Vaksin Virus Nipah Segera Masuk Uji Klinis di Belgia

Santo
Vaksin terhadap virus Nipah dijadwalkan akan memulai uji klinis di Belgia pada bulan April mendatang. (pexels)

Vaksin Virus Nipah, segera masuk uji klinis di Belgia. Yup, upaya global dalam menghadapi ancaman penyakit menular kembali menunjukkan perkembangan penting.

Vaksin virus Nipah, salah satu patogen zoonosis paling mematikan di dunia, dijadwalkan segera memasuki tahap uji klinis fase pertama di Belgia pada April mendatang.

Langkah ini menjadi tonggak awal dalam perjalanan panjang pengembangan vaksin yang diharapkan mampu menekan risiko wabah virus Nipah di berbagai negara.

Informasi tersebut dilaporkan Kantor Berita Tass pada 31 Januari, mengutip sumber dari Nikkei. Uji klinis ini akan dipimpin oleh Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Tingkat Lanjut Universitas Tokyo, Jepang, yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan vaksin berbasis teknologi virus campak untuk melawan virus Nipah.

Terobosan Vaksin Berbasis Virus Campak

Vaksin virus Nipah yang dikembangkan Universitas Tokyo menggunakan pendekatan inovatif dengan memanfaatkan virus campak yang telah dilemahkan.

Ketika disuntikkan ke dalam tubuh, vaksin virus Nipah ini dirancang untuk merangsang sistem kekebalan agar memproduksi protein yang menyerupai protein virus Nipah.

Mekanisme tersebut diharapkan dapat melatih sistem imun mengenali dan melawan virus Nipah secara lebih efektif apabila terjadi paparan di kemudian hari.

Baca juga  Tiket Kereta Lebaran 2026 Kapan Mulai Dijual? Ini Jawaban KAI

Pendekatan berbasis virus campak bukanlah hal baru dalam dunia imunologi, namun penerapannya pada virus Nipah dinilai sebagai terobosan penting.

Para peneliti meyakini strategi ini dapat memberikan respons imun yang kuat sekaligus relatif aman, mengingat platform vaksin campak telah lama digunakan dan dipelajari secara luas.

Hasil Uji Praklinis Dinilai Menjanjikan

Sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia, vaksin virus Nipah ini telah melalui serangkaian uji praklinis pada hewan. Universitas Tokyo menyatakan bahwa efektivitas dan keamanan vaksin telah dikonfirmasi melalui pengujian pada hamster serta beberapa jenis hewan lainnya.

Dalam uji praklinis tersebut, vaksin mampu memicu respons kekebalan yang signifikan tanpa menimbulkan efek samping serius.

Hasil ini menjadi dasar kuat bagi para peneliti untuk melangkah ke tahap berikutnya, yakni pengujian pada manusia melalui uji klinis fase pertama di Belgia.

Tahapan Uji Klinis dan Rencana Lanjutan

Uji klinis fase pertama di Belgia akan berfokus pada evaluasi keamanan vaksin pada relawan dewasa sehat. Tahap ini bertujuan memastikan bahwa vaksin dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh manusia sebelum efektivitasnya diuji lebih lanjut.

Apabila fase awal ini berjalan sukses, tim peneliti berencana melanjutkan uji klinis ke tahap berikutnya di Bangladesh pada paruh kedua tahun 2027.

Uji lanjutan tersebut akan melibatkan orang dewasa dan anak-anak, dengan fokus pada penilaian keamanan serta efektivitas vaksin dalam populasi yang lebih luas dan berisiko tinggi terhadap paparan virus Nipah.

Baca juga  Anak di Bawah 16 Tahun Terancam Dilarang Akses Media Sosial

Ancaman Virus Nipah yang Masih Nyata

Virus Nipah dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan kelelawar buah, yang merupakan reservoir alami virus ini.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak langsung dengan penderita.

Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis akut dan gangguan pernapasan serius. Dalam sejumlah wabah, tingkat kematian dilaporkan mencapai hingga 80 persen, menjadikan virus ini sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus Nipah, sehingga pencegahan dan deteksi dini menjadi andalan utama.

Sejarah Wabah dan Situasi Terkini

Sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998, virus Nipah telah menginfeksi sekitar 1.000 orang di berbagai negara. Wabah tercatat terjadi hampir setiap tahun di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk India dan Bangladesh, dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit.

Pada Januari lalu, dua kasus infeksi virus Nipah dilaporkan di negara bagian Benggala Barat, India. Kedua pasien dilaporkan masih hidup dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut memantau perkembangan kasus tersebut dan memastikan bahwa tidak ada penularan lanjutan.

WHO menyatakan bahwa dari sekitar 190 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien, tidak satu pun menunjukkan gejala dan seluruhnya dinyatakan negatif.

Baca juga  Amerika Keluar dari WHO, Dunia Terancam Krisis Kesehatan?

Berdasarkan evaluasi saat ini, WHO menilai risiko penyebaran virus Nipah di tingkat nasional, regional, maupun global masih tergolong rendah.

Kewaspadaan Global Terus Ditingkatkan

vaksin virus nipah
Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Pakistan telah menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara sebagai langkah preventif untuk mencegah masuknya virus Nipah dari luar negeri. (tuoitre)

Meski risiko penyebaran dinilai rendah, sejumlah negara tetap meningkatkan langkah kewaspadaan. Reuters melaporkan bahwa Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Pakistan telah menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara sebagai langkah preventif untuk mencegah masuknya virus Nipah dari luar negeri.

Langkah ini mencerminkan keseriusan negara-negara di kawasan Asia dalam mengantisipasi potensi wabah, mengingat mobilitas manusia yang tinggi dapat mempercepat penyebaran penyakit menular lintas negara.

Harapan Besar dari Pengembangan Vaksin Virus Nipah

Masuknya vaksin virus Nipah ke tahap uji klinis memberikan harapan baru bagi dunia medis dan kesehatan masyarakat global.

Jika pengembangan ini berhasil hingga tahap akhir, vaksin virus Nipah berpotensi menjadi alat penting dalam mencegah wabah di wilayah endemis serta melindungi populasi berisiko tinggi.

Para ahli menilai keberhasilan vaksin virus Nipah tidak hanya akan berdampak pada pengendalian satu penyakit, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan global dalam menghadapi ancaman zoonosis di masa depan.

Dengan kolaborasi lintas negara dan lembaga internasional, pengembangan vaksin ini diharapkan dapat berjalan lancar hingga akhirnya tersedia untuk digunakan secara luas.

 

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.