Isu Super Flu kembali ramai diperbincangkan masyarakat sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Pemberitaan mengenai lonjakan kasus influenza di sejumlah negara, termasuk laporan pasien yang harus menjalani perawatan intensif bahkan meninggal dunia, memicu kekhawatiran publik.
- Apa Itu Influenza A H3N2 Subclade K?
- Efektivitas Vaksin Influenza Masih Terbukti
- Situasi Super Flu di Indonesia: Masih Terkendali
- Gambaran Super Flu di Dunia Internasional
- Mengapa Lonjakan Kasus Influenza Terjadi?
- Dinkes Banjarnegara: Warga Diminta Tidak Panik
- Langkah Pencegahan Super Flu yang Perlu Diterapkan
- Tips Liburan Aman di Tengah Isu Super Flu
- Waspada Tanpa Panik
Di media sosial, istilah Super Flu kerap dikaitkan dengan virus yang disebut-sebut lebih berbahaya dari flu musiman biasa.
Namun, para pakar kesehatan menegaskan bahwa istilah Super Flu tidak merujuk pada virus baru yang lebih mematikan.
Sebutan tersebut lebih menggambarkan tingginya tingkat penularan influenza pada musim ini. Virus yang dimaksud adalah Influenza A H3N2 Subclade K, yang dalam terminologi ilmiah juga dikenal sebagai J.2.4.1.
Apa Itu Influenza A H3N2 Subclade K?
Influenza A H3N2 Subclade K merupakan cabang genetik baru dari virus influenza yang sudah lama dikenal.
Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Dalam waktu relatif singkat, Subclade K menjadi varian dominan H3N2 di berbagai negara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa dalam kurun sekitar lima bulan sejak kemunculannya, Subclade K telah terdeteksi di lebih dari 34 negara.
Di Amerika Serikat, sekitar 90 persen virus H3N2 yang dianalisis sejak September 2025 termasuk dalam Subclade K.
Meski penyebarannya cepat, data epidemiologi global tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan penyakit dibandingkan varian H3N2 sebelumnya.

Dosen ahli Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dr. Nia Krisniawati, Sp.MK, menegaskan bahwa kemunculan Subclade K merupakan bagian dari evolusi alami virus influenza.
Menurutnya, perubahan genetik seperti ini rutin terjadi hampir setiap tahun dan tidak otomatis membuat virus menjadi lebih ganas.
Efektivitas Vaksin Influenza Masih Terbukti
Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat adalah apakah vaksin influenza masih efektif menghadapi Subclade K.
Berdasarkan studi awal di Inggris, vaksin influenza musim 2025–2026 masih memberikan perlindungan yang bermakna, terutama terhadap penyakit berat dan rawat inap.
Pada kelompok anak, vaksin terbukti mampu mencegah kunjungan gawat darurat dan rawat inap akibat influenza hingga 72–75 persen.
Sementara itu, pada kelompok dewasa, efektivitas pencegahan rawat inap berada di kisaran 32–39 persen. Meski secara antigenik vaksin mungkin tidak sepenuhnya cocok, manfaatnya tetap signifikan dalam menekan risiko komplikasi serius.
Situasi Super Flu di Indonesia: Masih Terkendali
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memastikan bahwa kondisi Influenza A H3N2 Subclade K di dalam negeri masih terkendali.
Deteksi varian ini dilakukan melalui sistem surveilans Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infections (SARI) sejak Agustus 2025.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus Subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Data tersebut berasal dari pemeriksaan 843 spesimen positif influenza, dengan 348 sampel di antaranya menjalani pemeriksaan whole genome sequencing (WGS).
Kemenkes menegaskan tidak ada peningkatan keparahan klinis pada kasus-kasus tersebut. Gejala yang muncul umumnya sama dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Mayoritas pasien mengalami gejala ringan dan dapat pulih dengan perawatan standar.
Gambaran Super Flu di Dunia Internasional
Secara global, CDC memperkirakan musim influenza 2025–2026 di Amerika Serikat mencatat sekitar 11 juta kasus, dengan 120.000 rawat inap dan sekitar 5.000 kematian.
Hampir seluruh virus H3N2 yang beredar berasal dari Subclade K, namun tidak ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit lebih berat.
Di Inggris, Jepang, dan beberapa negara Eropa, musim flu dimulai sekitar empat hingga lima minggu lebih awal dari biasanya. Meski demikian, tren kasus mulai menunjukkan penurunan.
Australia mencatat musim flu yang lebih panjang, dengan Subclade K menjadi dominan menjelang akhir musim. Para ahli menegaskan bahwa awal musim yang lebih cepat tidak selalu berarti tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Mengapa Lonjakan Kasus Influenza Terjadi?
Pakar kesehatan menilai lonjakan kasus influenza lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan perubahan sifat virus. Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas masyarakat pascapandemi Covid-19, serta rendahnya cakupan vaksinasi menjadi faktor utama.
Di Amerika Serikat, misalnya, hingga awal Desember 2025 cakupan vaksin influenza pada orang dewasa baru mencapai sekitar 41,9 persen.
Padahal, musim influenza yang didominasi H3N2 diketahui cenderung lebih berdampak pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Rendahnya vaksinasi pada kelompok ini berpotensi memperbesar dampak kesehatan masyarakat.
Dinkes Banjarnegara: Warga Diminta Tidak Panik
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Banjarnegara meminta masyarakat untuk tidak panik. Kepala DKK Banjarnegara, dr. Latifa Hesti Purwaningtyas, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus Super Flu di wilayahnya.
Menurutnya, kunci utama menghadapi ancaman influenza bukanlah rasa takut berlebihan, melainkan kewaspadaan yang rasional. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng utama pencegahan.
Langkah Pencegahan Super Flu yang Perlu Diterapkan
Berbagai lembaga kesehatan seperti WHO, CDC, dan Kemenkes RI sepakat bahwa vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyakit berat dan kematian.
Selain vaksinasi, masyarakat diimbau untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat mengalami gejala flu atau berada di tempat ramai.
Menjaga daya tahan tubuh juga menjadi faktor penting. Konsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, dan istirahat cukup terbukti membantu meningkatkan imunitas.
Bagi individu berisiko tinggi yang terpapar influenza, obat antivirus seperti oseltamivir dan zanamivir masih efektif digunakan.
Tips Liburan Aman di Tengah Isu Super Flu
Di tengah mobilitas tinggi dan keramaian tempat wisata, risiko penularan influenza perlu diantisipasi. Wisatawan disarankan menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker di area padat, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
Perencanaan perjalanan yang bijak dan tidak terlalu melelahkan juga membantu menjaga kondisi tubuh tetap prima selama liburan.
Waspada Tanpa Panik
Dr. Nia Krisniawati, yang juga anggota Tim Penelitian dan Pengembangan Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), menegaskan bahwa istilah Super Flu lebih menggambarkan tingginya penularan, bukan peningkatan keganasan virus. Subclade K merupakan bagian dari dinamika alami virus influenza yang terus berevolusi.
Dengan informasi yang akurat, vaksinasi yang optimal, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, masyarakat diharapkan dapat menyikapi isu Super Flu secara rasional tanpa kepanikan berlebihan.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.







