Investasi Jateng 2025, Industri Padat Modal Mulai Menyalip Alas Kaki

Nestya Zahra
Realisasi investasi Jawa Tengah 2025 mencapai Rp88,5 triliun atau 113 persen dari target. (dok.Pemprov Jateng)

KINERJA penanaman modal di Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2025 mencatatkan hasil impresif. Realisasi investasi Jateng mencapai Rp88,50 triliun, atau 112,98 persen dari target Rp78,33 triliun.

Menariknya, tren investasi di Jawa Tengah mulai menunjukkan pergeseran. Sektor industri padat modal (capital intensive) kini mulai mengejar capaian investasi industri alas kaki, yang selama ini identik sebagai sektor unggulan padat karya di provinsi ini.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyebut bahwa Jawa Tengah tak lagi hanya dilirik industri padat karya, tetapi juga sektor-sektor bernilai investasi besar.

“Ada realisasi investasi yang signifikan di sektor padat modal, mulai dari fiber optik, alat kesehatan, industri karet dan plastik, hingga baterai,” ujar Sakina.

Sebagai contoh, pembangunan pabrik anoda baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal mencatatkan nilai investasi Rp1,5 triliun. Selain itu, industri ban di Jatengland Demak juga masuk dengan investasi Rp1,08 triliun.

Baca juga  Rute Internasional Dibuka, Investor Asing Kian Mudah Masuk Jawa Tengah

Pemprov Jateng Buka Karpet Merah untuk Investor

Menanggapi tren tersebut, Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya membuka peluang luas bagi investor, baik di sektor padat modal maupun padat karya.

Pemerintah memastikan pelayanan perizinan dan fasilitasi investasi berjalan optimal agar keduanya dapat tumbuh seiring.

“Kami ingin investasi padat modal yang mendongkrak nilai investasi jateng dan padat karya yang menyerap tenaga kerja bisa berjalan beriringan. Ekosistem industri alas kaki di Jawa Tengah tetap kami jaga,” katanya.

Investasi Jateng Masih Didominasi PMA, Serap 418 Ribu Tenaga Kerja

Sakina memaparkan, realisasi investasi Jateng tahun 2025 terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun, dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun.

Total realisasi tersebut berasal dari 105.078 proyek, dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia mencapai 418.138 orang. Dari jumlah tersebut alas kaki masih teratas, disusul mesin dan elektronik.

Lima besar sektor penyumbang investasi Jawa Tengah 2025 meliputi:

  1. Industri barang dari kulit dan alas kaki – Rp11,37 triliun
  2. Industri mesin, elektronik, alat kesehatan, dan peralatan presisi – Rp9,70 triliun
  3. Industri karet dan plastik – Rp8,96 triliun
  4. Industri tekstil – Rp7,97 triliun
  5. Perumahan, kawasan industri, dan perkantoran – Rp7,47 triliun
Baca juga  Air Bersih Boyolali Jadi Rebutan Investor China, Wagub Jateng Angkat Bicara

Dari sisi wilayah, Kabupaten Kendal menjadi lokasi favorit penanaman modal dengan nilai Rp15,86 triliun, disusul Kota Semarang (Rp11,15 triliun), Kabupaten Demak (Rp9,06 triliun), Kabupaten Batang (Rp6,73 triliun), dan Kabupaten Semarang (Rp4,38 triliun).

Sementara itu, investor asal Hong Kong masih menempati posisi teratas penanam modal di Jawa Tengah, diikuti Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, dan Samoa Barat.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.