TACB Banjarnegara Desak Pemulihan Cepat Serta Perlindungan Bangunan Jembatan Rel Bersejarah Pasca Kecelakaan Truk Tangki

Heri C
Proses evakuasi truk tangki yang mengalami kecelakaan dibawah jembatan rel kereta yang menjadi cagar budaya, Kamis (12/3/2026) lalu. (Foto: Heri C)

Kecelakaan lalu lintas terjadi sepekan sebelum Lebaran 2026 di wilayah Sokanandi, Banjarnegara. Sebuah truk tangki menabrak jembatan kereta api nonaktif hingga menyebabkan bagian depan kendaraan rusak parah pada Kamis (12/3/2026) dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun struktur jembatan dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian pondasi.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono, mengatakan, jembatan yang terdampak merupakan bagian dari jalur lama Serajoedal Stoomtram Maatschappij yang kini sudah tidak beroperasi. Selain kerusakan kendaraan, insiden itu juga memicu perhatian terhadap kondisi fisik dan status pelindungan bangunan bersejarah tersebut.

Heni Purwono, meminta pihak terkait segera melakukan perbaikan terhadap bagian jembatan yang rusak. Ia menegaskan, objek tersebut masuk kategori Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sehingga wajib dilindungi.

“Jembatan itu merupakan ODCB yang perlakuannya sama dengan cagar budaya. Harus dilindungi sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Saya minta pihak terkait, baik perusahaan maupun pihak lain, untuk memperbaiki seperti semula,” kata Heni, Rabu (25/3/2026).

Baca juga  Polres Banjarnegara Terjunkan Personel Amankan Jalur Dieng

Menurut dia, jembatan tersebut memiliki nilai sejarah yang kuat dan berpotensi diajukan sebagai cagar budaya pada masa mendatang. Ia bahkan menilai jaringan rel kereta api peninggalan masa kolonial di wilayah Banyumas Raya layak didorong menjadi situs cagar budaya tingkat provinsi hingga nasional.

“Stasiun kereta api Banjarnegara sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Ke depan, jaringan rel SDS ini penting untuk kita ajukan juga, karena selain menghubungkan beberapa daerah, jalurnya unik mengikuti aliran Sungai Serayu,” ujarnya.

Tacb banjarnegara desak pemulihan rel bersejarah
Proses evakuasi truk tangki yang mengalami kecelakaan dibawah jembatan rel kereta yang menjadi cagar budaya, Kamis (12/3/2026) lalu. (Foto: Heri C)

Heni menambahkan, keberadaan jalur kereta api tersebut tidak hanya berkaitan dengan fungsi transportasi, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sejarah pergerakan nasional. Pada masa lalu, wilayah Klampok dikenal sebagai kota buruh dengan keberadaan pabrik gula, sementara Banjarnegara dan Wonosobo menjadi sentra komoditas perkebunan yang diangkut melalui jalur tersebut.

Ia juga menyinggung peran jalur kereta itu dalam peristiwa penting, seperti Kongres Syarikat Islam tahun 1934 yang dihadiri tokoh nasional HOS Tjokroaminoto.

“Kereta api ini menjadi sarana transportasi bagi para delegasi kongres Syarikat Islam 1934. Itu kongres terakhir yang dihadiri HOS Tjokroaminoto sebelum wafat,” kata dia.

Baca juga  37 Warga Desa Mlaya Ikuti Ujian Semester, Program Pendidikan ICMI Tuai Antusiasme

Selain faktor historis, Heni menilai kondisi fisik di sekitar lokasi kejadian juga perlu mendapat perhatian. Ia menyebut, sebelum kecelakaan terjadi, bagian trotoar di sekitar jembatan sempat mengalami longsor sehingga mempersempit badan jalan.

Karena itu, ia mendorong adanya langkah cepat dari instansi terkait untuk melakukan mitigasi dan mencegah kecelakaan serupa terulang.

“Kami berharap ada penanganan segera, baik perbaikan struktur maupun penataan jalan, agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!