Rentetan aksi perampokan yang meresahkan warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, kini menjadi prioritas utama kepolisian. Tim Satreskrim Polresta Banyumas tengah bekerja keras mengungkap identitas para pelaku yang diduga memiliki pola serupa dalam setiap aksinya.
Penyelidikan di lapangan menemui tantangan teknis lantaran polisi tidak menemukan jejak sidik jari pelaku. Hal ini memperkuat dugaan bahwa komplotan tersebut merupakan pemain profesional yang mempersiapkan aksinya dengan matang.
“Untuk kasus ini kita masih dalam tahap penyelidikan dan pengumpulan bahan keterangan. Beberapa keterangan memang sudah ada, tetapi masih terus kita dalami. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera terungkap,” kata Kasatreskrim Polresta Banyumas, AKP Ardi Kurniawan, Selasa (24/2/2026).
Hasil olah TKP dilapangan, polisi mengalami kesulitan karena minim bukti fisik. Bahkan sidik jari pun cukup sulit ditemukan.
“Kita sudah maksimal mencari sidik jari di lokasi, tetapi tidak ditemukan. Berdasarkan keterangan korban, pelaku menggunakan sarung tangan saat melakukan aksinya,” ungkapnya.
Berdasarkan keterangan saksi, terdapat beberapa poin kunci terkait cara kerja para pelaku. Jumlah pelaku diduga lebih dari dua orang. Logal bicara menggunakan bahasa Jawa logat ngapak, memicu dugaan pelaku merupakan warga lokal atau sekitar Banyumas.
Mengincar waktu-waktu rawan, khususnya menjelang subuh saat warga mulai beraktivitas ke masjid. “Untuk kasus yang kedua ini, indikasinya pelaku lebih dari dua orang. Modus operandinya juga sama, ada unsur pengancaman kepada korban,” jelas Ardi.
Ardi menambahkan, ada keterangan dari korban, pelaku menggunakan logat ngapak. Jadi ada kemungkinan pelaku berasal dari daerah sekitar, tetapi hal itu masih dalami.
Peristiwa terakhir menimpa pasangan lansia di Desa Limpakuwus pada Selasa (24/2/2026) pukul 04.30 WIB. Saat sang suami, Danim (70), berangkat ke musala, pelaku merangsek masuk dan mengancam istrinya, Lasminah (66).
Para pelaku berhasil menggondol uang tunai dan perhiasan emas dengan total kerugian sekitar Rp2,4 juta. Kejadian ini menambah daftar panjang setelah sebelumnya perampokan serupa terjadi di Desa Kotayasa pada 9 Februari lalu dengan kerugian mencapai Rp12,4 juta.
Menanggapi situasi ini, Kapolresta Banyumas menginstruksikan penguatan pengamanan, terutama di wilayah-wilayah rawan seperti Sumbang, Baturraden, dan Kembaran.
Waktu Berbuka & Tarawih: Fokus pada kelancaran lalu lintas dan keamanan lingkungan.
Tim Reskrim (Pukul 01.00 – 05.00 WIB): Patroli senyap di wilayah perbatasan dan pemukiman untuk mengantisipasi kejahatan dini hari.
“Kami sudah melaksanakan patroli secara rutin. Mulai dari waktu buka puasa untuk mengantisipasi kemacetan, kemudian saat salat tarawih juga ada patroli bergiliran,” kata AKP Ardi Kurniawan.
Ia juga menegaskan bahwa pengamanan tidak hanya fokus di satu titik. Selain wilayah Sumbang, di daerah lagi juga tetap jadi perhatian.
“Bukan hanya di Sumbang. Sebelumnya juga ada kejadian di Sumpiuh, Jatilawang, dan beberapa tempat lainnya. Hanya saja kebetulan beberapa TKP terakhir berada di wilayah Sumbang,” kata dia.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




