Di balik meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banjarnegara, masih ada persoalan lain yang tak kalah berat dihadapi para penyintas, yakni stigma dan diskriminasi. Bagi sebagian orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), tantangan terbesar bukan hanya menjalani pengobatan, tetapi juga menghadapi penolakan dan pandangan negatif dari lingkungan sekitar.
Ketua KDS Bara Plus, Andian mengatakan, kasus HIV/AIDS di Banjarnegara pertama kali ditemukan pada tahun 2003. Seiring berjalannya waktu, jumlah kasus terus meningkat dan kini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 17 hingga 35 tahun.
“Kurangnya informasi dan edukasi yang memadai tentang HIV/AIDS membuat sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai cara penularan maupun penanganannya,” katanya, Rabu, 3 Juni 2026.
Akibat minimnya pengetahuan tersebut, tidak sedikit penderita yang baru mengetahui status kesehatannya saat penyakit telah memasuki stadium lanjut atau fase AIDS. Kondisi itu membuat proses penanganan menjadi lebih kompleks dan peluang pemulihan semakin menantang.
Menurut Andian, persoalan yang dihadapi ODHIV tidak berhenti pada aspek kesehatan. Stigma dan diskriminasi yang masih kuat di masyarakat sering kali membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan secara rutin.
“Masih banyak ODHIV yang takut terbuka karena khawatir mendapat penolakan dari lingkungan sekitar. Dampaknya, ada yang tidak melanjutkan terapi antiretroviral (ART) maupun pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya,” ujarnya.
Menurut Andian, kondisi tersebut turut memicu meningkatnya angka Lost to Follow Up (LFU), yaitu pasien yang terputus dari pengobatan dan pemantauan kesehatan. Padahal, keberlanjutan terapi menjadi salah satu kunci utama agar ODHIV dapat hidup sehat dan produktif.
Berangkat dari keprihatinan itu, sejumlah aktivis dan pendamping HIV/AIDS mulai bergerak menghimpun data serta menjangkau ODHIV di Banjarnegara sejak 2017. Upaya tersebut kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang secara resmi berdiri pada April 2019 dengan nama KDS Bara Plus.
Kehadiran komunitas ini menjadi ruang aman bagi ODHIV untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh dukungan psikososial, serta membangun kembali rasa percaya diri yang kerap terkikis akibat stigma sosial.
“Kami ingin teman-teman ODHIV merasa tidak sendiri. Mereka tetap memiliki harapan, masa depan, dan kesempatan yang sama untuk hidup produktif,” kata Andian.
Saat ini, KDS Bara Plus tengah melakukan penelusuran terhadap ODHIV yang putus pengobatan. Program tersebut baru berjalan sekitar dua minggu sehingga data yang terkumpul masih dalam proses pendataan dan verifikasi.
Selain memberikan pendampingan, komunitas ini juga sedang berupaya memperkuat legalitas organisasi. Ke depan, nama KDS Bara Plus direncanakan berubah menjadi KDS Bara Berdaya sebagai simbol semangat pemberdayaan dan kemandirian para penyintas HIV/AIDS.
Andian berharap masyarakat semakin peduli terhadap isu HIV/AIDS dengan rutin memeriksakan kesehatan serta tidak mudah memberikan stigma kepada para penyintas. Menurutnya, dukungan sosial menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup ODHIV. “Kami berharap masyarakat lebih aware terhadap HIV/AIDS, tidak lagi memberikan stigma dan diskriminasi. Yang dibutuhkan ODHIV adalah dukungan, bukan penghakiman,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap komunitas pendamping ODHIV dan menjadi bagian dari sistem dukungan yang kuat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Banjarnegara.
“HIV/AIDS bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Dengan pengetahuan yang benar, kepedulian, dan dukungan bersama, stigma dapat dihapuskan dan para penyintas dapat menjalani hidup secara sehat, bermartabat, dan produktif di tengah masyarakat,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



