Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu, Petani Cabai Banjarnegara Banjir Rejeki

Heri C
Seorang petani cabai di Desa Kecitran Klampok saat merawat tanaman cabainya, Senin (6/4/2026). (Foto: Heri C)

Lonjakan harga cabai di pasaran hingga menyentuh Rp85 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram membawa berkah bagi petani di Desa Kecitran, Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara. Di saat sebagian petani lain baru memulai masa tanam, petani di wilayah ini justru telah memasuki masa panen emas pedas atau cabai.

Momentum panen yang bertepatan dengan tingginya harga membuat hasil yang diperoleh petani meningkat signifikan. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri di tengah fluktuasi harga pangan yang kerap merugikan.

Kenaikan harga cabai yang kerap dikeluhkan konsumen, bagi petani justru menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan. Meski demikian, mereka berharap harga tetap stabil dan tidak mengalami penurunan drastis dalam waktu dekat.

Salah satu petani, Wawan, mengaku perubahan komoditas tanam menjadi titik balik peningkatan pendapatannya. Sebelumnya ia hanya menanam sayuran, namun hasil yang diperoleh dinilai kurang memadai. “Awalnya hanya tanam sayur, tapi hasilnya kurang. Akhirnya beralih ke cabai,” kata Wawan.

Keputusan tersebut berdampak pada perluasan jumlah tanaman yang ia kelola. Dari semula 150 pohon, kini berkembang menjadi sekitar 700 pohon cabai. Hingga saat ini, ia telah enam kali melakukan panen dengan total produksi mencapai sekitar 63 kilogram.

Baca juga  Jelang Idul Adha, Segini Harga Sapi di Banjarnegara

Menurutnya, biaya perawatan setiap pohon berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp7 ribu. Dengan kondisi tanaman yang masih produktif, ia menargetkan total hasil panen dapat menembus lebih dari 7 kuintal.

Hal serupa disampaikan Masno, petani cabai lainnya di desa yang sama. Ia mengelola sekitar 1.600 pohon cabai di lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi.

Dalam setiap masa panen, Masno mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram cabai. Hingga kini, panen telah dilakukan sebanyak 14 kali dengan total produksi mencapai sekitar 750 kilogram. “Dengan harga seperti sekarang, alhamdulillah sudah balik modal, meski panen masih berlangsung,” ujarnya.

Masno menargetkan total produksi dapat mencapai hingga 2 ton apabila kondisi tanaman tetap stabil hingga akhir masa panen.

Di tengah cuaca yang tidak menentu, para petani tetap melakukan perawatan intensif guna menjaga kualitas tanaman. Penyemprotan rutin dilakukan untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang berpotensi menurunkan hasil panen.

Panen kali ini menjadi gambaran bahwa ketepatan waktu tanam, keberanian beralih komoditas, serta ketekunan dalam perawatan mampu menghadirkan hasil yang menguntungkan bagi petani di tengah ketidakpastian harga pasar.

Baca juga  Radius Pencarian Korban Hanyut Diperluas hingga 16 Kilometer, Tim Gabungan Kerahkan Perahu LCR

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!