Gelaran Tadarus Sastra yang diinisiasi oleh Yayasan Serayu Penawara bersama Sanggar Seni Samudra tidak sekadar menjadi magnet bagi masyarakat umum. Acara ini tampil lebih inklusif dengan merangkul teman-teman disabilitas, membuktikan bahwa sastra adalah milik semua orang.
Inovasi berupa penggunaan bahasa isyarat dalam pertunjukan memungkinkan rekan-rekan tuna rungu untuk ikut menyelami nilai-nilai sastra yang disampaikan. Dikemas secara memikat, malam itu sastra bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi “mantra” yang memercikkan makna kehidupan.
Setelah sebelumnya sukses dengan konsep Sastra Sulap Puitik oleh Yoga Bagus Wicaksana, pada Jumat (13/03) di Cafe Bahenol Karangklesem, Sanggar Seni Samudra kembali melakukan terobosan. Fokus utama kali ini adalah aksesibilitas melalui bahasa isyarat.
Puisi “Razan” dan Isu Kemanusiaan
Di atas panggung, deretan seniman bergantian membacakan karya mereka. Salah satunya adalah Tejo, seniman asal Susukan, Banjarnegara, yang membawakan puisi berjudul “Razan”.
Karya dari penyair Helvy Tiana Rosa ini merupakan potret penderitaan dan kemanusiaan di tanah Palestina.
Bagi Tejo, pembacaan puisi seperti ini hanyalah awal. Ia menekankan pentingnya penguatan literasi melalui karya tulis bagi Sanggar Seni Samudra ke depannya.
“Akting bagi pegiat seni memang penting, namun kekuatan tulisan juga tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Nostalgia dan Kritik Sosial
Warna berbeda ditampilkan oleh Joni Jonte. Ia memadukan pembacaan puisi dengan tembang dan iringan musik yang membawa penonton bernostalgia ke masa kecil. Ia menghadirkan memori tentang surau sederhana di desa di mana puji-pujian menggema di setiap sudut.
Namun, Joni juga melontarkan kritik satir; fenomena saat ini menunjukkan masjid yang megah terkadang justru membungkam lantunan puji-pujian tradisional. Melalui karyanya, ia mengingatkan kembali tentang esensi kedisiplinan ibadah lima waktu dengan gaya yang jenaka namun tetap menyentuh.
Kehangatan Lintas Generasi
Suasana Tadarus Sastra malam itu terasa sangat akrab. Penonton yang hadir tidak hanya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, tetapi juga para tokoh dan maestro seni seperti Edy Romadhon, Titut, Rohadi, hingga Bambang Wadoro.
Kolaborasi ini sukses menjadikan Tadarus Sastra sebagai medium refleksi untuk menemukan kembali esensi spiritualitas di tengah bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




