Tradisi Bukber Ramadan Diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO

Santo
Bukber atau tradisi berbuka bersama, telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. (pexels)

Tradisi bukber atau berbuka puasa bersama, ternyata memiliki makna budaya yang lebih luas dari sekadar kegiatan makan bersama saat Ramadan.

Praktik yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim ini bahkan disebut telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. Ia menjelaskan bahwa tradisi buka puasa bersama merupakan bentuk ekspresi budaya yang lahir dari praktik keberagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Menurutnya, kegiatan berbuka puasa secara kolektif tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika budaya yang berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim.

“Ini adalah sumbangan yang sangat besar dari negeri kita. Budaya bukber tidak hanya menjadi khazanah baru bagi tradisi Islam Indonesia, tapi juga telah menjadi warisan budaya dunia,” ujarnya dalam siaran di laman muhammadiyah, Jumat (7/3).

Tradisi Bukber Tidak Hanya Ada di Indonesia

Meski sangat identik dengan masyarakat Indonesia, praktik buka puasa bersama sebenarnya juga dikenal di berbagai negara Muslim lainnya. Beberapa negara seperti Turki, Uzbekistan, hingga Azerbaijan memiliki tradisi serupa yang dilakukan selama bulan suci Ramadan.

Baca juga  Sering Dianggap Sepele, Inilah 7 Kesalahan Orang Tua dalam Mengasuh Anak yang Bisa Pengaruhi Karakter

Namun demikian, bentuk pelaksanaannya di masing-masing negara memiliki karakter yang berbeda. Hal ini karena setiap masyarakat memiliki latar belakang sosial, budaya, serta kondisi yang tidak sama.

Mu’ti menjelaskan bahwa budaya pada dasarnya merupakan cerminan dari pandangan hidup suatu masyarakat. Oleh sebab itu, praktik keagamaan seperti buka puasa bersama dapat berkembang dengan warna budaya yang beragam sesuai dengan konteks lokal.

“Namun, pelaksanaan buka bersama di beberapa negara tersebut tentu memiliki corak yang berbeda. Hal ini karena budaya merupakan ekspresi dari pandangan hidup masyarakat, yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama sekaligus konteks sosial, budaya, serta situasi dan kondisi di masing-masing negara,” jelasnya.

Berasal dari Ajaran Islam dan Hadis Nabi

Selain menjadi praktik sosial, tradisi buka bersama juga memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Mu’ti menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berakar dari ajaran yang terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW mengenai keutamaan berbuka puasa dan berbagi makanan kepada orang yang berpuasa.

Salah satu hadis yang sering dikutip menjelaskan tentang kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang menjalankan ibadah puasa.

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan: Ketika berbuka ia bergembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu dengan Rabb-nya, ia bergembira karena puasanya,” ujar Mu’ti mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Baca juga  Resmi! Atraksi Tunggang Gajah Dilarang di Indonesia

Selain itu, terdapat pula hadis lain yang menekankan keutamaan memberi makan orang yang sedang berpuasa.

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” tambahnya, mengutip hadis riwayat Muhammad yang tercantum dalam kitab hadis yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi.

Dari ajaran tersebut kemudian berkembang praktik sosial di masyarakat berupa kegiatan berbuka puasa bersama yang kini dilakukan secara luas oleh berbagai kalangan.

Bukber dalam Bingkai Kebudayaan Indonesia

Dalam konteks Indonesia, tradisi bukber memiliki makna sosial yang lebih luas. Tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, buka puasa bersama juga berkembang menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial, memperkuat silaturahmi, serta membangun kebersamaan di tengah masyarakat yang beragam.

Menurut Mu’ti, di Indonesia kegiatan bukber bahkan sering kali melibatkan berbagai kalangan di luar komunitas Muslim.

Banyak kegiatan buka bersama yang dihadiri oleh teman kerja, komunitas, bahkan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda.

Baca juga  20 Motivasi Kerja Usai Libur Panjang, Cara Bangkitkan Semangat Hadapi Realita

“Buka bersama di Indonesia tidak hanya milik umat Islam. Bahkan pemeluk agama lain juga turut memeriahkan dan menyelenggarakannya sebagai arena social gathering, arena untuk berbagi suka dan kebahagiaan,” ungkap Mu’ti.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana praktik keagamaan dapat berkembang menjadi budaya yang inklusif dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Contoh Vernakularisasi Islam

Mu’ti menilai bahwa tradisi bukber di Indonesia dapat dipahami sebagai contoh nyata dari proses “vernakularisasi Islam”. Istilah ini merujuk pada proses ketika ajaran agama dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat melalui ekspresi budaya yang khas dan kontekstual.

Dalam proses tersebut, nilai-nilai agama tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk praktik sosial yang sesuai dengan karakter budaya masyarakat setempat.

“Inilah contoh ketika agama dimaknai dengan pendekatan kultural. Maka ia bisa menjadi tradisi yang diterima semua kalangan, tradisi yang ternyata telah memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia,” pungkas Mu’ti.

Tradisi bukber yang berkembang luas selama bulan Ramadan pun kini tidak hanya menjadi bagian dari ritual ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas sosial yang memperkaya kehidupan masyarakat Muslim di berbagai negara.

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!