Ngabuburit Sambil Rawat Tugu Kusaeri di Cilacap, Kisah Pemberontakan PETA Melawan Jepang

Faiz Ardani
Anggota komunitas Tjilatjap History mengecat ulang tugu juang Kusaeri di Gumilir Cilacap. (Tjilatjap History).

Ada cara unik yang dilakukan para pegiat sejarah di Kabupaten Cilacap dalam mengisi waktu menjelang berbuka puasa selama bulan Ramadan. Alih-alih sekadar bersantai, mereka memilih melakukan aksi sosial dengan merawat situs sejarah lokal.

Komunitas Tjilatjap History menggelar kegiatan ngabuburit dengan mengecat ulang Tugu Juang Kusaeri yang berada di Jalan Abiyasa, Kelurahan Gumilir, Cilacap. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap peninggalan sejarah sekaligus upaya mengingat kembali perjuangan pahlawan lokal.

 

Ngabuburit Sambil Rawat Jejak Sejarah

Salah satu anggota komunitas Tjilatjap History, Sindu Pramono mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga penanda sejarah yang ada di wilayah Cilacap.

“Ngabuburit sejarah ini untuk merawat dan melestarikan penanda perjuangan di tanah Cilacap ada di sini,” ujar Sindu, Senin (9/3/2026)

Menurutnya, keberadaan Tugu Juang Kusaeri tidak hanya sekadar monumen biasa. Tugu tersebut menjadi simbol perlawanan rakyat Cilacap terhadap kekejaman tentara Jepang pada masa pendudukan.

Baca juga  Drama di Cilacap! Wijayakusuma FC Tersingkir dari Liga 4, Pelatih Semprot Keputusan Wasit

Ia menilai monumen tersebut perlu dirawat agar generasi muda tetap mengenal sejarah perjuangan para tokoh lokal, khususnya sosok Kusaeri yang dikenal memimpin pemberontakan pasukan PETA terhadap Jepang.

“Selain peristiwa Cilacap Lautan Api, jejak perlawanan PETA pada zaman Jepang ini juga tertoreh dalam sejarah nasional. Jadi pantas untuk kita kenang dan lestarikan,” ungkapnya.

 

Kisah Pemberontakan PETA di Gumilir

Sindu menjelaskan, sejarah Kusaeri bermula dari perlawanan yang terjadi di wilayah Gumilir pada 21 April 1945. Saat itu, di bawah kepemimpinan Budanco, satu kompi tentara PETA berhasil merebut senjata dan amunisi dari gudang milik Jepang.

Setelah melakukan aksi tersebut, kelompok pemberontak kemudian melarikan diri menuju Gunung Srandil yang dijadikan sebagai basis pergerakan mereka.

“Mereka kemudian melarikan diri menuju Gunung Srandil yang digunakan sebagai basis gerakannya,” jelasnya.

Namun pemberontakan itu akhirnya berhasil dipadamkan setelah adanya bujukan dari Sudirman, yang saat itu menjabat sebagai Daidanco PETA di Kroya.

Para prajurit PETA yang menyerah saat itu meminta jaminan kepada Jepang agar mereka tidak disiksa, serta desa-desa yang membantu para pemberontak tidak mendapat serangan.

Baca juga  Lampaui Target! Bulan Dana PMI Cilacap 2025 Tembus Rp 3,4 Miliar, Ini Rincian Penggunaannya

“Mereka meminta imbalan kepada Jepang agar prajurit PETA yang menyerah tidak disiksa dan kampung-kampung yang menyembunyikan para pemberontak tidak ditembaki,” terang Sindu.

 

Kusaeri Dijatuhi Hukuman Mati

Meski demikian, Kusaeri bersama 18 rekannya tetap dianggap sebagai otak pemberontakan oleh pihak Jepang. Mereka kemudian diadili dalam sidang militer yang digelar pada 10 Mei 1945.

Dalam persidangan tersebut, Kusaeri dijatuhi hukuman mati, sementara rekan-rekannya menerima hukuman penjara mulai dari 15 tahun hingga seumur hidup.

Namun terdapat fakta menarik dari kisah tersebut. Hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah sempat dilaksanakan karena Jepang lebih dulu menyerah kepada Sekutu pada akhir Perang Dunia II.

“Inilah sekilas sejarah Tugu Juang Kusaeri. Ada yang menarik karena hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah dilaksanakan hingga Jepang keburu menyerah,” pungkas Sindu.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!