Rasa malu adalah perhiasan iman yang membuat seorang hamba tetap terjaga dari perbuatan hina. Ketika rasa malu hilang, maka hilanglah benteng terakhir yang menghalangi seseorang dari maksiat. Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau tidak malu, lakukanlah sesukamu.” Hadis ini bukan perintah melakukan dosa, tetapi peringatan keras bahwa hilangnya malu adalah awal kehancuran moral.
Tanda pertama hilangnya rasa malu adalah ketika maksiat dilakukan secara terang-terangan. Sesuatu yang dahulu disembunyikan kini dipamerkan tanpa beban. Allah mengingatkan dalam QS. Al-A’raf: 33 bahwa segala bentuk kefasikan adalah sesuatu yang diharamkan. Namun di zaman ini, maksiat justru dianggap gaya hidup.
Banyak orang bangga dengan dosa yang mereka lakukan, bahkan menjadikannya konten. Mereka lupa bahwa setiap perbuatan akan dihisab di hadapan Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dosa yang dilakukan terang-terangan lebih besar dosanya daripada dosa yang disembunyikan.” Hilangnya malu telah menjadikan banyak orang tidak lagi takut kepada Allah.
Tanda kedua hilangnya rasa malu adalah ketika nasihat dianggap sebagai gangguan. Orang yang ingin diperbaiki malah marah dan menjauh. Padahal Allah memuji orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran dalam QS. Al-‘Asr. Tetapi hari ini, banyak yang lebih suka dipuji daripada diarahkan.
Ketika nasihat tidak lagi dihargai, maka kerusakan pun akan menyebar lebih cepat. Masyarakat yang kehilangan rasa malu akan menolak kebenaran meski jelas di depan mata. Mereka lebih memilih pembenaran daripada perbaikan diri. Inilah tanda bahwa hati mulai mati terbakar hawa nafsu.
Tanda ketiga adalah ketika pakaian tidak lagi digunakan untuk menutup aurat, melainkan untuk menarik perhatian. Rasulullah SAW menyebutkan tentang wanita berpakaian tapi telanjang, sebagai salah satu tanda akhir zaman. Fenomena ini bukan sekadar masalah gaya, tetapi menunjukkan lunturnya rasa malu dari dalam hati. Aurat yang seharusnya dijaga kini menjadi konsumsi publik.
Allah memerintahkan dalam QS. An-Nur: 31 agar laki-laki dan perempuan menutup aurat dengan baik. Aurat bukan hanya bagian tubuh, tetapi kehormatan diri yang harus dijaga. Ketika rasa malu hilang, kehormatan pun ikut runtuh. Dan masyarakat kehilangan nilai paling mulia yang menjaga moralitas.
Tanda keempat hilangnya rasa malu adalah ketika orang merasa bangga hidup dalam kebohongan. Mereka memalsukan identitas, pencitraan, dan ucapan hanya untuk terlihat baik di depan manusia. Padahal Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa menghias dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, Allah akan mempermalukannya.”
Kebohongan membuat hati gelap, dan gelapnya hati membuat rasa malu mati. Orang yang terbiasa berdusta akan kehilangan rasa takut kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka. Hilangnya malu terhadap kebohongan adalah tanda rusaknya iman.
Tanda kelima adalah ketika perbuatan baik justru diejek dan dicemooh. Orang yang menjaga diri dianggap kuno, orang yang taat dianggap kurang pergaulan. Padahal Allah memuliakan orang-orang yang istiqamah di atas ketaatan. Fenomena ini menunjukkan bahwa standar kebaikan di masyarakat mulai terbalik.
Kondisi ini sangat berbahaya, karena masyarakat bukan hanya kehilangan malu terhadap dosa, tetapi juga malu terhadap kebaikan. Jika dosa dianggap biasa dan kebaikan dianggap aneh, maka runtuhlah bangunan moral bangsa. Karena rasa malu adalah kompas hati yang menunjukkan arah kebaikan. Tanpanya, manusia berjalan tanpa arah.
Namun masih ada harapan bagi mereka yang ingin menjaga rasa malu. Islam mengajarkan bahwa malu adalah bagian dari iman, dan iman bisa diperkuat dengan ilmu, ibadah, dan lingkungan yang baik. Kembalilah mendekat kepada Allah, karena siapa yang dekat kepada-Nya akan dijaga hatinya. Bergaullah dengan orang shaleh yang menghidupkan rasa malu dalam diri.
Perlu disadari bahwa rasa malu tidak tumbuh sendirinya, ia harus dipupuk setiap hari. Dengan menjaga pandangan, menjaga lisan, menjaga perilaku, dan menjaga hati dari hal-hal syubhat. Orang yang ingin mulia harus menjaga rasa malu layaknya menjaga permata berharga. Karena tanpa malu, tidak ada kehormatan.
Maka jagalah rasa malu sebelum ia hilang dari hatimu. Rasa malu yang masih tersisa adalah tanda Allah masih mencintai seorang hamba. Mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan malu yang menuntun pada ketaatan. Semoga kita menjadi hamba yang dimuliakan karena menjaga batas-batas yang Allah tetapkan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!





