Amerika keluar dari WHO! Negeri Paman Sam ini secara resmi mengakhiri keanggotaannya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 22 Januari 2026.
- Masih Menyisakan Persoalan Keuangan
- Alasan Amerika keluar dari WHO
- Kehilangan Akses Data dan Sistem Peringatan Dini
- Kekhawatiran Pakar Kesehatan Global Karena Amerika keluar dari WHO
- Amerika keluar dari WHO Dinilai Pandangan Sempit dan Berisiko
- AS Hentikan Keterlibatan Teknis di WHO
- Dampak Global Masih Jadi Tanda Tanya
Keputusan yang diambil pemerintahan Presiden Donald Trump ini menandai berakhirnya hubungan AS dengan WHO setelah 78 tahun, sekaligus memicu kekhawatiran luas terkait dampak terhadap kesehatan global.
Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa proses penarikan diri dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah rampung pada Kamis (22/1/2026).
Langkah Amerika keluar dari WHO ini, merupakan tindak lanjut dari pengumuman Presiden Donald Trump yang disampaikan tepat satu tahun sebelumnya, pada hari pertama masa jabatan keduanya, terkait penghentian partisipasi AS dalam lembaga kesehatan global tersebut.
Keputusan ini menutup keterlibatan Amerika Serikat yang telah berlangsung sejak WHO berdiri pada 1948. Selama puluhan tahun, AS dikenal sebagai salah satu pilar utama organisasi, baik dari sisi pendanaan maupun kontribusi sumber daya manusia di bidang kesehatan masyarakat. Namun, penarikan diri ini tidak sepenuhnya berlangsung mulus.
Masih Menyisakan Persoalan Keuangan
WHO menyatakan bahwa hingga saat ini Amerika Serikat masih memiliki tunggakan iuran yang belum diselesaikan.
Total kewajiban tersebut dilaporkan melebihi 130 juta dolar AS, mencakup iuran untuk tahun anggaran 2024 dan 2025.
Meski pemberitahuan penarikan diri telah disampaikan setahun sebelumnya, WHO menegaskan bahwa kewajiban finansial tetap harus dipenuhi sesuai aturan organisasi.
Di sisi lain, pejabat pemerintahan Trump membantah klaim tersebut. Mereka berpendapat bahwa Amerika Serikat tidak lagi memiliki kewajiban pembayaran setelah secara resmi menyelesaikan proses penarikan diri. Perbedaan pandangan ini menambah kompleksitas hubungan AS dan WHO di masa transisi.
Alasan Amerika keluar dari WHO
Pemerintahan Trump menyebut sejumlah alasan utama di balik keputusan keluar dari WHO. Salah satunya adalah tudingan bahwa organisasi tersebut gagal menangani pandemi COVID-19 secara efektif. WHO juga dinilai lamban dalam menerapkan reformasi internal yang dianggap krusial oleh Washington.
Selain itu, Trump menuding WHO tidak mampu menjaga independensi dari pengaruh politik negara-negara anggotanya.
Pemerintah AS juga menyoroti fakta bahwa sepanjang sejarah WHO, belum pernah ada warga negara Amerika Serikat yang terpilih sebagai Direktur Jenderal, meski AS selama ini menjadi donor terbesar dan penyumbang tenaga ahli yang signifikan.
Sebelum penarikan diri, Amerika Serikat menyumbangkan ratusan juta dolar setiap tahun untuk WHO dan menempatkan banyak pakar kesehatan masyarakat dalam berbagai program dan badan teknis organisasi tersebut.
Kehilangan Akses Data dan Sistem Peringatan Dini
Meski pemerintah Trump menilai keputusan ini sebagai langkah strategis, sejumlah pejabat AS mengakui masih ada persoalan penting yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah hilangnya akses terhadap jaringan data kesehatan internasional yang dikelola WHO.
Akses tersebut selama ini menjadi sumber penting bagi sistem peringatan dini Amerika Serikat dalam mendeteksi potensi wabah dan pandemi baru.
Tanpa keterlibatan dalam WHO, AS dikhawatirkan akan kehilangan posisi strategis dalam pemantauan penyakit menular lintas negara.
Kekhawatiran Pakar Kesehatan Global Karena Amerika keluar dari WHO
Langkah Amerika Serikat keluar dari WHO menuai kritik keras dari para pakar kesehatan dan akademisi. Lawrence Gostin, ahli hukum kesehatan masyarakat dari Universitas Georgetown, menyebut keputusan ini sebagai salah satu kebijakan paling merusak dalam sejarah kepresidenan AS.
Menurutnya, Amerika keluar dari WHO akan mendorong negara adidaya ini menjauh dari garis depan respons global terhadap wabah penyakit.
Ia menilai, tanpa jaringan intelijen penyakit yang dimiliki WHO, kemampuan AS dalam merespons pandemi dan mengembangkan vaksin akan melemah secara signifikan.
Kekhawatiran serupa disampaikan Dr. Judd Walson, profesor kesehatan global dari Universitas Johns Hopkins. Ia memperingatkan bahwa dampak kemanusiaan dari keputusan ini bisa sangat besar.
Walson memperkirakan lebih dari 750 ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah berpotensi terjadi dalam setahun akibat berkurangnya kapasitas global dalam penanganan penyakit menular.
Ia menambahkan bahwa Amerika keluar dari WHO memaksa untuk melakukan pengurangan besar-besaran pada berbagai program. Termasuk pengawasan data kesehatan dan rantai pasokan medis di negara-negara berkembang.
Amerika keluar dari WHO Dinilai Pandangan Sempit dan Berisiko
Presiden Perhimpunan Penyakit Menular Amerika, Dr. Ronald Nahass, juga menyampaikan kritik tajam. Ia menyebut langkah pemerintah Trump sebagai keputusan yang berpandangan sempit dan keliru secara ilmiah.
Menurut Nahass, penyakit menular tidak mengenal batas negara. Oleh karena itu, kerja sama internasional bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan biologis yang tidak dapat dihindari. Tanpa koordinasi global, risiko penyebaran penyakit justru semakin besar.
AS Hentikan Keterlibatan Teknis di WHO
Seiring penarikan diri ini, Amerika Serikat telah menghentikan partisipasinya dalam berbagai struktur WHO, mulai dari badan kepemimpinan, komite teknis, hingga kelompok kerja khusus.
Salah satu yang paling disorot dari keputusan Amerika keluar dari WHO ini adalah penghentian keterlibatan AS dalam penilaian tahunan strain influenza, yang menjadi dasar pengembangan vaksin flu global.
Sebagai alternatif, pemerintahan Trump menyatakan akan mendorong kerja sama kesehatan secara bilateral langsung dengan negara-negara lain, tanpa melalui WHO sebagai lembaga perantara. Namun, efektivitas pendekatan ini masih dipertanyakan oleh banyak kalangan.
Dampak Global Masih Jadi Tanda Tanya
Keputusan Amerika Serikat keluar dari WHO menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan tata kelola kesehatan global.
Sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan medis terbesar di dunia, absennya AS berpotensi mengubah keseimbangan pendanaan, pengambilan keputusan, dan respons global terhadap krisis kesehatan.
Di tengah ancaman pandemi baru dan tantangan kesehatan lintas negara yang semakin kompleks, banyak pihak menilai bahwa kerja sama global justru semakin dibutuhkan.
Bagaimana dampak jangka panjang dari keputusan Amerika keluar dari WHO ini, masih akan terus dipantau oleh komunitas internasional.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



