SIAPA yang pernah menyangka, kaos dan pakaian yang berjajar di Tanah Abang, toko online, hingga pasar pakaian di berbagai kota Indonesia, ternyata berasal dari desa kecil di Banjarnegara. Tepatnya dari dua desa di Kecamatan Pagedongan, yakni Desa Kebutuhduwur dan Desa Kebutuhjurang, wilayah yang kini dikenal sebagai “sentra konveksi rumahan atau kampung konveksi terbesar di Banjarnegara.”
Begitu memasuki kawasan ini, gemuruh suara mesin jahit terdengar saling bersahutan dari sudut ke sudut desa. Sepanjang jalan, halaman rumah warga berubah menjadi bengkel produksi. Dari rumah sederhana hingga bangunan megah, aktivitas menjahit berlangsung tanpa henti, siang dan malam.
Hampir seluruh warga terlibat. Ada yang menjahit, mengobras, menyetrika, memberi label, hingga melakukan proses packing. Para pekerja lintas usia duduk berdampingan, sambil sesekali bersenda gurau di antara tumpukan kain yang menunggu giliran jahit.
Diproduksi Desa, Dijual Nasional Bahkan Tembus Malaysia
Aris, salah satu pelaku usaha konveksi di Desa Kebutuhduwur, mengungkapkan bahwa para pelaku usaha di dua desa ini mayoritas bekerja sebagai mitra vendor dari Jakarta. Bahan kain, pola, label, hingga aksesori datang dari Ibu Kota, sementara proses produksi dilakukan di Banjarnegara.
“Kami hanya produksi. Setelah jadi, semuanya dikirim kembali ke Jakarta, lalu dari sana masuk pasar Tanah Abang atau dikirim ke berbagai daerah. Ada juga yang sampai Malaysia,” katanya.
Volume produksi pun bukan angka kecil. Dalam kondisi normal, pengiriman dilakukan tiga kali dalam seminggu. Dalam sekali keberangkatan, setidaknya ada lima truk penuh, setara dengan sekitar 90 ribu potong kaos. Maka tak heran jika saat ini dua wilayah tersebut menjadi kampung konveksi terbesar di Banjarnegara.
Jika dihitung dalam sepekan, desa yang sudah menjadi kampung konveksi ini bisa menghasilkan ratusan ribu potong pakaian.
Dulu Mengandalkan Kapulaga, Kini Konveksi Jadi Penopang Ekonomi
Aris bercerita, sebelum industri garmen berkembang, mayoritas warga kampung konveksi ini menggantungkan hidup pada pertanian, terutama tanaman kapulaga. Namun cuaca yang tak menentu membuat pemasukan tidak stabil.
Musim hujan menjadi kendala utama karena kapulaga sulit dikeringkan, sehingga hasil panen tidak selalu dapat dijual sesuai harapan.
“Alhamdulillah, dengan adanya usaha konveksi ini, kebutuhan keluarga lebih terjamin. Banyak yang bahkan bisa menabung,” ujarnya.
Kampung Konveksi, Ekonomi Desa Bangkit
Industri konveksi di dua desa ini bukan sekadar usaha sampingan, tetapi telah menjadi denyut nadi perekonomian lokal. Bahkan rumah-rumah warga di kampung konveksi ini berubah menjadi mini pabrik. Generasi muda pun memilih bertahan di desa dibanding merantau, karena peluang kerja sudah tersedia.
Dari sinilah lahir produk yang dipakai ribuan orang, mungkin kita salah satunya, tanpa pernah mengetahui kisah di balik jahitannya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!





