10 Kapal Perang Terbesar di Dunia yang Pernah Dibangun

Santo
Kapal perang jenis battleship merupakan kelas kapal perang terbesar, bersama dengan kapal induk dan perusak. (Angkatan Laut AS)

Selama lebih dari setengah abad, kapal perang jenis battleship menjadi lambang supremasi militer laut suatu negara.

Sebelum kapal induk mendominasi strategi angkatan laut modern, kapal perang adalah benteng terapung yang merepresentasikan kemampuan industri, kekuatan persenjataan, dan prestise politik.

Dengan lapis baja tebal serta meriam berkaliber besar, kapal-kapal ini mendominasi samudra sejak awal abad ke-20 hingga berakhirnya Perang Dunia II.

Meski perannya mulai tergeser setelah perang, kapal perang tetap meninggalkan jejak kuat dalam sejarah militer global.

Bahkan Angkatan Laut Amerika Serikat masih mengoperasikan kapal perang kelas Iowa hingga Perang Teluk 1991, membuktikan daya tahan konsep battleship dalam konflik modern.

Kapal Inggris King George V dan Filosofi Keseimbangan

kapal perang
Kapal Inggris King George V memasuki Pelabuhan Apra, Guam, pada tahun 1945. (Wikimedia Commons)

Inggris membuka era kapal modern dengan kelas King George V yang mulai beroperasi pada 1940. Dengan bobot lebih dari 44.000 ton, kapal ini mengedepankan keseimbangan antara daya tembak, perlindungan lapis baja, dan sistem pengendalian tembakan yang unggul.

Baca juga  Resmi! Atraksi Tunggang Gajah Dilarang di Indonesia

Pendekatan tersebut terbukti efektif ketika HMS Prince of Wales berperan dalam pengejaran dan penghancuran kapal perang Jerman Bismarck.

Namun, kehancuran Prince of Wales akibat serangan udara Jepang di Asia Tenggara juga menegaskan bahwa masa depan peperangan laut mulai bergeser ke dominasi udara.

Kapal Amerika South Dakota dan Era Radar

Kapal Perang
Kapal Perang USS South Dakota difoto saat uji coba laut pada Juli 1942. (Wikimedia Commons)

Amerika Serikat menghadirkan kapal perang USS South Dakota pada 1942 dengan pendekatan berbeda.

Meski berukuran relatif kompak untuk kelasnya, kapal perang ini dibekali radar canggih yang memungkinkan pertempuran malam dengan akurasi tinggi.

Pengalaman tempurnya di Pasifik menunjukkan bahwa teknologi elektronik mulai menjadi faktor krusial dalam peperangan laut, melampaui sekadar ukuran dan jumlah meriam.

Kapal Italia Vittorio Veneto di Laut Mediterania

kapal perang
Kapal Italia Vittorio Veneto tak lama setelah selesai dibangun pada tahun 1940. (Wikimedia Commons)

Italia berambisi menguasai Mediterania melalui kapal Vittorio Veneto. Dengan bobot lebih dari 45.000 ton dan kecepatan tinggi, kapal ini menjadi salah satu desain paling modern di Eropa saat itu.

Meski nyaris hancur dalam pertempuran besar, Vittorio Veneto bertahan hingga Italia menyerah, menutup perjalanan kapal perang Italia di Perang Dunia II.

Kapal HMS Hood dan Kejatuhan Simbol Inggris

kapal perang
Kapal HMS Hood milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. (Wikimedia Commons)

HMS Hood pernah menyandang predikat kapal perang terbesar di dunia saat diluncurkan pada 1920. Dengan bobot sekitar 47.400 ton, kapal ini menjadi ikon kekuatan maritim Inggris.

Baca juga  Tiket Lebaran Kereta Api 2026: Kapan Bisa Dipesan untuk Tujuan Purwokerto, Cilacap & Kebumen?

Namun kehancurannya yang dramatis akibat tembakan kapal Bismarck pada 1941 mengejutkan dunia dan memperlihatkan betapa rentannya kapal besar terhadap teknologi persenjataan modern.

