Di antara deru kebencian dan ejekan manusia, lahirlah satu nama yang kecil di mata dunia, namun agung di sisi langit: Abdullah bin Mas’ud. Tubuhnya kurus, posturnya pendek, pakaiannya sederhana. Ia bukan bangsawan Quraisy, bukan pula pemilik harta. Namun dari dadanya, Allah pancarkan cahaya iman yang membuat langit memuliakannya.
Abdullah bin Mas’ud pernah menjadi penggembala kambing. Di Makkah yang keras dan penuh kesombongan, ia hanyalah pelayan yang sering tak dipandang. Namun justru dari keterasingan itu, Allah memilihnya untuk dekat dengan Rasulullah ﷺ, lebih dekat dari yang disangka banyak orang.
Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, Abdullah bin Mas’ud termasuk orang yang paling awal memeluk Islam. Iman masuk ke dalam hatinya tanpa ragu. Ia tidak menunggu dunia berubah ramah, ia berubah lebih dulu karena kebenaran telah ia kenali.
Suatu hari, di hadapan Ka’bah, Abdullah bin Mas’ud berdiri sendirian. Dengan suara yang jernih dan bergetar oleh keyakinan, ia membaca Al-Qur’an dengan lantang. Kaum Quraisy terkejut—ini adalah pertama kalinya Al-Qur’an dibaca terang-terangan di hadapan mereka.
Pukulan mendarat di wajahnya. Darah mengalir. Tubuh kecil itu terhempas. Namun lisannya tak berhenti. Ayat demi ayat terus mengalir, seolah rasa sakit tak lagi punya kuasa. Hari itu, manusia menghina dan menyiksanya, tapi langit mencatat keberanian yang tak akan pernah mati.
Para sahabat berkata, “Cukuplah, wahai Ibnu Mas’ud.” Namun ia menjawab dengan tenang, “Musuh-musuh Allah tak pernah terasa serendah hari ini.” Bukan karena tubuhnya kuat, tapi karena imannya tak bisa dipatahkan.
Rasulullah ﷺ mencintainya dengan cinta yang dalam. Abdullah bin Mas’ud sering masuk ke rumah Nabi tanpa izin karena kedekatannya. Ia dipercaya membawa sandal, siwak, dan rahasia Nabi. Kedekatan itu bukan karena status, tapi karena kejujuran hati dan ketulusan iman.
Pernah suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud naik ke pohon untuk mengambil siwak. Betisnya yang kecil membuat sebagian orang tertawa. Mereka mengolok-olok tubuhnya. Namun Rasulullah ﷺ bersabda bahwa betis itu lebih berat di timbangan Allah daripada Gunung Uhud.
Dunia menilai dengan mata, langit menilai dengan iman. Manusia menertawakan yang tampak, Allah memuliakan yang tersembunyi. Abdullah bin Mas’ud menjadi bukti bahwa kemuliaan sejati tak pernah lahir dari rupa, melainkan dari takwa.
Dalam membaca Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ berkata, “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, bacalah seperti bacaan Ibnu Mas’ud.” Ini adalah kehormatan yang tak bisa dibeli, tak bisa diwariskan—hanya bisa diraih dengan kesetiaan pada wahyu.
Abdullah bin Mas’ud bukan sekadar pembaca Al-Qur’an, ia adalah orang yang hidup bersama Al-Qur’an. Ayat-ayat bukan hanya di lisannya, tapi mengalir dalam sikap, sabar, dan keberaniannya menghadapi hinaan.
Ia mengajarkan kita bahwa jalan kebenaran sering sunyi dan menyakitkan. Bahwa orang yang paling setia pada Allah sering kali paling keras diuji oleh manusia. Namun setiap luka yang diterima karena iman, berubah menjadi kemuliaan di sisi-Nya.
Di zaman ketika kehormatan diukur dari popularitas dan pujian, kisah Abdullah bin Mas’ud datang seperti tamparan lembut bagi jiwa. Bahwa tak apa dihina manusia, selama Allah ridha dan langit mencatat kita sebagai hamba yang setia.
Ia wafat tanpa istana, tanpa sorotan dunia. Namun ilmunya hidup, tilawahnya abadi, namanya harum sepanjang zaman. Abdullah bin Mas’ud telah pergi, tapi jejak keberaniannya terus mengetuk hati orang-orang beriman.
Jika hari ini kita merasa kecil, diremehkan, atau dihinakan karena memilih taat, ingatlah Abdullah bin Mas’ud. Dunia boleh menertawakan, manusia boleh mencaci. Selama Allah memuliakan, tak ada kehinaan yang benar-benar menyakitkan. Langit selalu tahu siapa yang setia.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







