Kolaborasi Jateng–Jepang Naik Kelas: Tenaga Kerja Lokal Disiapkan Jadi Head Manager Perusahaan

Nestya Zahra
Wakil Gubernur Jateng jalin kerjasama dengan Jepang untuk peningkatan tenaga kerja lokal. (dok.Pemprov Jateng)

KERJA SAMA strategis antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jepang mengalami peningkatan signifikan. Kolaborasi yang sebelumnya berfokus pada penempatan tenaga kerja kini bertransformasi menuju pengembangan sumber daya manusia (SDM) berlevel global.

Tak hanya bekerja sebagai operator, tenaga kerja asal Jawa Tengah kini diproyeksikan menduduki posisi strategis seperti head manager di perusahaan-perusahaan Jepang.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, usai menerima kunjungan kehormatan Gubernur Prefektur Kagawa, Jepang, Ikeda Toyohito, dalam pertemuan yang membahas penguatan kerja sama ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, dan peningkatan investasi Jepang di Jawa Tengah.

SDM Jateng Dipercaya Duduki Posisi Manajerial

Menurut Taj Yasin, Pemerintah Prefektur Kagawa secara terbuka menyampaikan ketertarikannya terhadap kualitas SDM Jawa Tengah. Bahkan, Jepang berharap tenaga kerja dari Jateng tidak hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu, tetapi dipersiapkan secara serius untuk menduduki posisi manajerial.

“Mereka berharap tenaga kerja dari Jawa Tengah tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga dilatih dan disiapkan menjadi head manager di perusahaan Jepang,” ujar Taj Yasin.

Baca juga  Berpeluang Jadi Pusat Investasi Baru, Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Peran Strategis Ginsi

Kepercayaan ini menjadi bukti bahwa kualitas, disiplin, dan etos kerja SDM Jawa Tengah semakin diakui di tingkat internasional.

Jawa Tengah memiliki modal besar untuk memenuhi kebutuhan industri Jepang. Setiap tahun, provinsi ini melahirkan sekitar 245 ribu lulusan SMK dari berbagai bidang strategis, mulai dari manufaktur, otomotif, konstruksi, pertanian modern, pariwisata, hingga layanan keperawatan lansia.

Pemprov Jateng terus melakukan standarisasi kompetensi, sertifikasi, serta penyelarasan kurikulum vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri global, khususnya Jepang.

Data penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menunjukkan tren positif. Pada 2024, PMI asal Jawa Tengah yang bekerja di Jepang tercatat sebanyak 3.760 orang.

Angka tersebut melonjak tajam pada 2025 menjadi 5.712 orang, atau meningkat sekitar 52 persen. Kenaikan ini menjadikan Jepang sebagai salah satu negara tujuan utama PMI asal Jawa Tengah.

Pemprov Jateng Dorong Investasi Jepang Masuk Daerah

Selain penempatan tenaga kerja, Pemprov Jawa Tengah juga mendorong agar industri Jepang semakin banyak menanamkan investasi di wilayahnya. Strategi ini dinilai penting agar masyarakat tidak harus selalu bekerja ke luar negeri, melainkan dapat memperoleh lapangan kerja di daerah sendiri.

Baca juga  Polres Kebumen Sisir Titik Strategis Jelang Libur Nataru

“Kami berharap industri Jepang semakin banyak masuk ke Jawa Tengah. Kami siap memberikan dukungan penuh berupa kemudahan investasi,” katanya.

Pemprov Jateng telah menerapkan sistem perizinan Online Single Submission (OSS) berbasis risiko, disertai berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, hingga pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku industri manufaktur.

Kinerja investasi Jawa Tengah menunjukkan tren yang sangat positif. Realisasi investasi meningkat dari Rp52,71 triliun pada 2021 menjadi Rp88,57 triliun pada 2025, sekaligus melampaui target yang ditetapkan.

Jepang menjadi salah satu investor utama dengan total investasi mencapai Rp24,216 triliun sepanjang 2021–2025, menempatkannya di peringkat ketiga investor terbesar di Jawa Tengah.

Investasi Jepang tersebar di berbagai daerah strategis seperti Jepara, Batang, Kota Semarang, Pemalang, dan Kendal, dengan dominasi sektor listrik, gas dan air, tekstil, kendaraan bermotor, mesin, serta elektronik.

Jepang Apresiasi Kontribusi Tenaga Kerja Jateng

Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi tenaga kerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, yang jumlahnya mencapai sekitar 4.000 orang dan bekerja di berbagai sektor industri di wilayah Kagawa.

Baca juga  Libur Nataru, 8,6 Juta Orang Serbu Jawa Tengah

“Saya sangat berterima kasih atas kontribusi tenaga kerja Indonesia di Kagawa. Mereka bekerja dengan baik dan menjadi bagian penting perekonomian daerah kami,” ujarnya.

Pemerintah Prefektur Kagawa juga berkomitmen menjamin keamanan dan kenyamanan tenaga kerja Indonesia, termasuk melalui dukungan pendidikan bahasa Jepang sebelum keberangkatan.

Pendidikan Bahasa Jepang Jadi Kunci

Dari sisi pendidikan, Pemprov Jawa Tengah mulai menyiapkan langkah konkret untuk menangkap peluang kerja sama ini. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Syamsudin Isnaeni, menyebut penguasaan bahasa Jepang menjadi kunci utama.

Pelatihan bahasa Jepang akan difokuskan pada siswa SMA dan SMK yang memang memiliki minat dan kesiapan bekerja di Jepang. Program ini akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat melalui program Go Global, dengan proses seleksi dan pendampingan orang tua yang ketat.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!