Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) menghadirkan terobosan baru dalam merayakan kekayaan budaya lokal. Bertajuk Banyumas Culture Festival, perhelatan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 14–15 Februari 2026, bertempat di Heterospace Purwokerto.
Festival ini bukan sekadar hiburan biasa, melainkan upaya modernisasi panggung seni tradisional agar lebih relevan dengan zaman. Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Banyumas ke-455.
Sorotan Utama Pertunjukan
Ketua Panitia, Ridwan Bungsu, menjelaskan bahwa festival ini akan menonjolkan empat pementasan unggulan dengan kemasan yang unik:
- Sendratari Jagabayan: Menampilkan lakon Elegi Lembah Narmada.
- Ebeg (Kuda Lumping): Hadir dengan format fragmen tari bertema Sirnaning Angkara Murka.
- Wayang Kulit: Kolaborasi spesial yang dimainkan oleh tiga dalang muda sekaligus.
- Daglung (Dagelan Calung): Grup Asmara Suta akan membawakan kisah Legenda Baturraden.
Selain fokus pada pertunjukan inti, panitia juga menyisipkan berbagai kegiatan interaktif yang menyasar generasi muda. Pengunjung bisa menikmati:
- Kegiatan kebugaran Pound Fit.
- Play Date untuk anak-anak dan keluarga.
- Fashion Show serta Audisi Lengger Bicara.
“Kami ingin memberikan nuansa baru dalam pementasan seni. Banyumas Culture Festival ini rencananya akan kami jadikan agenda rutin tahunan setiap menyambut hari jadi kabupaten,” ujar Sekretaris Umum DKKB, Jarot C. Setyoko.

Kehadiran festival ini melengkapi kalender budaya DKKB yang sudah ada, seperti Banyumas Aesthetic Sutedja (Mei) dan Banyumas Aesthetic Kota Lama. Melalui Banyumas Culture Festival, DKKB berharap kesenian asli daerah dapat dikelola secara lebih profesional, dikenal lebih luas, namun tetap menjaga akar tradisinya.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan, hari Sabtu acara akan berlangsung hingga malam hari yang ditutup dengan Sendratari, sementara hari Minggu akan diramaikan oleh Ebeg hingga pertunjukan Wayang Kulit.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



