Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah
Risalah

Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026 23:27
Bahron Ansori
Membagikan
Sahabat nabi
Di antara deru kebencian dan ejekan manusia, lahirlah satu nama yang kecil di mata dunia, namun agung di sisi langit: Abdullah bin Mas’ud.(Sumber gambar freepik.com)
Membagikan

Di antara deru kebencian dan ejekan manusia, lahirlah satu nama yang kecil di mata dunia, namun agung di sisi langit: Abdullah bin Mas’ud. Tubuhnya kurus, posturnya pendek, pakaiannya sederhana. Ia bukan bangsawan Quraisy, bukan pula pemilik harta. Namun dari dadanya, Allah pancarkan cahaya iman yang membuat langit memuliakannya.

Abdullah bin Mas’ud pernah menjadi penggembala kambing. Di Makkah yang keras dan penuh kesombongan, ia hanyalah pelayan yang sering tak dipandang. Namun justru dari keterasingan itu, Allah memilihnya untuk dekat dengan Rasulullah ﷺ, lebih dekat dari yang disangka banyak orang.

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, Abdullah bin Mas’ud termasuk orang yang paling awal memeluk Islam. Iman masuk ke dalam hatinya tanpa ragu. Ia tidak menunggu dunia berubah ramah, ia berubah lebih dulu karena kebenaran telah ia kenali.

Suatu hari, di hadapan Ka’bah, Abdullah bin Mas’ud berdiri sendirian. Dengan suara yang jernih dan bergetar oleh keyakinan, ia membaca Al-Qur’an dengan lantang. Kaum Quraisy terkejut—ini adalah pertama kalinya Al-Qur’an dibaca terang-terangan di hadapan mereka.

Baca juga  Ternyata Ada Amalan yang Sia-Sia Menurut Alquran, Cek Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 103-104

Pukulan mendarat di wajahnya. Darah mengalir. Tubuh kecil itu terhempas. Namun lisannya tak berhenti. Ayat demi ayat terus mengalir, seolah rasa sakit tak lagi punya kuasa. Hari itu, manusia menghina dan menyiksanya, tapi langit mencatat keberanian yang tak akan pernah mati.

Para sahabat berkata, “Cukuplah, wahai Ibnu Mas’ud.” Namun ia menjawab dengan tenang, “Musuh-musuh Allah tak pernah terasa serendah hari ini.” Bukan karena tubuhnya kuat, tapi karena imannya tak bisa dipatahkan.

Rasulullah ﷺ mencintainya dengan cinta yang dalam. Abdullah bin Mas’ud sering masuk ke rumah Nabi tanpa izin karena kedekatannya. Ia dipercaya membawa sandal, siwak, dan rahasia Nabi. Kedekatan itu bukan karena status, tapi karena kejujuran hati dan ketulusan iman.

Pernah suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud naik ke pohon untuk mengambil siwak. Betisnya yang kecil membuat sebagian orang tertawa. Mereka mengolok-olok tubuhnya. Namun Rasulullah ﷺ bersabda bahwa betis itu lebih berat di timbangan Allah daripada Gunung Uhud.

Dunia menilai dengan mata, langit menilai dengan iman. Manusia menertawakan yang tampak, Allah memuliakan yang tersembunyi. Abdullah bin Mas’ud menjadi bukti bahwa kemuliaan sejati tak pernah lahir dari rupa, melainkan dari takwa.

Baca juga  7 Kiat Membangun Rumah Tangga Sakinah Mawaddah Warahmah

Dalam membaca Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ berkata, “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, bacalah seperti bacaan Ibnu Mas’ud.” Ini adalah kehormatan yang tak bisa dibeli, tak bisa diwariskan—hanya bisa diraih dengan kesetiaan pada wahyu.

Abdullah bin Mas’ud bukan sekadar pembaca Al-Qur’an, ia adalah orang yang hidup bersama Al-Qur’an. Ayat-ayat bukan hanya di lisannya, tapi mengalir dalam sikap, sabar, dan keberaniannya menghadapi hinaan.

Ia mengajarkan kita bahwa jalan kebenaran sering sunyi dan menyakitkan. Bahwa orang yang paling setia pada Allah sering kali paling keras diuji oleh manusia. Namun setiap luka yang diterima karena iman, berubah menjadi kemuliaan di sisi-Nya.

Di zaman ketika kehormatan diukur dari popularitas dan pujian, kisah Abdullah bin Mas’ud datang seperti tamparan lembut bagi jiwa. Bahwa tak apa dihina manusia, selama Allah ridha dan langit mencatat kita sebagai hamba yang setia.

Ia wafat tanpa istana, tanpa sorotan dunia. Namun ilmunya hidup, tilawahnya abadi, namanya harum sepanjang zaman. Abdullah bin Mas’ud telah pergi, tapi jejak keberaniannya terus mengetuk hati orang-orang beriman.

Baca juga  Awalnya Hanya Curhat, Kenapa Bisa Jadi Selingkuh? Ternyata Ini 7 Trik Setan Hancurkan Rumah Tangga

Jika hari ini kita merasa kecil, diremehkan, atau dihinakan karena memilih taat, ingatlah Abdullah bin Mas’ud. Dunia boleh menertawakan, manusia boleh mencaci. Selama Allah memuliakan, tak ada kehinaan yang benar-benar menyakitkan. Langit selalu tahu siapa yang setia.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

TAG:abdullah bin mas’udkaum quraisysahabat nabi
Artikel Sebelumnya bmkg cilacap gelombang tinggi Waspada! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Perairan Cilacap Hingga Purworejo Mencapai 4 Meter
Artikel Selanjutnya Komite Ekonomi Kreatif Cilacap Lantik 75 Pengurus Komite Ekonomi Kreatif, Bupati Cilacap Targetkan Inovasi ‘Event Tiap Minggu’
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Muslim
Risalah

Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Oleh Bahron Ansori
Kiamat
Risalah

‘Panggilan Cinta dari Langit’ untuk Kita yang Terlalu Sibuk dengan Dunia Padahal Kiamat Sudah di Depan Mata

Oleh Bahron Ansori
Neraka
Risalah

Ngeri! Ngaku Takut Neraka tapi Malah ‘Akrab’ dengan Dosa, Simak Renungan Tentang Paradoks Muslim Masa Kini

Oleh Bahron Ansori
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?