WILAYAH Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, menyimpan kekayaan sejarah yang melampaui bangunan-bangunan era kolonial. Selain pabrik gula dan stasiun peninggalan Belanda, kawasan ini juga memiliki situs sejarah masa Kerajaan Islam, yang menjadikannya layak diusulkan sebagai kawasan cagar budaya.
Potensi tersebut terungkap dalam kajian lapangan yang dilakukan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Sabtu (31/1/2026).
Makam Wargo Hutomo Jadi Bukti Sejarah Wirasaba dan Banyumas Raya
Salah satu situs utama yang dikaji adalah makam Wargo Hutomo, adipati terakhir Wirasaba sebelum wilayah tersebut dibagi menjadi empat. Wargo Hutomo dikenal sebagai leluhur masyarakat Banyumas Raya, sehingga keberadaan makam ini memiliki nilai historis dan kultural yang sangat tinggi.
Bahkan, jalur keturunan Presiden Prabowo Subianto disebut berasal dari trah Joko Kaiman, yang berkaitan erat dengan sejarah Wirasaba. Saat ini, makam Wargo Hutomo juga telah berkembang sebagai destinasi wisata religi, dengan peziarah yang datang hampir setiap hari.
Dari Kantor Pos hingga Makam Belanda, Warisan Lintas Zaman di Klampok
Selain makam Wargo Hutomo, TACB Banjarnegara juga mengkaji sejumlah objek bersejarah lainnya, di antaranya:
- Kantor Pos Klampok
- Kantor Kecamatan Purwareja Klampok
- Polsek Klampok
- Makam Belanda
Keberagaman objek tersebut mencerminkan lintasan sejarah dari masa Islam, kolonial Belanda, hingga era pemerintahan modern. Seluruh objek rencananya akan diajukan kepada Bupati Banjarnegara untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.
Desa Harap Cagar Budaya Dongkrak Ekonomi Masyarakat
Kepala Desa Klampok, Agus Supriyono, berharap penetapan kawasan cagar budaya dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.
“Kami berharap sektor pariwisata dan kebudayaan dapat menjadi nilai tambah ekonomi, sehingga kesejahteraan masyarakat Klampok semakin meningkat,” ujarnya.
TACB Dorong Dukungan Provinsi dan Pusat untuk Revitalisasi
Ketua TACB Banjarnegara, Heni Purwono, menyampaikan bahwa Klampok sangat layak ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya karena memiliki situs yang mewakili berbagai identitas zaman.
“Tentu dibutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat, karena revitalisasi memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Namun jika dikelola dengan baik, potensi pendapatan bagi masyarakat akan sangat besar,” katanya.
Bangunan Bersejarah Butuh Perhatian Anggaran
Sementara itu, Kepala Kantor Pos Klampok, Agus Sugiyono, berharap ada perhatian anggaran dari pemerintah untuk perawatan bangunan bersejarah yang saat ini masih difungsikan.
“Minimal ada dana untuk memperbaiki atap yang bocor agar rangka atap tidak rusak. Kondisinya sekarang sangat rawan,” katanya.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.



