Menjadi pemimpin bukan sekadar duduk di depan, dipanggil dengan gelar, atau diikuti banyak orang. Kepemimpinan adalah amanah yang berat, bahkan langit dan bumi enggan memikulnya. Karena itu, ketika seorang pemimpin salah melangkah, dampaknya bukan hanya pada dirinya, tetapi menjalar ke hati, akhlak, dan masa depan umatnya.
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah memimpin dengan ego, bukan dengan hati nurani. Ketika keputusan diambil demi gengsi, citra diri, atau rasa paling benar, saat itulah keadilan mulai pincang. Umat tidak lagi dilihat sebagai amanah, tetapi sebagai alat untuk menguatkan posisi. Dari sinilah luka-luka kepercayaan mulai tumbuh pelan namun dalam.
Pemimpin yang dikuasai ego sulit menerima nasihat. Kritik dianggap ancaman, bukan pengingat. Padahal, sejarah mengajarkan bahwa kehancuran sering kali bermula bukan dari musuh, melainkan dari telinga yang tertutup terhadap kebenaran. Umat pun akhirnya berjalan tanpa arah, karena kompas pemimpinnya rusak oleh kesombongan.
Kesalahan kedua adalah mengabaikan amanah dan tanggung jawab moral. Ada yang rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi lalai dalam mencontohkannya. Ucapan dan perbuatan tak lagi sejalan. Ketika ini terjadi, umat bingung: mana yang harus diikuti, kata-kata atau kenyataan?
Amanah yang dikhianati tidak selalu berupa harta atau jabatan. Kadang ia hadir dalam bentuk waktu yang disia-siakan, keputusan yang ditunda, atau masalah umat yang dianggap remeh. Diamnya pemimpin terhadap kemungkaran sering lebih melukai daripada kesalahan yang terang-terangan.
Pemimpin Jadi Jembatan
Kesalahan ketiga adalah memecah, bukan merangkul. Pemimpin seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun ketika perbedaan dijadikan alasan untuk menjauhkan, mengkotak-kotakkan, bahkan menyingkirkan, umat kehilangan rasa persaudaraan. Yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok kecil yang saling curiga.
Perpecahan tidak selalu dimulai dengan konflik besar. Ia sering lahir dari kata-kata kecil yang menyakitkan, sikap pilih kasih, dan keputusan yang tidak adil. Ketika seseorang yang di atas gagal berlaku adil, umat belajar satu hal yang berbahaya: bahwa kekuatan lebih penting daripada kebenaran.
Kesalahan keempat adalah lebih mencintai kekuasaan daripada kebenaran. Ada yang tahu dirinya salah, namun tetap bertahan demi posisi. Kebenaran dikorbankan agar kursi tetap aman. Padahal, kekuasaan yang dipertahankan dengan mengorbankan nilai hanya akan melahirkan kehampaan, bukan keberkahan.
Umat sebenarnya bisa memaafkan kesalahan, tetapi sulit menerima kepalsuan. Ketika sosok yang di atas tidak jujur pada dirinya sendiri, umat kehilangan teladan. Dari sini muncul kelelahan batin, apatisme, bahkan hilangnya kepercayaan terhadap nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi.
Kesalahan kelima adalah melupakan doa dan ketergantungan kepada Allah. Leader yang hanya bertumpu pada strategi, angka, dan kekuatan manusia sering terasa kering. Tanpa doa, tanpa tawadhu’, tanpa rasa butuh kepada Allah, pimpinan mudah rapuh saat diuji dan mudah keras saat berkuasa.
Leader yang lupa berdoa sering lupa bahwa dirinya hanyalah perantara. Ia bukan pemilik umat, bukan penentu hidayah. Ketika rasa ini hilang, keputusan-keputusan pun menjadi dingin, jauh dari empati, dan miskin keberkahan. Umat berjalan, tetapi hatinya tertinggal.
Namun harapan selalu ada. Kepemimpinan bukan tentang kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk memperbaiki diri. Leader yang mau merendah, mendengar, dan kembali pada nilai-nilai kebenaran bisa menjadi sebab bangkitnya umat. Karena sejatinya, yang baik bukan yang paling dipuja, tetapi yang paling takut menzalimi amanah yang Allah titipkan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







