Keluhan para pedagang terkait minimnya fasilitas pelindung di Pasar Hewan Cilongok akhirnya mendapat respons konkret dari parlemen. Komisi III DPRD Kabupaten Banyumas kini tengah memperjuangkan usulan anggaran sebesar Rp1,5 miliar untuk pembangunan atap pasar pada tahun anggaran mendatang.
Langkah ini diambil menyusul kondisi lapangan yang dinilai sudah tidak memadai untuk menunjang transaksi ekonomi yang terus berkembang. Ketua Komisi III DPRD Banyumas, Samsudin Tirta, menekankan bahwa ketiadaan peneduh menjadi hambatan utama produktivitas di lokasi tersebut.
“Pasar hewan di Cilongok masih terbuka, belum ada atap. Ketika hujan, aktivitas jual beli terganggu karena ternak harus dipindahkan untuk menghindari kehujanan,” ujarnya.
Rencana pembangunan ini bukan sekadar wacana teknis, melainkan hasil pembahasan intensif antara legislatif dan dinas terkait. Pemasangan atap dipandang sebagai investasi strategis guna menjaga kenyamanan pedagang dan kesehatan hewan ternak dari paparan cuaca ekstrem.
Samsudin menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur ini memiliki korelasi langsung dengan kesejahteraan masyarakat.
“Pasar hewan menjadi tempat utama masyarakat untuk memasarkan ternak. Karena itu, perlu fasilitas yang memadai agar aktivitas jual beli tetap berjalan meski dalam kondisi cuaca tidak menentu,” jelasnya.
Selain faktor kenyamanan, kehadiran atap baru ini diprediksi akan memperkuat daya tampung pasar dalam menyerap arus pedagang yang datang dari berbagai pelosok Banyumas.
Meski menyambut baik rencana peneduhan pasar, sejumlah pedagang menilai tantangan di Pasar Hewan Cilongok tidak hanya soal cuaca, tapi juga keterbatasan ruang. Satiwan, salah satu pedagang lokal, mengungkapkan bahwa kepadatan pasar saat ini sudah berada di titik jenuh.
“Lokasi saat ini sudah cukup sempit. Dulu sempat ada wacana untuk diperluas, tetapi hingga kini belum terealisasi,” kata Satiwan.
Walau demikian, pembangunan atap tetap menjadi prioritas jangka pendek yang sangat dinantikan, terutama bagi mereka yang menempati lapak bagian belakang yang sering terpapar langsung terik matahari dan hujan.
“Kalau hujan, biasanya kami terpaksa selesai lebih cepat. Saat panas juga tidak nyaman karena debu dan terik matahari,” tambahnya.
Selain isu atap dan lahan, akses masuk pasar dari sisi selatan turut menjadi sorotan karena kerusakannya yang cukup parah. Menanggapi tumpukan aspirasi tersebut, DPRD Banyumas berkomitmen menjadikan keluhan pedagang sebagai variabel utama dalam perencanaan pembangunan fasilitas pasar yang lebih komprehensif di masa depan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



