Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Ragam > Dulu Anak Sultan Makkah dan Bergelimang Sutra, Sahabat Nabi Ini Wafat dengan Kafan Tak Cukup Tutupi Kaki
Ragam

Dulu Anak Sultan Makkah dan Bergelimang Sutra, Sahabat Nabi Ini Wafat dengan Kafan Tak Cukup Tutupi Kaki

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 8 Januari 2026 09:24
Bahron Ansori
Membagikan
makkah
Di Makkah, sebelum Islam berdiri tegak, nama Mus’ab bin Umair adalah simbol kemewahan.(Ilustrasi gambar Meta AI)
Membagikan

Di Makkah, sebelum Islam berdiri tegak, nama Mus’ab bin Umair adalah simbol kemewahan. Ia dikenal sebagai pemuda paling rapi, paling harum, dan paling memesona di kota itu. Setiap langkahnya mengundang decak kagum. Pakaiannya dari sutra terbaik Yaman, sandalnya dari kulit pilihan, minyak wangi yang melekat di tubuhnya membuat orang tahu: Mus’ab baru saja lewat.

Contents
  • Selepas Mus’ab Kembali ke Makkah
  • Dari Sutra Mewah ke Kafan Tak Utuh

Ia lahir dari keluarga bangsawan Quraisy di Makkah, hidup dalam limpahan harta, dimanja ibunya, Khunais binti Malik, seorang wanita terpandang yang tak pernah membiarkan anaknya kekurangan apa pun. Namun sejarah tidak selalu memilih orang yang nyaman untuk memikul risalah. Allah memilih hati yang berani.

Segalanya berubah ketika Mus’ab diam-diam mendengar kabar tentang seorang Nabi di Darul Arqam. Ada getaran aneh dalam dadanya. Ia datang, mendengar Al-Qur’an dibacakan Rasulullah ﷺ, dan saat itu juga hatinya runtuh—bukan karena takut, tapi karena kebenaran.

Kalimat-kalimat wahyu menembus lapisan kemewahan yang selama ini membungkus jiwanya. Mus’ab bersyahadat. Tanpa sorak. Tanpa pesta. Hanya langit yang menjadi saksi.

Keislamannya disembunyikan, bukan karena ragu, tetapi karena tahu badai apa yang akan datang. Namun rahasia selalu menemukan jalannya untuk terbongkar. Ketika ibunya tahu, cinta yang dahulu hangat berubah menjadi cambuk. Mus’ab dikurung, disiksa, diputus dari segala fasilitas. Sutra diganti karung kasar. Harum diganti bau debu dan luka. Tapi ada yang tak bisa direnggut siapa pun darinya: iman.

Baca juga  Registrasi Akun SNPMB 2026 Sudah Dibuka, Ini Panduan Lengkapnya

Ibunya mengancam, memohon, merayu, bahkan bersumpah tidak akan makan dan minum. “Pilih aku atau agama barumu,” katanya. Mus’ab menatap dengan mata basah namun tegas. “Wahai ibu, seandainya engkau memiliki seratus nyawa dan satu per satu keluar di hadapanku, aku tidak akan meninggalkan agama ini.” Saat itu, seorang ibu kehilangan anak kebanggaannya. Dan Islam mendapatkan seorang pejuang sejati.

Mus’ab hijrah ke Habasyah. Lalu kembali. Lalu hijrah lagi. Setiap hijrah adalah pengelupasan diri dari dunia. Hingga suatu hari Rasulullah ﷺ mengutusnya ke Yatsrib—sebuah kota yang belum sepenuhnya mengenal Islam—sebagai duta pertama. Bukan Umar yang gagah. Bukan Hamzah yang ditakuti. Tapi Mus’ab, pemuda lembut, berakhlak halus, penuh hikmah.

Selepas Mus’ab Kembali ke Makkah

Di Yatsrib, Mus’ab tidak datang membawa pedang. Ia datang membawa Al-Qur’an. Ia duduk, berbicara, mendengar, menjelaskan. Dengan kesabaran dan kecerdasan, ia menyentuh hati para pemimpin kabilah. Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair masuk Islam lewat lisannya.

