Ed Iskenderian Meninggal Dunia, Legenda Hot Rod Amerika Tutup Usia

Santo
Ed Iskenderian, legenda hot rod Amerika Serikat sekaligus pendiri Iskenderian Cams, meninggal dunia pada usia 104 tahun. (streetmachine.com)

Legenda hot rod Amerika Serikat, Ed Iskenderian, sekaligus pendiri Iskenderian Cams, meninggal dunia pada usia 104 tahun.

Kepergian sosok yang dijuluki “The Camfather” ini menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah otomotif performa Amerika dan industri aftermarket global.

Ed Iskenderian, yang lebih dikenal dengan panggilan Isky, merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam budaya hot rod dan motorsport Amerika.

Namanya identik dengan kecepatan, inovasi mesin, serta semangat eksplorasi teknis yang membentuk wajah balap modern.

Iskenderian Cams dan Awal Revolusi Industri Aftermarket

Hot Rod
Iskenderian mendirikan Iskenderian Cams pada 1946, bermodal mesin pengasah poros bubungan rakitan sendiri. (fuelcurve.com)

Iskenderian mendirikan Iskenderian Cams pada 1946, bermodal mesin pengasah poros bubungan rakitan sendiri. Dari bengkel sederhana, perusahaannya berkembang menjadi salah satu merek aftermarket performance paling dikenal di dunia.

Camshaft produksi Isky digunakan secara luas oleh pembalap, builder mesin, hingga produsen performa ternama di Amerika Serikat.

Baca juga  Resmi! Atraksi Tunggang Gajah Dilarang di Indonesia

Dalam konteks US automotive history, Iskenderian Cams bukan sekadar merek suku cadang. Perusahaan ini menjadi simbol lahirnya industri aftermarket modern, ketika penggemar mobil tidak lagi puas dengan spesifikasi pabrikan dan mulai membangun performa sesuai visi mereka sendiri.

Kecintaan Isky pada Kecepatan Dimulai Sejak 1930-an

Hasrat Ed Iskenderian terhadap kecepatan muncul jauh sebelum bisnisnya berdiri. Pada 1939, ia membangun roadster Ford T-body dengan mesin V8 flathead.

Mobil tersebut dimodifikasi secara bertahap menggunakan komponen dari rekan-rekannya, termasuk Vic Edelbrock dan Stu Hilborn, dua nama yang juga kelak menjadi legenda di dunia otomotif Amerika.

Awalnya, Iskenderian mengandalkan camshaft buatan Ed Winfield. Namun, keterbatasan pasokan akibat tingginya permintaan membuatnya berpikir ulang. Situasi tersebut menjadi titik awal keputusan besar yang mengubah hidupnya.

Dari Veteran Perang Dunia II ke Pelopor Teknologi Mesin

Hot Rod
Setelah bertugas sebagai penerbang transportasi di Angkatan Udara Angkatan Darat AS selama Perang Dunia II, Iskenderian kembali ke Amerika dengan tekad yang lebih kuat. (bankspower.com)

Setelah bertugas sebagai penerbang transportasi di Angkatan Udara Angkatan Darat AS selama Perang Dunia II, Iskenderian kembali ke Amerika dengan tekad yang lebih kuat.

Ia memutuskan untuk memproduksi camshaft sendiri, bukan hanya untuk kebutuhannya, tetapi juga untuk komunitas balap yang berkembang pesat pascaperang.

Keputusan tersebut terbukti tepat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, nama Iskenderian telah menjadi rujukan utama dalam dunia hot rod, dry lake racing, dan drag racing di Amerika Serikat.

Baca juga  Mobil Pertama di Dunia: Dibuat Manual di Bengkel Sederhana

Pelopor Sponsor Tim dan Ekosistem Motorsport Modern

Selain dikenal sebagai inovator teknis, Ed Iskenderian juga visioner dalam pemasaran. Ia menjadi salah satu tokoh pertama yang menerapkan konsep sponsor tim balap pada Hot Rod, jauh sebelum sponsorship menjadi praktik umum.

Kemitraannya dengan legenda drag racing Don Garlits membuka jalan bagi model bisnis motorsport modern. Iskenderian Cams kemudian terlibat dalam berbagai ajang bergengsi, mulai dari NASCAR, IndyCar, drag racing, Bonneville Speed Week, off-road racing, monster truck, tractor pull, hingga balap perahu.

Strategi Merchandising yang Membentuk Budaya Hot Rod

Dalam sejarah budaya hot rod Amerika, Iskenderian juga dikenal sebagai pelopor merchandising. Ia membagikan ribuan kaos berlogo Isky secara gratis di acara balap.

Pada masa kejayaan hot rod, mengenakan kaos Iskenderian dianggap sebagai simbol keanggotaan tidak resmi dalam industri performa.

Strategi ini memperkuat identitas merek dan menciptakan kedekatan emosional antara Isky dan komunitas otomotif global, jauh sebelum era media sosial.

Pencapaian Teknis yang Melegenda di Dunia Mesin

Hot Rod
Dalam sejarah budaya hot rod Amerika, Iskenderian juga dikenal sebagai pelopor merchandising. Ia membagikan ribuan kaos berlogo Isky secara gratis di acara balap. (fuelcurve.com)

Ambisi Iskenderian tidak berhenti pada popularitas. Ia dikenal obsesif terhadap performa. Salah satu pencapaian yang paling dibanggakannya adalah keberhasilan menciptakan mesin dengan output satu tenaga kuda per inci kubik menggunakan bensin biasa, berbasis mesin Dodge Hemi pascaperang.

Baca juga  Dulu Anak Sultan Makkah dan Bergelimang Sutra, Sahabat Nabi Ini Wafat dengan Kafan Tak Cukup Tutupi Kaki

Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah pengembangan mesin V8 Amerika dan mengukuhkan reputasinya sebagai inovator sejati.

Peran Penting dalam Lahirnya SEMA

Hot Rod
Pada 1963, Ed Iskenderian bersama tokoh industri lainnya mendirikan Speed Equipment Manufacturers Association, organisasi yang menjadi cikal bakal SEMA. (fuelcurve)

Pada 1963, Ed Iskenderian bersama tokoh industri lainnya mendirikan Speed Equipment Manufacturers Association, organisasi yang menjadi cikal bakal SEMA.

Ia dipercaya menjabat sebagai presiden pertama pada periode 1963–1964, memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri aftermarket performance di Amerika Serikat.

Warisan Abadi dalam Sejarah Otomotif Amerika

Ed Iskenderian menjalani kehidupan yang penuh pencapaian. Ia mengabdi kepada negaranya, membangun bisnis keluarga lintas generasi, serta meninggalkan pengaruh mendalam dalam sejarah otomotif Amerika. Di usia 104 tahun, Iskenderian meninggalkan tiga anak—Richard, Timothy, dan Amy—serta delapan cucu.

Moto legendaris perusahaannya, “Isky Wins,” kini terasa semakin bermakna. Dengan warisan inovasi, budaya, dan inspirasi yang ia tinggalkan, Ed Iskenderian tidak hanya menang di lintasan sejarah otomotif, tetapi juga dalam cara ia menjalani hidup.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.