Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Risalah > 5 Kekeliruan Fatal Pemimpin Ini Bisa Bikin Umat Kehilangan Arah, Nomor 2 Sering Terabaikan
Risalah

5 Kekeliruan Fatal Pemimpin Ini Bisa Bikin Umat Kehilangan Arah, Nomor 2 Sering Terabaikan

Bahron Ansori
Terakhir diperbarui: 2 Januari 2026 13:26
Bahron Ansori
Membagikan
Menjadi pemimpin bukan sekadar duduk di depan, dipanggil dengan gelar, atau diikuti banyak orang. (Ilustrasi gambar Meta AI)
Menjadi pemimpin bukan sekadar duduk di depan, dipanggil dengan gelar, atau diikuti banyak orang. (Ilustrasi gambar Meta AI)
Membagikan

Menjadi pemimpin bukan sekadar duduk di depan, dipanggil dengan gelar, atau diikuti banyak orang. Kepemimpinan adalah amanah yang berat, bahkan langit dan bumi enggan memikulnya. Karena itu, ketika seorang pemimpin salah melangkah, dampaknya bukan hanya pada dirinya, tetapi menjalar ke hati, akhlak, dan masa depan umatnya.

Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah memimpin dengan ego, bukan dengan hati nurani. Ketika keputusan diambil demi gengsi, citra diri, atau rasa paling benar, saat itulah keadilan mulai pincang. Umat tidak lagi dilihat sebagai amanah, tetapi sebagai alat untuk menguatkan posisi. Dari sinilah luka-luka kepercayaan mulai tumbuh pelan namun dalam.

Pemimpin yang dikuasai ego sulit menerima nasihat. Kritik dianggap ancaman, bukan pengingat. Padahal, sejarah mengajarkan bahwa kehancuran sering kali bermula bukan dari musuh, melainkan dari telinga yang tertutup terhadap kebenaran. Umat pun akhirnya berjalan tanpa arah, karena kompas pemimpinnya rusak oleh kesombongan.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan amanah dan tanggung jawab moral. Ada yang rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi lalai dalam mencontohkannya. Ucapan dan perbuatan tak lagi sejalan. Ketika ini terjadi, umat bingung: mana yang harus diikuti, kata-kata atau kenyataan?

Baca juga  10 Kunci Memperbaiki Diri agar Nasihat Didengar Orang Lain, Bukan Cuma Jago Ceramah!

Amanah yang dikhianati tidak selalu berupa harta atau jabatan. Kadang ia hadir dalam bentuk waktu yang disia-siakan, keputusan yang ditunda, atau masalah umat yang dianggap remeh. Diamnya pemimpin terhadap kemungkaran sering lebih melukai daripada kesalahan yang terang-terangan.

Pemimpin Jadi Jembatan

Kesalahan ketiga adalah memecah, bukan merangkul. Pemimpin seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun ketika perbedaan dijadikan alasan untuk menjauhkan, mengkotak-kotakkan, bahkan menyingkirkan, umat kehilangan rasa persaudaraan. Yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok kecil yang saling curiga.

Perpecahan tidak selalu dimulai dengan konflik besar. Ia sering lahir dari kata-kata kecil yang menyakitkan, sikap pilih kasih, dan keputusan yang tidak adil. Ketika seseorang yang di atas gagal berlaku adil, umat belajar satu hal yang berbahaya: bahwa kekuatan lebih penting daripada kebenaran.

Kesalahan keempat adalah lebih mencintai kekuasaan daripada kebenaran. Ada yang tahu dirinya salah, namun tetap bertahan demi posisi. Kebenaran dikorbankan agar kursi tetap aman. Padahal, kekuasaan yang dipertahankan dengan mengorbankan nilai hanya akan melahirkan kehampaan, bukan keberkahan.

Baca juga  Sosok Penghancur Ka'bah di Akhir Zaman, Kapan Akan Terjadi?

Umat sebenarnya bisa memaafkan kesalahan, tetapi sulit menerima kepalsuan. Ketika sosok yang di atas tidak jujur pada dirinya sendiri, umat kehilangan teladan. Dari sini muncul kelelahan batin, apatisme, bahkan hilangnya kepercayaan terhadap nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi.

Kesalahan kelima adalah melupakan doa dan ketergantungan kepada Allah. Leader yang hanya bertumpu pada strategi, angka, dan kekuatan manusia sering terasa kering. Tanpa doa, tanpa tawadhu’, tanpa rasa butuh kepada Allah, pimpinan mudah rapuh saat diuji dan mudah keras saat berkuasa.

Leader yang lupa berdoa sering lupa bahwa dirinya hanyalah perantara. Ia bukan pemilik umat, bukan penentu hidayah. Ketika rasa ini hilang, keputusan-keputusan pun menjadi dingin, jauh dari empati, dan miskin keberkahan. Umat berjalan, tetapi hatinya tertinggal.

Namun harapan selalu ada. Kepemimpinan bukan tentang kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk memperbaiki diri. Leader yang mau merendah, mendengar, dan kembali pada nilai-nilai kebenaran bisa menjadi sebab bangkitnya umat. Karena sejatinya, yang baik bukan yang paling dipuja, tetapi yang paling takut menzalimi amanah yang Allah titipkan.

Baca juga  Ngeri! Ngaku Takut Neraka tapi Malah 'Akrab' dengan Dosa, Simak Renungan Tentang Paradoks Muslim Masa Kini

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

TAG:pemimpinsifat kepemimpinan
Artikel Sebelumnya Penasehat terdakwa kasus tambang emas di Banyumas, Djoko Susanto SH menunjukan surat untuk pengajuan abolisi ke Presiden, saat ditemui di Purwokerto, Kamis (01/12/2025). Dasar Kemanusiaan, Kuasa Hukum Buruh Tambang Pancurendang Ajukan Abolisi ke Presiden
Artikel Selanjutnya Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman melantik Imam Jauhari jadi Kepala Bappeda Cilacap. (Faiz Ardani). Bupati Cilacap Lantik Imam Jauhari Jadi Kepala Bappeda
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Muslim
Risalah

Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

Oleh Bahron Ansori
Sahabat nabi
Risalah

Darah Mengucur Dihajar Kaum Quraisy, Inilah Sosok Sahabat Nabi yang Nyalinya Tak Ciut Baca Al-Quran di Depan Ka’bah

Oleh Bahron Ansori
Kiamat
Risalah

‘Panggilan Cinta dari Langit’ untuk Kita yang Terlalu Sibuk dengan Dunia Padahal Kiamat Sudah di Depan Mata

Oleh Bahron Ansori
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?