Jateng Siapkan Wisata Halal Jadi Mesin Ekonomi Baru pada 2027

Syarif TM
Pelantikan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Syariah Jawa Tengah masa bakti 2026–2029 di Wisma Perdamaian, Kota Semarang. (dok. Pemprov)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah mulai mempercepat pengembangan wisata halal atau wisata ramah muslim dan ekonomi syariah sebagai salah satu strategi penggerak ekonomi daerah pada 2027.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan persiapan dan langkah menuju wisata halal ini harus sudah mulai disiapkan sejak sekarang, melalui penguatan ekosistem industri halal di berbagai sektor, termasuk mendorong percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.

Menurutnya, pengembangan industri halal tidak hanya menyasar produk makanan dan minuman, tetapi juga bahan baku, kosmetik, hingga berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

“Road map pembangunan Jawa Tengah sudah kami siapkan. Tahun 2025 fokus pada pembangunan infrastruktur, 2026 swasembada pangan, dan 2027 kita arahkan pada sektor pariwisata serta ekonomi syariah. Persiapannya tidak menunggu, sudah mulai kita jalankan sekarang,” ujar Ahmad Luthfi saat menghadiri pelantikan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Syariah Jawa Tengah masa bakti 2026–2029 di Wisma Perdamaian, Kota Semarang.

Baca juga  Di Kebumen, Ibu-ibu Ronda Malam untuk Jaga Kamtibmas

Dorong Santripreneur dan Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM

Untuk memperkuat ekosistem ekonomi halal, Pemprov Jawa Tengah juga menjalankan berbagai program pendukung. Salah satunya melalui penumbuhan wirausaha santri atau santripreneur yang diharapkan mampu menciptakan pelaku usaha baru berbasis pesantren.

Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi sertifikasi halal bagi Industri Kecil Menengah (IKM) serta menyediakan program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Program Sehati tersebut masih berlangsung hingga 17 Oktober 2026 dan ditujukan untuk mempercepat jumlah produk halal dari pelaku UMKM di Jawa Tengah.

Potensi Wisata Halal Jateng Dinilai Besar

Gubernur menilai Jawa Tengah memiliki peluang besar untuk menjadi tujuan wisata ramah muslim, bahkan berpotensi menembus pasar internasional.

Menurutnya, pasar wisata halal masih terbuka luas, terutama dari negara-negara yang memiliki kedekatan budaya dengan Indonesia.

“Kita punya potensi wisata ramah muslim dan wisata halal yang besar. Jangan hanya menyasar usaha mikro dan kecil, tetapi juga sektor usaha menengah. Masih banyak negara serumpun yang bisa menjadi target pasar,” katanya.

Baca juga  Dorong Wisata Halal, Pemprov Jateng Siapkan Label Hotel Ramah Muslim

Karena itu, Pemprov Jateng membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi pengusaha, untuk mempercepat pengembangan sektor tersebut.

Hipmi Syariah Siap Dukung Investasi dan Penguatan UMKM

Ketua Hipmi Syariah Jawa Tengah, Muhammad Sabiq Kamalul Haq, menegaskan organisasinya siap mendukung program pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi halal di daerah. Dukungan tersebut antara lain melalui peningkatan investasi serta percepatan sertifikasi halal bagi UMKM.

“Ke depan kami siap membantu pemerintah dalam program pengembangan wisata halal dan wisata ramah muslim menuju 2027, baik dari sisi investasi maupun percepatan sertifikasi halal bagi UMKM,” ujarnya.

Saat ini Hipmi Syariah Jawa Tengah memiliki sekitar 50 pengurus dan 500 anggota yang tersebar di berbagai daerah. Organisasi tersebut juga membina sekitar 350 UMKM.

Selain itu, Hipmi Syariah membuka akses permodalan melalui koperasi syariah bagi pesantren yang ingin mengembangkan unit usaha produktif.

Sabiq menambahkan, organisasinya juga mendorong lahirnya wirausaha muda yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.

Baca juga  Santri Asal Cilacap yang Tenggelam di Irigasi Kebarongan Ditemukan Meninggal Dunia

“Menjadi pengusaha bukan sekadar mencari keuntungan. Kami juga menekankan pentingnya social entrepreneur yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.