Refleksi Hari Bumi 22 April: Aksi Kepedulian atau Hanya Sekedar Seremonial?

Heri C
Perjuangan masyarakat Desa Jatilawang Kabupaten Banjarnegara yang menolak perambahan hutan beberapa tahun lalu. Hingga saat ini, perambahan ilegal pada hutan masih berlangsung. (Foto: Heri C)

Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai momentum untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam. Namun, di balik kampanye hijau dan slogan pelestarian lingkungan, kondisi bumi saat ini justru menunjukkan tanda-tanda yang semakin mengkhawatirkan.

Secara global, perubahan iklim menjadi ancaman nyata. Suhu bumi terus meningkat, es di kutub mencair, dan bencana alam seperti banjir, kekeringan, serta kebakaran hutan semakin sering terjadi. Data menunjukkan bahwa aktivitas manusia terutama emisi gas rumah kaca dari industri, transportasi, dan bahkan deforestasi juga diiduga menjadi penyebab makin krisis bumi.

Di Indonesia, situasinya tidak kalah serius. Deforestasi masih terjadi, terutama akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan. Selain itu, pencemaran sungai oleh limbah rumah tangga dan industri masih menjadi masalah besar. Indonesia juga menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, yang banyak berakhir di laut dan merusak ekosistem.

Di Kabupaten Banjarnegara, tantangan lingkungan juga terlihat jelas. Wilayah ini rentan terhadap bencana tanah longsor karena kondisi geografisnya yang berbukit serta praktik alih fungsi lahan yang kurang terkendali. Selain itu, pengelolaan sampah yang belum optimal dan berkurangnya area resapan air turut meningkatkan risiko banjir dan kerusakan lingkungan.

Baca juga  Peringati Hari Bumi, Noola Hotel Cilacap Tanam Mangrove di Kutawaru

Mulai dari perambahan ilegal hutan, sampah yang belum tertangani dengan maksimal ditambah masih banyak manusia yang kurang menyadari bahaya sampah yang dibuang sembarangan bahkan adanya perilaku ‘mentang-mentang’ tanah milik sendiri sehingga bebas melakukan apapun tanpa peduli faktor keselamatan lainnya termasuk pertambangan liar.

Hingga kini, perjuangan para pejuang penyelamatan hutan bawah Gunung Rogojembangan Kabupaten Banjarnegara masih dilakukan. Satu persatu para pembela alam itu terdiam dan menyerah. Padahal, upaya penyelamatan yang mereka lakukan sejatinya untuk menyelamatkan banyak kehidupan selain mereka. Negara sudah pasti hadir dalam wujud wilayah administratif atau sekedar bertatap muka tanpa tindakan nyata. Pos pantau hutan yang ada justru menjadi onggokan sia-sia.

Peringatan Hari Bumi seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau kampanye sesaat. Justru ini menjadi pengingat bahwa upaya menjaga bumi harus dimulai dari tindakan nyata, baik oleh pemerintah, industri, maupun masyarakat. Kesadaran untuk mengurangi sampah plastik, menjaga hutan, menggunakan energi secara bijak, serta merawat lingkungan sekitar harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Baca juga  Rampung Direhabilitasi, Jembatan Panaraban Kembali Bisa Dilintasi, Sambung Nadi Ekonomi dan Wisata

Semua harus paham dan sepakat bahwa bumi tidak membutuhkan manusia namun manusialah yang membutuhkan bumi. Jika kerusakan terus dibiarkan, maka generasi mendatang akan menanggung akibatnya. Hari Bumi adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar peduli, atau hanya sekadar ikut memperingati ?

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!