Penyesalan Abadi! Inilah Tangisan yang Tak Lagi Berguna di Akhirat: Simak Penjelasan dan Ciri-cirinya

Bahron Ansori
Di dunia, air mata seringkali dianggap sebagai senjata pamungkas sekaligus tanda ketulusan seseorang dalam memohon ampunan.(Dok)

Di dunia, air mata seringkali dianggap sebagai senjata pamungkas sekaligus tanda ketulusan seseorang dalam memohon ampunan. Namun, tahukah Anda bahwa ada tangisan yang justru tidak akan pernah didengar lagi?

Bukan di dunia, melainkan di kehidupan akhirat kelak, di mana linangan air mata tak lagi mampu menghapus dosa ataupun mengubah keputusan Yang Maha Kuasa. Meski di dunia tangisan dianggap sebagai simbol kembalinya hati kepada kebenaran, ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat air mata manusia menjadi sia-sia dan tak bernilai di hadapan-Nya.

Ada air mata yang tetap mengalir, jeritan yang tetap menggema, tetapi sama sekali tidak dijawab oleh Allah. Inilah tangisan paling mengerikan: menangis dengan kesadaran penuh bahwa semuanya telah terlambat.

Allah menggambarkan adegan itu dengan sangat jelas dalam firman-Nya, “Dan mereka berteriak di dalam neraka: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan beramal saleh, berbeda dari yang dulu kami kerjakan.’” (QS. Fathir: 37). Kata يَصْطَرِخُونَ menunjukkan teriakan yang sangat keras, jeritan penuh keputusasaan, bukan sekadar tangisan pelan. Namun justru di sinilah kengerian itu bermula, karena teriakan tersebut tidak dibalas dengan pertolongan.

Baca juga  Ahad! Satu Kata yang Getarkan Makkah: Kisah Bilal bin Rabah Menantang Maut di Bawah Batu Membara

Allah melanjutkan ayat itu dengan jawaban yang lebih menakutkan daripada api neraka itu sendiri, “Bukankah Kami telah memberi kalian umur yang cukup untuk berpikir, dan telah datang kepada kalian peringatan?” Jawaban ini menegaskan bahwa tangisan itu tidak didengar bukan karena Allah zalim, tetapi karena manusia sendiri telah diberi waktu, umur, akal, dan peringatan yang cukup. Di titik ini, harapan benar-benar mati.

Di dunia, iman masih berada pada wilayah ghaib; manusia beriman tanpa melihat. Namun di akhirat, iman berubah menjadi fakta visual. Segala yang dulu diragukan kini terlihat jelas. Justru di sinilah tragedi terbesar terjadi, karena iman yang datang setelah kenyataan tampak tidak lagi bernilai. Allah berfirman, “Maka tidaklah bermanfaat iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami.” (QS. Ghafir: 85). Air mata di akhirat bukan air mata iman, melainkan air mata keterpaksaan, dan iman yang terpaksa tidak pernah diterima.

Rasulullah SAW menggambarkan betapa dahsyatnya penyesalan itu, “Penghuni neraka menangis hingga air mata mereka habis, lalu mereka menangis darah.” (HR. Tirmidzi – hasan). Bayangkan air mata yang kering, mata yang rusak, namun penyesalan yang tidak pernah berhenti. Ini bukan metafora sastra, melainkan realitas akhirat yang sesungguhnya.

Baca juga  Siapa Saja Musuh-musuh Orang Beriman? 

Tangisan Tak Diterima

Tangisan itu tidak diterima karena tidak disertai amal, datang setelah hijab disingkap, bukan lahir dari takut kepada Allah tetapi takut kepada azab, serta muncul bukan dari ketaatan, melainkan dari keterpaksaan. Ibnul Qayyim berkata, “Tangisan yang bermanfaat adalah yang menahanmu dari maksiat sebelum kematian, bukan yang keluar setelah keputusan ditetapkan.”

Ironi paling menyedihkan bukanlah tangisan orang kafir, melainkan tangisan orang yang dulu mengaku beriman. Allah berfirman, “Tampak bagi mereka dari Allah sesuatu yang tidak pernah mereka perhitungkan.” (QS. Az-Zumar: 47). Mereka tidak menyangka amal mereka ditolak, dosa-dosa kecil diperhitungkan, lisan menghancurkan pahala, dan hati ternyata kosong dari keikhlasan. Tangisan itu bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena salah menilai diri sendiri.

Puncak keterputusan itu tergambar dalam firman Allah, “Diamlah kalian di dalamnya, dan jangan berbicara dengan-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 108). Ayat ini membuat para ulama menangis, bukan karena panasnya neraka, tetapi karena Allah tidak lagi mau berdialog. Tangisan ada, doa ada, namun hubungan telah diputus sepenuhnya.

Baca juga  5 Kekeliruan Fatal Pemimpin Ini Bisa Bikin Umat Kehilangan Arah, Nomor 2 Sering Terabaikan

Betapa kontrasnya keadaan ini dengan dunia. Di dunia, menangis karena dosa dipuji, menangis di sepertiga malam dimuliakan, dan menangis karena takut kepada Allah mendatangkan ampunan. Namun di akhirat, menangis karena azab diabaikan, menangis karena panik ditolak, dan menangis karena terlambat menjadi sia-sia, karena waktu menangis telah berlalu.

Masalah terbesar manusia akhir zaman adalah menunda tangisan taubat, menunda sujud penyesalan, dan menunda air mata karena Allah, padahal Rasulullah SAW bersabda, “Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah.” (HR. Tirmidzi – shahih). Air mata yang keluar di dunia adalah perisai di akhirat.

Maka pertanyaan yang menghantui jiwa setiap orang adalah: jika hari ini kita menangis, apakah karena Allah atau karena takut kehilangan dunia? Sebab nilai tangisan tidak ditentukan oleh derasnya air mata, tetapi oleh waktunya. Hasan Al-Bashri berkata, “Tangisilah dosa-dosamu hari ini, sebelum engkau menangisi dirimu sendiri esok hari.” Tangisan di dunia masih didengar, sementara tangisan di akhirat hanyalah gema kehampaan yang tak lagi dijawab.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.