Bukan Sekadar ‘Makanan Enak’, Program MBG Fokus pada Gizi Seimbang dan Pemberdayaan Petani Lokal

Heri C
Leaflet menu makanan yang akan diberikan kepada penerima program MBG. (dok Yayasan Pikas Edu Kreta) ​

Program MBG atau Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan pemerintah mulai menjadi sorotan sebagai langkah konkret transformasi kesehatan masyarakat. Namun, seringkali masyarakat masih keliru dalam memahami esensi program ini.

​Ketua Yayasan Pikas Edu Kreata Banjarnegara, Arif Hidayatulloh, S.Ip, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar program penyediaan “makanan enak”, melainkan strategi besar untuk meningkatkan kualitas gizi nasional.

​”MBG adalah upaya pemerintah menghadirkan makanan bergizi secara gratis dan merata. Tujuannya memastikan masyarakat, terutama anak sekolah, memperoleh kebutuhan gizi yang tepat setiap hari,” ujar Arif, Sabtu (1/2/2026).

Program MBG: ​Gizi Seimbang vs Cita Rasa

Menurut Arif, terdapat perbedaan mendasar antara konsep makanan lezat dan makanan bergizi. Program MBG lebih menekankan pada aspek gizi seimbang dan keamanan pangan, sementara istilah “makanan enak” seringkali hanya berorientasi pada rasa tanpa memperhatikan kandungan nutrisi.

​Dalam program ini, komposisi makanan wajib memenuhi standar karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, khususnya bagi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan.

Baca juga  Bidik Peringkat 7 Porprov Jateng 2026, KONI Banjarnegara Mulai Petakan Kekuatan Atlet

​Alur Produksi: Dari Petani hingga Meja Makan

Penyelenggaraan MBG dilakukan secara terstruktur melalui beberapa tahapan yang melibatkan potensi lokal:

​Pengadaan Bahan Baku: Bahan pangan seperti beras, jagung, telur, hingga ikan diserap langsung dari petani dan UMKM lokal melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini diambil untuk memutus ketergantungan impor dan menghidupkan ekonomi daerah.

Dapur Pusat (SPPG): Seluruh bahan baku diolah di dapur pusat dengan standar higiene yang ketat. Pemerintah bahkan membangun fasilitas pasteurisasi susu untuk menjamin kualitas protein hewani.

​Distribusi Digital: Untuk menjaga kualitas, distribusi ke sekolah-sekolah menggunakan sistem logistik berbasis data secara real-time guna memastikan makanan sampai dalam kondisi segar dan tepat waktu.

Edukasi dan Pengelolaan Limbah

​Tak hanya soal mengisi perut, MBG juga membawa misi edukasi. Para penerima manfaat diajarkan pola hidup bersih, cara menghargai makanan, dan mengurangi budaya membuang makanan (food waste).

​”Sisa makanan dikelola secara ramah lingkungan, misalnya melalui komposting atau pengolahan ulang yang terkontrol,” tambah Arif.

Baca juga  Inspwil II Beri Apresiasi Pembinaan yang Dilakukan Rutan Banjarnegara

​Program ini berdiri di atas lima prinsip utama: Gizi seimbang, pemanfaatan pangan lokal, keamanan pangan, transparansi digital, serta keberlanjutan ekonomi melalui pemberdayaan koperasi dan UMKM.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.