Berawal dari sekadar coba-coba untuk memanfaatkan stok bahan baku, Asih (46), warga Desa Sidakangen, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, justru berhasil menciptakan peluang bisnis baru. Dia menciptakan inovasi jenang gula aren.
Ibu rumah tangga ini memilih jalan berbeda dengan melawan arus tradisi; ia mengganti gula kelapa yang biasa digunakan pada jenang merah dengan pemanis gula aren yang kini justru membuat produknya banjir pesanan.
Jenang merah umumnya identik dengan rasa manis dari gula kelapa atau gula Jawa. Namun, di Desa Sidakangen, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, seorang warga justru memilih melawan kebiasaan tersebut. Asih (46), warga RT 2 RW 1, berinovasi dengan menghadirkan jenang berbahan pemanis gula aren yang kini kian diminati pasar.
Bermula dari sekadar coba-coba pada tahun 2023, Asih yang dibantu sang suami mulai memproduksi jenang gula aren dalam skala kecil. Tak disangka, olahan tradisional dengan sentuhan berbeda itu justru menarik perhatian banyak pelanggan, meski harga jualnya sedikit lebih mahal dibanding jenang berbahan gula kelapa.
“Awalnya hanya untuk menghabiskan bahan, ternyata responnya bagus. Peminatnya terus bertambah,” ujar Asih saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (16/1/2026).
Harga Jenang Gula Aren
Jenang buatan Asih diproduksi berdasarkan pesanan atau by order, tanpa sistem stok. Seluruh bahan yang digunakan murni, yakni kelapa segar, tepung ketan, dan gula aren pilihan. Karena tanpa bahan pengawet, jenang ini hanya mampu bertahan maksimal satu pekan.
Untuk harga, jenang gula aren standar dibanderol Rp50 ribu per kilogram. Sementara paket spesial dijual Rp65 ribu per kilogram. Perbedaannya terletak pada komposisi kelapa yang lebih banyak, sehingga menghasilkan cita rasa lebih gurih dan tekstur lebih lembut.
“Jenang gula aren rasanya lebih pulen, gurih, tidak asin, dan aromanya lebih kuat,” jelasnya.
Sebelum menekuni usaha jenang, Asih merupakan pedagang kelapa gluntungan atau kelapa utuh. Ketersediaan kelapa muda yang melimpah mendorongnya berkreasi mengolah bahan tersebut menjadi aneka kudapan tradisional, seperti jenang, wajik, hingga gemplong.
Inovasi sederhana dari dapur rumah itu kini tak hanya menambah penghasilan keluarga, tetapi juga memberi warna baru pada kuliner tradisional Banjarnegara, sekaligus membuktikan bahwa warisan rasa bisa terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. “Alhamdulillah, pesanan sudah banyak bahkan hingga luar kecamatan. Rata-rata untuk oleh-oleh. Selain itu, usaha kami menjadi harapan baru perajin gula aren,” katanya.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.






