Taj Yasin Apresiasi Gerakan Distribusi Mushaf dan Bantuan Pangan Pesantren
WAKIL Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan dukungannya terhadap peluncuran program AGUS (Gerakan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri) yang digagas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Program tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas santri, tidak hanya dari sisi pendidikan keagamaan tetapi juga kesehatan dan pemenuhan gizi. Hal itu disampaikan Taj Yasin saat menghadiri peluncuran program AGUS di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Semarang, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, program AGUS yang memadukan penguatan literasi Al-Qur’an dan dukungan gizi tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.
“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat mengapresiasi PBNU dan seluruh jaringan Nahdlatul Ulama yang mendorong dua hal penting sekaligus, yakni penguatan pembelajaran Al-Qur’an melalui distribusi mushaf serta dukungan makanan bergizi bagi santri,” ujar Taj Yasin.
Program AGUS Salurkan 100 Ribu Mushaf Al-Qur’an dan Bantuan Telur
Program AGUS diluncurkan dengan sejumlah langkah konkret untuk mendukung aktivitas belajar santri di berbagai pesantren.
Salah satunya adalah distribusi sekitar 100 ribu mushaf Al-Qur’an dengan nilai mencapai Rp10 miliar. Selain itu, juga disalurkan bantuan 20 ton telur untuk membantu pemenuhan gizi para santri.
Program ini digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah.
Taj Yasin menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah selama ini juga memiliki perhatian besar terhadap penguatan pendidikan Al-Qur’an.
Sejak 2018, Pemprov Jateng memberikan tali asih kepada para penghafal Al-Qur’an sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi generasi muda untuk semakin mencintai kitab suci tersebut.
“Dengan adanya distribusi mushaf ini, kami berharap semakin banyak santri yang terdorong untuk membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Jutaan Santri Masih Membutuhkan Dukungan
Manajer Program AGUS, Ulun Nuha, menyebut kebutuhan dukungan bagi santri di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, terdapat lebih dari 28 ribu pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dengan sekitar 1,6 juta santri mukim.
Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah santri di lingkungan pesantren di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar lima juta orang. Di sejumlah pesantren, keterbatasan mushaf Al-Qur’an masih menjadi kendala sehingga para santri harus bergantian saat belajar.
Selain itu, berbagai penelitian juga menunjukkan masih adanya persoalan gizi di kalangan santri, terutama santri perempuan.
“Beberapa riset menunjukkan lebih dari 50 persen santri perempuan mengalami kekurangan gizi. Karena itu kami merasa perlu menghadirkan program yang menggabungkan penguatan literasi Al-Qur’an sekaligus pemenuhan kebutuhan gizi,” kata Ulun Nuha.
PBNU Dorong Peran Pesantren dalam Program Gizi Nasional
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, mengatakan program AGUS merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.
PBNU saat ini juga bekerja sama dengan pemerintah dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Menurutnya, hingga kini hampir 200 titik SPPG telah diresmikan, sementara lebih dari 300 titik lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Melalui kolaborasi tersebut diharapkan semakin banyak santri yang mendapatkan akses terhadap makanan bergizi sekaligus fasilitas belajar Al-Qur’an yang memadai.
“Program yang diluncurkan RMI ini merupakan salah satu ikhtiar untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan di lingkungan pondok pesantren,” kata Yahya.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.




