Kreativitas warga desa kembali membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk merambah pasar global. Di tangan Rahmawati Nurul Layli, seorang pemuda asal Desa Karangjambe, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, benang rajut diubah menjadi pundi-pundi rupiah yang menjanjikan.
Bisnis handmade yang ditekuni Layli ini berawal dari aktivitas sederhana untuk mengisi waktu luang. Namun, ketelatenan dan keunikan produknya membuat usaha ini berkembang pesat hingga melintasi batas negara.
“Awalnya hanya hobi. Lama-lama banyak yang tertarik dan memesan, akhirnya saya tekuni sebagai usaha,” ujar Layli saat ditemui, Selasa (10/2/2026).
Varian Produk dan Jangkauan Pasar
Layli memproduksi berbagai macam kerajinan, mulai dari dompet, tas, topi, gantungan kunci, hingga produk unik yang jarang ditemui yaitu cover siwak. Semua dikerjakan secara manual dengan tangan (handmade) untuk menjaga kualitas.
Meski berbasis di Desa Karangjambe, pemasaran produk Layli sudah sangat modern. Ia memanfaatkan jalur daring (online) dan luring (offline). Pelanggannya pun tak hanya terbatas di wilayah Banjarnegara saja.
“Pasarnya sudah menjangkau Sragen, Semarang, Purbalingga, hingga Purwokerto. Bahkan, beberapa produk sudah dikirim ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia,” tambahnya.

Selain rajutan, ia juga melayani pesanan buket, parsel, hingga seserahan mahar dengan desain custom sesuai permintaan konsumen. Harga yang ditawarkan cukup kompetitif, mulai dari Rp5 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung tingkat kerumitan.
Dari ketekunannya ini, Layli mengaku bisa meraup omzet rata-rata Rp3 juta per bulan, yang sangat membantu ekonomi keluarganya.
Dukungan Pemerintah Desa Karangjambe
Keberhasilan Layli mendapat apresiasi dari Kepala Desa Karangjambe, Susilo Jatmiko. Menurutnya, Layli adalah contoh nyata bagaimana ekonomi kreatif bisa tumbuh dari tingkat desa.
“Potensi kerajinan tangan di wilayah kami cukup beragam. Selain rajutan dan buket, ada juga mainan anak dari kayu, hingga pembuatan perahu dan alat tangkap ikan seperti celik dan jala,” ungkap Susilo.
Pemerintah desa berharap munculnya sosok kreatif seperti Layli dapat memicu warga lain untuk mengolah keterampilan menjadi peluang ekonomi.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



