Tertawa di siang hari namun merasa hampa saat malam tiba kini menjadi “penyakit” tersembunyi masyarakat modern. Meski pencapaian dipamerkan dan kesuksesan diraih, rasa sepi yang bergema di dalam hati seringkali sulit dijelaskan, seolah ada potongan puzzle yang hilang dari jiwa.
Kesadaran datang sepenuhnya, tetapi peluang untuk memperbaiki telah lenyap. Inilah penderitaan batin yang tidak bisa diobati, tidak bisa ditebus, dan tidak bisa dilampiaskan dengan apa pun.
Allah menggambarkan keadaan ini dengan peringatan yang sangat memilukan ketika Dia berfirman, “Berilah peringatan kepada manusia tentang Hari Penyesalan, ketika segala perkara telah diputuskan, sedang mereka dahulu lalai dan tidak beriman.” (QS. Maryam: 39).
Kata al-hasrah yang digunakan Al-Qur’an menggambarkan penyesalan yang sangat dalam, hingga dada terasa seperti terkoyak, tetapi sama sekali tidak mampu mengubah keputusan Allah. Inilah penyesalan total, penyesalan yang datang ketika semuanya sudah selesai.
Penyesalan itu selalu datang terlambat. Manusia tidak menyesal karena tidak tahu, melainkan karena menunda saat masih tahu. Tidak ada satu pun manusia di akhirat yang berkata bahwa dirinya tidak pernah diperingatkan. Masalahnya bukan kekurangan dalil, melainkan kebiasaan menunda taubat, merasa aman dari murka Allah, dan terlalu yakin bahwa waktu masih panjang.
Padahal ketika kematian datang, barulah kesadaran itu memuncak, sebagaimana firman Allah, “Hingga ketika kematian datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikan aku.’” (QS. Al-Mu’minun: 99). Permohonan ini keluar dari hampir setiap jiwa, baik yang kafir maupun yang beriman tetapi lalai.
Permintaan itu sebenarnya sangat sederhana. Manusia tidak meminta kekayaan, tidak memohon umur panjang, dan tidak berharap kemewahan dunia. Yang diminta hanyalah satu kesempatan untuk beramal saleh terhadap apa yang telah ditinggalkan, sebagaimana kelanjutan ayat tersebut. Namun Allah menjawab permintaan itu dengan satu kata yang mematikan harapan: kallā—sekali-kali tidak. Para mufassir menjelaskan bahwa kata ini adalah penolakan mutlak, tanpa peluang kembali dan tanpa pengecualian. Saat itu, pintu telah tertutup selamanya.
Yang sering tidak disadari, penyesalan bukan hanya milik orang-orang durhaka. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap orang yang meninggal dunia pasti menyesal. Jika ia orang saleh, ia menyesal karena merasa tidak menambah kebaikannya; jika ia orang buruk, ia menyesal karena tidak berhenti dari keburukannya. Ini menunjukkan bahwa orang saleh menyesal karena merasa kurang maksimal, sementara orang durhaka menyesal karena menyia-nyiakan hidupnya. Maka keselamatan bukan terletak pada pengakuan setelah mati, tetapi pada amal sebelum mati.
Penyesalan yang paling pedih di akhirat adalah penyesalan orang yang sebenarnya tahu kebenaran, tetapi tidak mau berubah. Mereka berkata, “Wahai penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah.” (QS. Az-Zumar: 56). Penyesalan ini bukan karena tidak kaya, tidak terkenal, atau tidak berpendidikan, melainkan karena menyia-nyiakan hubungan dengan Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan orang-orang yang telah mengetahui jalan kebenaran, namun memilih lalai dan menunda taubat hingga semuanya terlambat.
Penyesalan menjadi lebih menyiksa daripada api neraka karena ia datang bersama kesadaran penuh bahwa keselamatan dahulu sebenarnya sangat mungkin diraih. Api membakar jasad, tetapi penyesalan membakar jiwa.
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata bahwa tangisan penghuni neraka bukan hanya karena panasnya api, melainkan karena mereka tahu bahwa dulu mereka bisa selamat, seandainya tidak menunda dan meremehkan peringatan Allah.
Kesalahan terbesar manusia di dunia bukanlah berbuat dosa, karena semua manusia pasti berdosa. Kesalahan terbesar adalah meremehkan dosa kecil, menunda taubat, dan merasa aman dari murka Allah. Rasulullah SAW memperingatkan agar menjauhi dosa-dosa kecil, karena dosa itu akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya. Di akhirat, dosa kecil yang dahulu diremehkan menjelma menjadi gunung penyesalan yang tak sanggup dipikul.
Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa di akhir zaman akan datang suatu masa ketika seseorang melewati kuburan lalu berkata, “Seandainya aku berada di tempatnya.” Ucapan ini bukan karena ingin mati, tetapi karena beratnya hidup tanpa iman. Penyesalan semacam ini sebenarnya adalah peringatan dari Allah sebelum kematian, agar manusia segera kembali sebelum pintu taubat tertutup.
Sesungguhnya hanya ada satu penyesalan yang masih berguna, yaitu penyesalan yang terjadi sebelum ruh sampai di tenggorokan. Selama nyawa belum dicabut, Allah masih membuka pintu taubat. Air mata masih bernilai, perubahan masih dicatat, dan taubat masih diterima, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.
Setiap penyesalan di akhirat bermula dari satu kalimat sederhana di dunia: “nanti saja”. Padahal Allah telah memberi kita hari ini sebagai kesempatan. Ibnul Qayyim رحمه الله mengingatkan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian memutus seseorang dari dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutus dirinya dari Allah. Karena itu, jangan menunggu penyesalan setelah terlambat, dan jadikan hidup ini sebagai jawaban sebelum datang pertanyaan.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.



