Harga BBM Naik Tajam April 2026, Pertamax Tembus Rp17.850/L?

Santo
Harga BBM disebut-sebut akan mengalami kenaikan signifikan pada April 2026, menyusul beredarnya sebuah tabel proyeksi harga di media sosial dan sejumlah platform percakapan daring. (seputarbanyumas/net)

Harga BBM disebut-sebut akan mengalami kenaikan signifikan pada April 2026, menyusul beredarnya sebuah tabel proyeksi harga di media sosial dan sejumlah platform percakapan daring.

Tabel tersebut memuat rincian perkiraan harga beberapa jenis BBM non subsidi, mulai dari Pertamax hingga Dexlite yang menunjukkan potensi lonjakan harga dibandingkan periode Maret 2026.

Namun perlu ditegaskan, informasi dalam tabel yang beredar tersebut hingga kini belum sepenuhnya terkonfirmasi secara resmi oleh pihak yang berwenang.

Baik pemerintah maupun badan usaha penyalur BBM belum menyampaikan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa angka-angka tersebut telah ditetapkan sebagai harga jual eceran yang akan berlaku.

Dasar Perhitungan dalam Tabel yang Beredar

Berdasarkan keterangan yang menyertai tabel tersebut, proyeksi harga BBM non subsidi disusun dengan mengacu pada perbandingan tren data periode 25 Februari 2026 hingga 24 Maret 2026 terhadap periode 25 Januari 2026 hingga 24 Februari 2026.

Baca juga  Gus Yasin Tekankan Pentingnya Keberlanjutan Sertifikasi Halal

Beberapa indikator utama yang digunakan meliputi pergerakan nilai tukar rupiah serta perkembangan harga minyak dunia.

Dalam periode tersebut, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan sekitar 0,34 persen.

Kurs tengah rupiah bergerak dari Rp16.819 per dolar Amerika Serikat menjadi Rp16.877 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar ini berpotensi meningkatkan biaya impor minyak mentah dan produk olahan yang menjadi komponen utama dalam perhitungan harga BBM non subsidi.

Selain faktor kurs, tabel tersebut juga mencantumkan lonjakan signifikan harga minyak dunia. Harga indeks pasar (HIP) gasoline RON 92 disebut naik lebih dari 60 persen, sementara HIP gasoil dengan kandungan sulfur 2.500 ppm melonjak mendekati dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan harga komoditas energi global ini dikaitkan dengan gangguan pasokan dan dinamika geopolitik internasional.

Rincian Harga yang Diproyeksikan

Dalam tabel yang beredar, harga Pertamax pada April 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp17.850 per liter, naik sekitar Rp5.550 per liter dibandingkan harga Maret 2026.

Pertamax Green 95 disebut berpotensi naik menjadi Rp19.150 per liter, sementara Pertamax Turbo diproyeksikan mencapai Rp19.450 per liter.

Baca juga  Tak Lagi Galau Menatap Langit, Petani Cilacap Temukan Jurus Jitu Keringkan Gabah Tanpa Matahari

Untuk kelompok BBM jenis solar non subsidi, tekanan kenaikan terlihat lebih besar. Harga Pertamina Dex dalam tabel tersebut diperkirakan mencapai Rp23.950 per liter, sedangkan Dexlite disebut naik hingga Rp23.650 per liter.

Kenaikan harga solar non subsidi ini dikaitkan dengan lonjakan tajam harga gasoil di pasar internasional.

Belum Ada Penetapan Resmi

Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi dari pemerintah maupun dari Pertamina Patra Niaga terkait penyesuaian harga BBM non subsidi untuk periode April 2026.

Penetapan harga BBM umumnya dilakukan melalui mekanisme evaluasi berkala dan diumumkan secara terbuka melalui kanal resmi.

Pemerintah biasanya mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menetapkan harga BBM, antara lain stabilitas pasokan energi, kondisi perekonomian nasional, serta daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, angka-angka yang beredar saat ini masih bersifat proyeksi dan tidak dapat dijadikan rujukan kebijakan.

Imbauan kepada Masyarakat

Masyarakat diimbau untuk menyikapi informasi yang beredar secara bijak dan tidak menjadikan tabel proyeksi tersebut sebagai kepastian harga.

Publik diharapkan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah atau badan usaha penyalur BBM terkait keputusan harga yang berlaku secara nasional.

Baca juga  Kereta Api Purwojaya Anjlok: PT KAI Jelaskan Tak Ada Korban Jiwa dan Ratusan Penumpang Berhasil Dievakuasi

Dengan penegasan tersebut, informasi yang beredar saat ini merupakan bagian dari dinamika isu energi global, bukan keputusan resmi, dan masih dapat berubah sesuai dengan hasil evaluasi pemerintah menjelang periode penetapan harga April 2026.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!