Tren jogging menuju tempat kerja atau berolahraga sambil bekerja bersama klien dan kolega, tengah berkembang pesat di Cina.
- Rapat Bisnis Sambil Lari Dinilai Lebih Efektif
- Taman Kota Berubah Jadi ‘Kantor Kedua’ Karyawan
- Perusahaan Mulai Pindahkan Agenda Kerja ke Ruang Terbuka
- Dasar Ilmiah di Balik Tren Bersosialisasi Sambil Jogging
- Popularitas Lari Jarak Jauh Dorong Tren Kerja Sambil Olahraga
- Ketika Jogging Jadi Kewajiban dan Menimbulkan Tekanan Kerja
- Polemik Lowongan Kerja dan Pemecatan karena Lari Pagi
Fenomena ini muncul seiring perubahan pola kerja yang semakin fleksibel dan tidak lagi terikat ruang kantor.
Bagi sebagian pekerja profesional, aktivitas lari kini bukan hanya soal menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi medium membangun relasi bisnis dan memperkuat budaya perusahaan.
Di berbagai kota besar Tiongkok, karyawan semakin terbiasa bekerja secara mobile. Mereka dapat terhubung dengan klien dan rekan kerja di mana pun berada, termasuk di ruang terbuka seperti taman kota.
Media sosial di Cina daratan pun dipenuhi cerita dan unggahan yang menggambarkan lari pagi sebagai bagian dari rutinitas kerja harian.
Rapat Bisnis Sambil Lari Dinilai Lebih Efektif
Konsep “berlari sambil berbisnis” mulai dikenal luas melalui pengalaman para pekerja urban. Seorang perempuan di Beijing, misalnya, mengaku pertama kali menjalani pertemuan kerja sambil jogging sekitar dua tahun lalu. Ia diajak kliennya untuk lari pagi pukul 7.00 sebagai pengganti pertemuan formal di kantor.
Menurut perempuan bermarga Peng tersebut, kliennya dikenal cukup menuntut. Namun, suasana pertemuan di luar ruangan justru membuat komunikasi terasa lebih ringan dan terbuka.
Ia menilai diskusi berjalan lebih lancar tanpa tekanan formalitas, bahkan menyebutnya sebagai pertemuan terbaik yang pernah ia lakukan dengan seorang klien.
Taman Kota Berubah Jadi ‘Kantor Kedua’ Karyawan
Majalah Esquire Cina mencatat bahwa tren jogging untuk bekerja semakin meluas di Beijing, khususnya di kalangan pekerja kelas menengah.
Sejumlah ruang terbuka hijau, seperti Taman Chaoyang dan Taman Hutan Olimpiade, kini berfungsi ganda sebagai lokasi olahraga sekaligus tempat bertukar ide dan berdiskusi soal pekerjaan.
Di area-area tersebut, pemandangan profesional berlari sambil berbincang tentang proyek atau strategi bisnis menjadi hal yang lumrah.
Aktivitas ini mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap lingkungan kerja yang tidak lagi harus terikat pada meja dan kursi kantor.
Perusahaan Mulai Pindahkan Agenda Kerja ke Ruang Terbuka
Tidak hanya individu, sejumlah perusahaan juga mulai mengadopsi tren ini secara struktural. Sebuah perusahaan jaringan multi-saluran yang bergerak di bidang olahraga bahkan memindahkan sebagian rapat pagi mereka ke Olympic Forest Park.
Pendiri perusahaan tersebut, yang dikenal sebagai Neil, menyebut pendekatan ini sebagai solusi “sekali dayung dua pulau terlampaui”.
Dengan konsep tersebut, karyawan dapat melayani klien yang menyukai olahraga sekaligus menjaga kebugaran tubuh di jam kerja. Neil menilai interaksi yang terbangun saat berlari cenderung lebih alami dan memperkuat hubungan profesional.
Dasar Ilmiah di Balik Tren Bersosialisasi Sambil Jogging
Sejumlah pendapat di ruang daring menyebutkan bahwa bersosialisasi sambil berlari memiliki dasar ilmiah. Aktivitas fisik diketahui dapat meningkatkan produksi dopamin, hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan keterbukaan emosional.
Kondisi ini diyakini mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih positif dibandingkan pertemuan formal di ruang tertutup.
Karena itu, tidak sedikit pelaku bisnis yang menilai jogging bersama klien dapat membantu membangun kepercayaan dan kedekatan secara lebih efektif.
Popularitas Lari Jarak Jauh Dorong Tren Kerja Sambil Olahraga
Perkembangan tren ini tidak terlepas dari booming acara lari jarak jauh di Cina. Sepanjang 2024, tercatat 749 ajang lari digelar dengan total peserta sekitar 7 juta orang.
Jumlah tersebut meningkat lebih dari satu juta peserta dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga lari.
Maraton kini juga dipandang sebagai simbol gaya hidup kelas menengah Tiongkok. Biaya rata-rata untuk mengikuti maraton pada 2024 mencapai 13.444 yuan per orang, belum termasuk pengeluaran tambahan bagi peserta yang menggabungkan lomba dengan kegiatan wisata.
Ketika Jogging Jadi Kewajiban dan Menimbulkan Tekanan Kerja
Di balik citra positifnya, tren jogging untuk bekerja juga memunculkan kritik. Ketika perusahaan menjadikan lari sebagai kewajiban, tidak semua karyawan merasa nyaman.
Sebagaimana diberitakan Media Congluan, Seorang perempuan di Hangzhou mengungkapkan bahwa perusahaannya mewajibkan lari pagi setiap hari pukul 7.00 di sekitar Danau Barat.
Para karyawan harus menanggung biaya transportasi sendiri dan diwajibkan memenuhi standar kecepatan tertentu.
Mereka yang gagal memenuhi target kerap mendapat kritik terbuka dari atasan, sehingga olahraga yang seharusnya menyehatkan justru menjadi sumber tekanan.
Polemik Lowongan Kerja dan Pemecatan karena Lari Pagi
Kasus ekstrem terkait tren ini juga muncul di media sosial. Pada 2023, seorang pengguna melaporkan adanya lowongan kerja yang mensyaratkan pelamar mengikuti lari pagi hingga 20 kali dalam sebulan.
Sementara pada 2024, seorang lulusan baru mengaku dipecat karena menolak mengikuti lari pagi sejauh 10 kilometer setiap akhir pekan.
Fenomena tersebut memicu perdebatan soal batas antara budaya kerja sehat dan pemaksaan aktivitas fisik. Para pengamat menilai bahwa tren jogging untuk bekerja perlu diterapkan secara fleksibel agar tidak menimbulkan diskriminasi bagi karyawan dengan kondisi fisik atau minat yang berbeda.






