Penolakan Distribusi MBG di SMPN 2 Sokaraja Viral

Besari
Henri Rusmanto, anggota Forum Masyarakat Peduli Program MBG (FMP2M) Kabupaten Banyumas. (Besari)

Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banyumas tengah menxapat perhatian publik. Hal ini dipicu oleh beredarnya sebuah video viral yang menunjukkan aksi penolakan distribusi paket makanan di SMP N 2 Sokaraja.

Dalam rekaman singkat berdurasi 25 detik tersebut, terlihat kerumunan siswa yang menghadang mobil pengantar MBG. Mereka secara tegas menolak paket menu yang akan dibagikan pada hari itu.

 

Kronologi Kejadian

Kepala SMPN 2 Sokaraja, Agus Tri, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026). Ia menjelaskan bahwa aksi penolakan oleh siswa dan wali murid dipicu oleh keterlambatan pengiriman dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Penyesuaian jadwal sekolah selama bulan Ramadan. Siswa Kelas 7 dan 8, pulang pukul 10.15 WIB. Siswa Kelas 9 pulang pukul 11.00 WIB. Namun, hingga pukul 10.00 WIB, distribusi MBG belum tiba.

“Dari pihak MBG sampai dengan jam 10.00 WIB belum datang. Setelah itu baru menyampaikan ada keterlambatan karena ada kendala teknis di dapur,” kata Agus.

Baca juga  Dapur Makan Bergizi Gratis Cilacap Diperketat, Wajib CCTV-AC dan Gunakan Produk Lokal

Meskipun pihak sekolah telah mengimbau orang tua dan siswa untuk bersabar menunggu, hingga pukul 11.10 WIB paket makanan belum juga sampai di lokasi. Padahal, banyak wali murid yang sudah datang untuk menjemput sejak pukul 09.00 WIB.

“Orangtua sudah menunggu dari jam 9 pagi. Ketika mobil datang di depan sekolah, masih di tepi jalan, lalu orangtua menghadang mobil MBG. Karena sudah lama menunggu, orangtua meminta mobil MBG untuk balik,” kata dia.

 

Distribusi yang Tersisa dan Riwayat Keterlambatan

Ketika mobil distribusi akhirnya berhasil masuk ke area sekolah, mayoritas siswa sudah telanjur pulang. Pihak sekolah akhirnya membagikan makanan kepada murid yang masih tersisa di sekolah, sementara sisanya dititipkan melalui rekan-rekan mereka.

“Tetap kami bagikan ke sejumlah siswa dan dititipkan juga ke temannya,” katanya.

Agus turut membeberkan bahwa masalah ketepatan waktu distribusi MBG ini bukanlah persoalan baru. Keterlambatan serupa sudah beberapa kali terjadi sebelumnya, namun dampaknya tidak sefatal hari Jumat karena jam pulang sekolah yang lebih siang.

Baca juga  Wabup Dimas Minta SPPG Pertahankan Zero Accident Program MBG di Purbalingga

“Informasinya bukan hanya hari itu saja. Hari-hari sebelumnya juga beberapa kali telat, tapi masih dalam tahap toleransi karena bukan hari Jumat,” katanya.

Pada hari kerja biasa, pihak sekolah biasanya masih memiliki ruang untuk menunda kepulangan siswa hingga makanan sampai.

“Kalau hari biasa masih bisa kita atasi dan kita tahan anak-anak supaya jangan pulang dulu,” katanya

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!