Dakem Jadi Solusi Darurat Atasi Krisis Air, 480 Hektare Sawah Terdampak

Syarif TM
Dakem menjadi satu solusi dalam penanganan darurat krisis air irigasi di areal persawahan sekitar Sungai Merawu. (dok. Kominfo)

RATUSAN warga bergotong royong memasang bronjong bambu tradisional atau dekem di aliran Sungai Merawu sebagai solusi darurat terkait krisis air untuk persawahan. Dakem yang akan dipasang di kawasan Jembatan Clangap, Kecamatan Banjarmangu ini diharapkan dapat menyelamatkan setidaknya 480 hektare lahan sawah di wilayah tersebut.

Aksi kerja bakti massal ini menjadi langkah darurat untuk memulihkan fungsi irigasi yang berdampak pada krisis air hingga mengganggu areal persawahan selama hampir tiga tahun terakhir. Selain untuk menangani krisis air irigasi, pemasangan dekem juga ditujukan untuk menahan abrasi tebing dan menormalkan kembali aliran sungai yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan perikanan warga.

Dekem Arahkan Arus Sungai Kembali ke Saluran Irigasi

Kepala UPT Wilayah 3 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banjarnegara, Adi Purnomo, menjelaskan bahwa pemasangan sekitar 60 unit dekem difokuskan untuk mengarahkan kembali arus sungai ke jalur tengah.

Baca juga  Halalbihalal PGRI Banjarnegara Berlangsung Khidmat, Gus Wakhid Pimpin Sholawat Bersama

Menurutnya, selama ini terjadi pendangkalan dasar sungai serta perubahan arus akibat aktivitas galian di bagian hilir. Kondisi tersebut membuat air tidak lagi dapat mengalir ke saluran irigasi Bendungan Clangap.

“Sudah hampir tiga tahun petani kesulitan air. Posisi dasar sungai lebih rendah dari pintu irigasi, sehingga air tidak bisa masuk. Dengan dekem ini, arus kita arahkan agar air bisa naik kembali,” katanya.

Krisis Air Irigasi Bersampak Pada Lima Desa, Produksi Pertanian Menurun

Terganggunya aliran irigasi yang menjadikan areal persawahan krisis air berdampak besar terhadap sekitar 480 hektare lahan pertanian di lima desa. Wilayah terdampak meliputi Desa Jenggawur, Banjar Kulon, dan Banjarmangu di Kecamatan Banjarmangu, serta Desa Gumisir dan Linggasari di Kecamatan Wanadadi.

Krisis air irigasi ini menyebabkan petani mengalami gagal tanam hingga penurunan hasil panen secara signifikan dalam beberapa musim terakhir.

Camat Banjarmangu, Gaba Tri Sumbarwanto, menegaskan bahwa pemulihan irigasi menjadi hal mendesak, terutama dalam mendukung program ketahanan pangan.

“Kalau tidak segera ditangani, kerugian ekonomi bisa sangat besar. Produksi pertanian dari wilayah ini tidak hanya untuk Banjarnegara, tetapi juga menyuplai daerah lain,” ujarnya.

Baca juga  Kades di Banjarnegara Ingin Program Jaga Desa Kejaksaan Jadi Sahabat Desa

Solusi Permanen Disiapkan, Anggaran Capai Rp46 Miliar

Meski saat ini penanganan dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan kearifan lokal berupa dekem, pemerintah daerah memastikan solusi jangka panjang tengah diproses melalui pemerintah pusat.

Anggaran yang sebelumnya diusulkan sebesar Rp8–9 miliar kini telah disetujui meningkat menjadi sekitar Rp46 miliar melalui APBN. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan pengaman tebing serta normalisasi aliran Sungai Merawu secara menyeluruh.

Sambil menunggu proses lelang, alat berat berupa ekskavator tetap disiagakan di lokasi untuk mengeruk material pasir dan batu yang kerap menyumbat saluran irigasi, terutama saat curah hujan tinggi.

Kolaborasi Warga dan Pemerintah Jadi Harapan Pemulihan

Warga berharap sinergi antara upaya tradisional dan intervensi pemerintah ini mampu mempercepat pemulihan sistem irigasi. Dengan demikian, produktivitas pertanian di kawasan Merawu dapat kembali normal dan mendukung ketahanan pangan daerah.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!