Dari satu rumah ke rumah lain, Islam menyala. Ketika Mus’ab kembali ke Makkah, hampir tak ada rumah Anshar yang tidak mengenal Islam. Rasulullah ﷺ tersenyum bangga. Inilah hasil dakwah tanpa gemerlap.

Baca juga  Skrining BPJS Kesehatan 2026 Wajib Tahunan, Ini Manfaatnya

Tahun-tahun berlalu. Perang Uhud meletus. Mus’ab membawa panji kaum Muslimin. Di medan perang, ia berdiri tegak seperti gunung. Ketika barisan kacau, panji hampir jatuh, Mus’ab maju ke depan. Satu tebasan memutus tangan kanannya.

Ia memindahkan panji ke tangan kiri. Tangan kiri pun tertebas. Ia mendekap panji dengan sisa tubuhnya, sambil berseru, “Muhammad hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul.” Hingga tombak musuh menembus dadanya. Mus’ab roboh. Panji tetap terjaga. Iman tetap berdiri.

Perang usai. Rasulullah ﷺ berjalan menyusuri medan Uhud. Ketika sampai di hadapan jenazah Mus’ab, beliau terdiam. Air mata jatuh. Di hadapan Nabi, terbujur tubuh yang dulu paling mewah di Makkah—kini tak memiliki kain kafan yang cukup. Jika ditutup kepalanya, kakinya terbuka. Jika ditutup kakinya, kepalanya terlihat. Rasulullah ﷺ memerintahkan menutup kepalanya dan meletakkan daun idzkhir di kakinya.

Dari Sutra Mewah ke Kafan Tak Utuh

Rasulullah ﷺ bersabda lirih, mengenang masa lalu Mus’ab. Dulu, tak ada pemuda Makkah yang lebih halus pakaiannya, lebih lembut hidupnya. Hari ini, ia pergi menghadap Allah dengan dunia yang benar-benar ia tinggalkan. Uhud menjadi saksi: kemuliaan tidak diukur dari apa yang dikenakan, tetapi dari apa yang dikorbankan.

Baca juga  Dari Sampah Jadi Rupiah, Pemuda Banjarnegara Ubah Daun Nangka Kering Jadi Karya Seni

Kisah Mus’ab bukan nostalgia sejarah. Ia cermin yang ditaruh tepat di depan wajah kita. Di zaman ketika iman sering ditukar dengan kenyamanan, Mus’ab memilih luka. Ketika popularitas lebih dicari daripada kebenaran, Mus’ab memilih kesunyian dakwah. Ketika dunia menjanjikan sutra, Mus’ab memeluk kafan.

Ia tidak mati sia-sia. Ia hidup di setiap hati yang berani memilih Allah di atas segalanya. Ia hidup di setiap dakwah yang dilakukan dengan akhlak. Ia hidup di setiap pengorbanan yang tak terlihat kamera.

Dan mungkin, di saat kita merasa terlalu berat melepaskan sedikit kenyamanan demi agama ini, Uhud akan kembali berbisik:
Pernah ada seorang pemuda bernama Mus’ab bin Umair. Ia melepaskan segalanya—dan Allah mengabadikan namanya selamanya.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.

 

TAG:anak sultan makkah
Artikel Sebelumnya liga 4 diy Pemain Liga 4 DIY Disanksi Seumur Hidup karena Aksi Kungfu
Artikel Selanjutnya Wijayakusuma FC Wijayakusuma FC Perlu Waspadai Bola Mati Pemain Persibat Ini
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Prakiraan cuaca purwokerto banyumas 16-17 januari 2026
BanyumasRagam

Prakiraan Cuaca Purwokerto Saat Long Weekend 16–18 Januari 2026, Hujan atau Cerah?

Oleh Kurnia
Konser BTS Jakarta
Ragam

Konser BTS Jakarta Resmi Digelar 26–27 Desember 2026

Oleh Santo
basecamp gunung slamet
Ragam

Update Basecamp Gunung Slamet Resmi 2026, Ini Daftar Jalur Pendakian Terlengkap

Oleh Kurnia
Sungai serayu wisata yang ada di banyumas timur
BanyumasRagam

Banyumas Timur, Surga Wisata Lokal yang Bisa Dicapai Cepat dari Purwokerto*

Oleh Kurnia
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?