Di tengah wacana program gentengisasi yang mencuat sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hunian masyarakat, Desa Kutawaru di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, masih mempertahankan welit sebagai atap tradisional khas wilayah pesisir.
Welit yang dibuat dari daun nipah bukan sekadar penutup rumah, melainkan bagian dari identitas budaya sekaligus sumber ekonomi warga setempat.
Desa Kutawaru dikenal sebagai desa pesisir yang dikelilingi hutan mangrove dan tanaman nipah. Dari tanaman inilah masyarakat memproduksi welit, atap tradisional yang telah digunakan secara turun-temurun.
Di saat pemerintah pusat tengah menggulirkan wacana gentengisasi untuk mengganti atap rumah berbahan tradisional menjadi genteng yang dinilai lebih kuat dan tahan lama, warga Kutawaru berupaya menjaga eksistensi welit sebagai warisan lokal.
Wacana Gentengisasi dan Dinamika di Daerah
Program gentengisasi yang direncanakan Presiden Prabowo Subianto disebut sebagai langkah untuk meningkatkan standar kelayakan rumah masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir.
Program ini bertujuan mengganti atap berbahan daun, rumbia, atau material sejenis dengan genteng maupun bahan permanen lainnya demi aspek keamanan, kesehatan, dan ketahanan bangunan.
Wacana tersebut memunculkan diskusi di sejumlah daerah yang masih mengandalkan atap tradisional sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Di Kutawaru, welit tidak hanya berfungsi sebagai pelindung bangunan, tetapi juga memiliki nilai historis dan sosial yang melekat dalam kehidupan warga.
Sebagian rumah warga masih menggunakan welit, terutama pada bangunan semi permanen, saung, maupun fasilitas pendukung kegiatan nelayan. Di sisi lain, perkembangan pembangunan membuat sebagian masyarakat mulai beralih ke material modern untuk hunian utama.
Kerajinan Tangan Welit dari Daun Nipah
Di Desa Wisata Kutawaru, kerajinan tangan welit menjadi salah satu kegiatan ekonomi kreatif yang bertahan hingga kini. Daun nipah yang tumbuh subur di sekitar sungai dan pesisir dimanfaatkan sebagai bahan baku utama.
Ketersediaan bahan yang melimpah membuat produksi welit tetap berjalan secara berkelanjutan.
Proses pembuatan welit masih dilakukan secara tradisional. Perajin terlebih dahulu memilih daun nipah yang sudah cukup tua agar seratnya kuat. Daun kemudian dipotong dan dijemur hingga setengah kering supaya lentur dan tidak mudah patah saat dibentuk.
Setelah melalui proses penjemuran, daun nipah disusun dan dilipat pada bilah bambu tipis yang berfungsi sebagai rangka. Proses pengikatan menggunakan tali bambu atau serat alami dilakukan secara manual untuk memastikan setiap lembar welit terpasang rapi dan kuat.
Seluruh tahapan dikerjakan tanpa mesin modern, mengandalkan keterampilan tangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Satu lembar welit umumnya memiliki panjang antara satu hingga dua meter, tergantung kebutuhan pemasangan.
Harga jualnya berkisar Rp1.000 per lembar. Meski terlihat sederhana dan bernilai ekonomis rendah per unit, produksi dalam jumlah besar dapat memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga perajin.
Dalam sehari, seorang perajin bersama anggota keluarga dapat menghasilkan ratusan lembar welit, tergantung ketersediaan bahan baku dan jumlah pesanan. Aktivitas ini kerap menjadi pekerjaan sampingan bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan atau petani tambak.
Daya Tarik Desa Wisata Kutawaru
Sebagai Desa Wisata, Kutawaru turut memanfaatkan keberadaan welit sebagai bagian dari atraksi edukatif. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya menikmati panorama mangrove dan wisata susur sungai, tetapi juga dapat melihat langsung proses pembuatan welit dari daun nipah.
Rumah dan bangunan beratap welit menghadirkan nuansa tradisional yang menjadi ciri khas desa. Keberadaan kerajinan tangan ini sekaligus memperkuat citra Kutawaru sebagai kawasan yang masih menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Selain menjadi atap rumah, welit juga digunakan untuk gazebo, warung, dan bangunan semi permanen lainnya. Permintaan tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga dari luar daerah untuk kebutuhan dekorasi maupun konsep bangunan bernuansa tradisional.
Antara Modernisasi dan Pelestarian Tradisi
Di tengah arus modernisasi dan rencana gentengisasi, masyarakat Kutawaru menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian budaya.
Pergeseran penggunaan material atap menjadi bagian dari dinamika pembangunan nasional, namun kerajinan welit tetap memiliki ruang sebagai produk budaya dan ekonomi desa.
Ke depan, keberlanjutan welit sebagai atap tradisional khas Kutawaru akan sangat bergantung pada dukungan terhadap pelaku kerajinan tangan serta pengelolaan Desa Wisata yang konsisten. Dengan memanfaatkan daun nipah sebagai sumber daya lokal, warga Kutawaru menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan perubahan.
Welit bukan hanya atap, melainkan simbol keterhubungan masyarakat pesisir dengan alam sekitarnya. Di tengah wacana gentengisasi, keberadaan welit di Kutawaru, Cilacap, menjadi pengingat bahwa pembangunan juga perlu mempertimbangkan nilai budaya dan potensi ekonomi lokal.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



