BANYAK Tradisi bagi masyarakat jawa dalam kalender atau penanggalan Hijriyah maupun Jawa, seperti pada bulan Jumadil Akhir ini. Bagi sebagain masyarakat Banjarnegara, ada Tradisi Takiran, dimana kegiatan ini biasa dilaksanakan pada tanggal 27 Jumadil Akhir.
Bagi masyarakat khususnya tanah jawa, setiap bulan dalam penanggalan Hijriyah maupun kalender Jawa memiliki makna dan tradisi tersendiri. Salah satunya adalah Tradisi Takiran, sebuah kearifan lokal masyarakat Banjarnegara yang rutin digelar setiap 27 Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriyah.
Tradisi Takiran bukan sekadar kegiatan berkumpul dan makan bersama, tetapi mengandung filosofi mendalam sebagai bentuk syukur, refleksi, dan persiapan memasuki bulan suci Ramadan yang akan datang dua bulan kemudian.
Apa Itu Tradisi Takiran?
Nama Takiran berasal dari Bahasa Jawa, gabungan dua kata: “Nata Pikir” yang berarti menata pikiran. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mulai menenangkan hati, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan sosial menjelang Ramadan.
Tradisi ini biasanya dilakukan dengan membawa makanan yang ditempatkan dalam takir, yaitu wadah tradisional dari daun pisang. Isi takir berupa nasi lengkap dengan lauk pauk, kemudian dikumpulkan dalam wadah besar bernama tenong sebelum akhirnya disantap bersama.
Rangkaian Tradisi Penuh Makna
Di sejumlah desa di Banjarnegara, termasuk Kampung Gagot, Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara, rangkaian acara Takiran dimulai sejak pagi hari. Kegiatan meliputi:
- Bersih desa
- Membersihkan lorong kampung dan area makam leluhur
- Ziarah dan doa bersama
- Makan bersama seluruh warga
Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, sekaligus menumbuhkan rasa syukur.
Menariknya, tradisi ini juga dipersembahkan untuk mengenang Kiyai Gagot, tokoh sesepuh desa yang disebut memiliki hubungan sejarah dengan babad tanah Jawa bersama Syekh Subakir.
Seluruh Warga Berperan
Tradisi ini melibatkan seluruh warga tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin. Kaum laki-laki lebih banyak bertugas membersihkan lingkungan dan area makam, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan yang akan dibawa dalam bentuk takir.
Setelah doa bersama, seluruh warga berkumpul di jalanan kampung dan makan bersama dengan suasana penuh tawa dan keakraban. Dalam beberapa momen, warga juga saling bertukar takir sebagai simbol persaudaraan.
Tradisi yang Turun-Temurun dan Tetap Lestari
Menurut Amrullah, tokoh pemuda Kampung Gagot, tradisi Takiran memiliki makna spiritual sekaligus sosial yang sangat penting bagi masyarakat.
“Takiran adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus pengingat untuk mulai menata hati dan pikiran menyambut bulan Ramadan dua bulan lagi,” ujarnya.
Amrullah menambahkan, tradisi ini sudah berjalan turun-temurun dan menjadi sarana untuk menjaga hubungan antarwarga agar tetap harmonis.
“Hidangan dalam takir itu nanti dimakan bersama dan sebagian ditukar antarwarga. Di situlah makna kebersamaan dan persaudaraan benar-benar terasa,” katanya.

Lebih dari Sekadar Tradisi
Takiran bukan hanya acara budaya, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Banjarnegara. Nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, gotong royong, dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya membuat tradisi ini tetap bertahan lintas generasi.
Di era modern sekalipun, tradisi ini terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus pengingat bahwa persiapan menyambut Ramadan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga batin.
Tradisi Takiran (Nata Pikir):
- Makna: Nama “Takiran” berasal dari singkatan bahasa Jawa Nata Pikir yang secara harfiah berarti menata pikiran atau mempersiapkan diri. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mulai fokus dan menata hati serta pikiran untuk memasuki bulan-bulan suci, terutama Ramadan.
- Pada kegiatan ini, seluruh warga berkumpul bersama dan membawa makanan dalam wadah yang disebut “takir” (wadah tradisional dari daun pisang). Makanan tersebut biasanya berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kemudian dikumpulkan dalam wadah besar bernama “tenong”.
- Tujuan: Selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan, tradisi ini juga mempererat tali silaturahmi dan semangat gotong royong antar warga.
- Kegiatan ini biasanya diawali dengan bersih desa bersama, seluruh Lorong dan jalan-jalan desa dibersihkan bersama, termasuk melakukan ziarah ke makam sesepuh desa, melakukan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas limpahan rizki serta meminta keberkahan dan keselamatan pada yang maha kuasa.
Tradisi ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Banjarnegara dalam menyelaraskan antara budaya leluhur dengan nilai-nilai keagamaan, menjadikannya momen penting dalam kalender sosial dan spiritual mereka.
Pada tahun ini, tradisi takiran yang biasa dilaksanakan tanggal 27 Jumadil Akhir ini bertepatan dengan Kamis Wage 18 Desember 2025. Moment ini tentu akan menjadi satu jalinan untuk memperkuat serta kebersamaan warga.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







