Wabup Banyumas: Penyuluh Agama Adalah Kunci Lindungi Masyarakat dari Pinjol Ilegal

Besari
Wabup Banyumas Dwi Asih Lintarti saat pidato pembukaan acara Training of Trainers (ToT) Penyuluh Agama Islam se-Jateng dan DIY di Aula OJK Purwokerto, Rabu (18/02/2026).

Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, menegaskan bahwa pesatnya perkembangan layanan keuangan digital saat ini ibarat dua mata pusau. Satu sisi menjadi kemudahan akses, bersamaan dengan itu sekaligus risiko terjebak dalam praktik keuangan yang merugikan.

“Meskipun teknologi mempermudah akses perbankan dan pendidikan, masyarakat kini dihadapkan pada risiko terjebak dalam pinjaman ilegal serta edukasi keuangan yang menyesatkan,” kata Lintarti saat menghadiri Training of Trainers (ToT) Penyuluh Agama Islam se-Jateng dan DIY di Aula OJK Purwokerto, Rabu (18/02/2026).

Dalam kegiatan yang digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut, Lintarti menekankan bahwa edukasi tata kelola keuangan sangat krusial untuk membantu keluarga mengatur skala prioritas dan menghindari gaya hidup konsumtif. Ia menilai para penyuluh agama memiliki posisi tawar yang kuat dalam misi ini.

“Penyuluh agama memiliki peran sentral sebagai sosok yang dipercaya masyarakat,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Daerah, OJK, dan penyuluh agama, diharapkan literasi keuangan dapat menjangkau hingga ke pelosok desa.

“Dengan berjalan bersama, literasi keuangan diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi fondasi kekuatan ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata dia.

Baca juga  Wabup Lintarti Serahkan Hibah Mobil Operasional FKUB Banyumas 

 

OJK Mulai “Gerak Syariah 2026”

Senada dengan hal tersebut, Kepala OJK Purwokerto, Haramain Billady, secara resmi meluncurkan rangkaian kegiatan Gerak Syariah 2026. Program ini merupakan langkah masif untuk mendongkrak literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia yang masih tertinggal.

Haramain memaparkan data bahwa meski perbankan syariah mulai masuk ke jajaran 10 besar bank nasional, pemahaman masyarakat baru mencapai 45 persen.

“Angka ini masih tertinggal jauh dibandingkan indeks literasi keuangan umum yang telah mencapai 60 persen,” kata Haramain.

Kesenjangan lebih terlihat pada indeks inklusi (penggunaan produk), di mana keuangan syariah masih berada di angka belasan persen, sementara keuangan umum sudah menyentuh 80 persen. Oleh karena itu, OJK meminta bantuan para penyuluh agama untuk menyisipkan pesan edukasi dalam setiap dakwah mereka.

“OJK tidak bisa bergerak sendirian. Kami membutuhkan bantuan Bapak dan Ibu semua sebagai tokoh yang bertemu langsung dengan masyarakat untuk mendorong pertumbuhan keuangan syariah,” kata dia.

Untuk menyemarakkan Program Gerak Syariah 2026, OJK menyelenggarakan berbagai kompetisi kreatif, antara lain Lomba Kultum Keuangan Syariah, Lomba Reels Instagram, Lomba Seni Hadroh dan Pemilihan Penyuluh Agama Terbaik (bagi penyuluh paling aktif melakukan edukasi).

Baca juga  Ayah Korban Kecelakaan Di Sokaraja Menuntut Keadilan 

Melalui keterlibatan aktif penyuluh agama di wilayah Jawa Tengah dan DIY, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal produk syariah secara teori, tetapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan serta mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dari ancaman penipuan dan scam yang marak terjadi.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!