Unik! ASN dan Pejabat Banjarnegara Kenakan Sarung Saat Ngantor, Ini Maknanya

Syarif TM
Sejumah pejabat di Banjarnegara ngantor pakai sarung dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional. (dok.Dindikpora)
whatsapp image 2025 10 20 at 10.29.46 2 Unik! ASN dan Pejabat Banjarnegara Kenakan Sarung Saat Ngantor, Ini Maknanya
Sejumah pejabat di Banjarnegara ngantor pakai sarung dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional. (dok.Dindikpora)

SEPUTARBANYUMAS.COM– Suasana kantor di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tampak berbeda menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Sejak Senin (20/10/2025), para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat Pemkab Banjarnegara yang beragama Islam kompak ngantor memakai sarung.

Tradisi unik ini akan berlangsung hingga puncak peringatan HSN pada 22 Oktober 2025 mendatang. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor 04 Tahun 2025, serta edaran Bupati Banjarnegara tentang Panduan Pelaksanaan Hari Santri 2025 yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.”

Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana mengatakan, penggunaan sarung bagi ASN muslim ini menjadi bentuk penghormatan dan kepedulian terhadap para santri di seluruh Indonesia. “Mulai hari ini sampai 22 Oktober besok, ASN di Banjarnegara yang beragama Islam ngantor pakai sarung. Ini wujud kepedulian sekaligus penghormatan kepada para santri yang telah berjuang untuk negeri ini,” ujar Bupati.

Ia berharap peringatan Hari Santri Nasional dapat menjadi momentum untuk meneladani semangat jihad para ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
“Dulu, pondok pesantren menjadi pusat pergerakan perjuangan. Kini, semangat itu perlu kita warisi dalam membangun bangsa dan menjaga keutuhan negara,” tegasnya.

Baca juga  Raih 40 Penghargaan Sepanjang 2025, Ini Arah Pembangunan Jawa Tengah

Pengakuan Negara terhadap Perjuangan Santri

Wakil Bupati Banjarnegara KH Wakhid Jumali menambahkan, penggunaan sarung bukan sekadar simbol, melainkan bentuk pengakuan atas jasa santri dan ulama dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Peringatan Hari Santri ini merupakan bukti pengakuan negara terhadap peran besar santri. Tanggal 22 Oktober dipilih karena bertepatan dengan Resolusi Jihad KH Hasyim As’ari, yang memantik semangat perjuangan rakyat hingga lahirnya peristiwa heroik 10 November di Surabaya,” jelasnya.

Wakhid menegaskan, kemerdekaan yang kini dinikmati bangsa Indonesia tidak lepas dari pengorbanan para santri, kiai, dan ulama.
“Kaum santri bukan hanya membangun peradaban, tapi juga menjadi bagian penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” katanya.

Santri, Pejuang dan Penjaga Nilai Kebangsaan

Lebih lanjut, Wabup menyebut banyak tokoh besar bangsa yang berasal dari kalangan santri.
“Mau bicara Pangeran Diponegoro, beliau santri. Panglima Besar Jenderal Soedirman, meski seorang jenderal, beliau juga santri. Begitu banyak ulama dan kiai lain yang ikut berjuang demi negeri ini,” katanya.

Ia berharap semangat Hari Santri dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan memperkuat nilai-nilai religius di kalangan ASN, pelajar, dan masyarakat Banjarnegara. “Penggunaan sarung ini bukan hanya seremonial, tetapi simbol penghargaan dan kebanggaan menjadi bagian dari perjuangan santri untuk bangsa,” ujarnya.

Baca juga  Kasus AKI, AKB, dan Stunting di Banjarnegara Turun