Kapal Richelieu dan Inovasi Prancis

kapal perang
Kapal Prancis Richelieu beroperasi di Samudra Atlantik pada 26 Agustus 1943, setelah diperbaiki di Galangan Kapal Angkatan Laut New York (AS). (Wikimedia Commons)

Prancis menghadirkan kapal perang Richelieu dengan desain tidak biasa, menempatkan seluruh meriam utama di bagian depan.

Dengan bobot hampir 49.000 ton, kapal ini dirancang untuk menghadapi ancaman Italia, lalu berperan penting dalam armada Sekutu setelah dimodernisasi di Amerika Serikat. Richelieu menjadi contoh bagaimana kapal perang berevolusi mengikuti tuntutan perang modern.

Kapal Bismarck dan Ambisi Jerman

kapal perang
Bismarck di sebuah fjord Norwegia, 21 Mei 1941, sesaat sebelum berangkat untuk melakukan pelayaran ke Atlantik. (Wikimedia Commons)

Kapal perang Bismarck menjadi simbol ambisi Jerman untuk menantang dominasi laut Inggris. Dengan bobot sekitar 50.000 ton, kapal ini hanya menjalani karier tempur singkat, tetapi meninggalkan dampak besar dalam sejarah.

Penenggelaman HMS Hood memicu pengejaran besar-besaran oleh Inggris, yang berakhir dengan tenggelamnya Bismarck hanya sembilan hari setelah misi perdananya.

Kapal HMS Vanguard, Penutup Era Inggris

Kapal Perang
Kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Vanguard saat bertugas aktif, sekitar tahun 1946-1948. (Wikimedia Commons)

HMS Vanguard yang diluncurkan pada 1946 menjadi kapal perang terakhir Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Dengan bobot lebih dari 51.000 ton, kapal ini menggabungkan pengalaman Perang Dunia II dengan teknologi modern.

Baca juga  Banyumas Timur, Surga Wisata Lokal yang Bisa Dicapai Cepat dari Purwokerto*

Meski tidak pernah terlibat pertempuran besar, Vanguard menandai akhir pembangunan kapal perang besar di Inggris.

Kapal USS Iowa, Ikon Amerika Serikat

kapal perang
Kapal USS Iowa menembakkan meriam .16″/.50″ dan enam meriam .5″/.38″ miliknya selama latihan menembak sasaran di dekat Pulau Vieques, Puerto Rico. (Wikimedia Commons)

Amerika Serikat mencapai puncak desain kapal melalui USS Iowa. Dengan bobot muat penuh sekitar 57.500 ton, kapal ini menggabungkan kecepatan tinggi, daya tembak besar, dan fleksibilitas operasional.

USS Missouri bahkan menjadi lokasi penandatanganan penyerahan Jepang pada 1945 dan kembali aktif dalam Perang Teluk, menjadikannya kapal dengan masa dinas terpanjang dan nilai simbolis tinggi.

Kapal Yamato dan Musashi, Puncak Ukuran Battleship

Kapal Perang
IJN Yamato melakukan uji coba kekuatan penuh di Teluk Sukumo, 30 Oktober 1941. (Wikimedia Commons)

Jepang menutup daftar kapal perang terbesar dengan Yamato dan Musashi. Dengan bobot lebih dari 72.000 ton dan meriam 46 cm, kedua kapal ini merupakan kapal perang terbesar yang pernah dibangun.

Namun dominasi udara oleh kapal induk membuat kekuatan mereka tidak pernah dimanfaatkan sepenuhnya. Keduanya akhirnya tenggelam akibat serangan udara Amerika, menandai berakhirnya era kapal perang super.

Kapal Perang
Kapal Jepang Musashi meninggalkan Brunei, pada tahun 1944, kemungkinan pada tanggal 22 Oktober, ketika berangkat untuk berpartisipasi dalam Pertempuran Teluk Leyte. Difoto oleh pelaut Jepang Tobei Shiraishi dari kapal perusak Isokaze. (Wikimedia Commons)

Jika tidak ada kebangkitan kembali battleship di masa depan, sepuluh kapal legendaris ini akan selamanya tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah—monumen baja dari masa ketika kekuatan laut ditentukan oleh meriam raksasa dan lapis baja tebal.

 

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.