya gugur, ayahnya wafat menyusul, sementara ia masih hidup dengan tubuh yang remuk dan jiwa yang terguncang. Dunia seakan runtuh. Tapi justru di titik terendah itu, Allah sedang mengangkat derajatnya setinggi-tingginya.

Puncak ujian Ammar adalah ketika ia dipaksa mengucapkan kata-kata kufur demi menyelamatkan nyawanya. Lisannya tergelincir di bawah ancaman maut, namun hatinya tetap beriman. Ia menangis tersedu, merasa telah hancur segalanya.

Baca juga  7 Tanda Pemimpin Berwibawa di Akhir Zaman

Dengan langkah gontai, Ammar bin Yasir mendatangi Rasulullah ﷺ. Air matanya jatuh, suaranya gemetar. Ia merasa kalah. Namun Rasulullah bertanya lembut, “Bagaimana keadaan hatimu?” Ammar menjawab, “Tenang dengan iman.” Maka turunlah ayat yang membela Ammar, bahwa iman di hati lebih kuat daripada paksaan di lisan.

Dari Ammar bin Yasir kita belajar bahwa Allah menilai hati, bukan sekadar suara. Bahwa iman sejati tidak selalu lantang, tapi ia teguh bertahan dalam tekanan. Ammar tidak gugur dalam ujian, justru ia dimuliakan oleh wahyu.

Setelah hijrah, Ammar tetap berada di garis depan perjuangan. Ia ikut membangun Masjid Nabawi dengan tangannya sendiri. Saat yang lain membawa satu batu, Ammar membawa dua. Rasulullah ﷺ tersenyum dan mendoakannya. Luka lama tak membuatnya lelah mencinta Islam.

Ammar hidup sederhana, jujur, dan lurus. Ia tak pernah silau jabatan. Baginya, dunia hanyalah jembatan menuju akhirat. Ia pernah berkata bahwa kenikmatan dunia tak pernah mampu menggantikan satu detik kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ.

Baca juga  Paradoks Muslim: Garang saat Agama Dihina, Tapi Adem Ayem saat Langgar Perintah Allah

Bahkan di usia senja, Ammar bin Yasir tetap berada di medan ujian. Ia wafat dalam keadaan berpegang pada keyakinan yang sama seperti saat ia disiksa di Makkah. Tubuhnya renta, tapi imannya tetap muda dan menyala.

Rasulullah ﷺ pernah menyebut Ammar sebagai sosok yang penuh iman dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pujian itu bukan hadiah, melainkan buah dari kesabaran panjang yang berdarah-darah.

Kisah Ammar menampar kita yang mudah mengeluh. Kita mengaku beriman, tapi goyah hanya karena celaan. Kita mengaku cinta Islam, tapi mundur saat kenyamanan terganggu. Ammar mengajarkan bahwa iman sejati selalu menuntut harga.

Ia tidak meninggalkan Islam meski Islam membuatnya kehilangan segalanya. Justru karena itulah ia mendapatkan segalanya. Nama Ammar hidup hingga hari ini, sementara para penyiksanya tenggelam dalam kehinaan sejarah.

Ammar bin Yasir telah pergi, namun jejak imannya tetap memanggil kita. Saat hidup terasa berat karena mempertahankan kebenaran, ingatlah Ammar. Tubuh boleh disiksa, dunia boleh menekan, tapi iman—jika telah tertanam—tak akan pernah patah.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.

 

TAG:Ammar bin yasirislamrasulullah
Artikel Sebelumnya Persibas Banyumas Persibas Banyumas Wanti-wanti ke Suporter Jelang Derby Ngapak
Artikel Selanjutnya Puting Beliung desa kotayasa banyumas Puting Beliung Terjang Ratusan Rumah di Kotayasa Banyumas, Warga Terpaksa Mengungsi 
ISRA MIRAJ
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Paradoks muslim islam
Risalah

Paradoks Muslim: Garang saat Agama Dihina, Tapi Adem Ayem saat Langgar Perintah Allah

Oleh Bahron Ansori
Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Muslim
Risalah

Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Oleh Bahron Ansori
Sahabat nabi
Risalah

Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah

Oleh Bahron Ansori
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?