
SEPUTARBANYUMAS.COM – Tuberkulosis atau TBC merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, masalah tersebut masih menjadi momok yang pemberantasanya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara melakukan berbagai terobosan untuk penanganan kasus tersebut, termasuk melalui program Aksi Meningkatkan Penemuan Kasus TBC dengan Intervensi Kolaboratif (SIMPATIK).
Program ini menjadi penting, mengingat kasus TBC berdasarkan data pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2024 lalu tercatat sekitar 10.767 suspect ditemukan, dan 1.676 kasus diantaranya terdeteksi positif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Banjarnegara Latifa Hesti P mengatakan, jumlah data yang ditemukan dan suspect TBC di Banjarnegara ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan target suspect yang mencapai 13.568 kasus, angka target tersebut diduga berasal dari penularan penderita TBC, untuk itu Dinas Kesehatan terus melakukan pemutusan mata rantai penularan kasus TBC di Banjarnegara.
Menurutnya, penekanan penyebaran kasus tersebut harus dilakukan, Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk menemukan kasus TBC sebagai satu cara untuk melakukan antisipasi penyebaran lebih luas lagi.
“Angka penemuan kasus TBC di Banjarnegara masih rendah, bahkan mendasar pada data Januari hingga Mei 2025, baru 5.966 suspect TBC ditemukan dari target penemuan 13.543 kasus suspect,” katanya.
Dari jumlah tersebut, kasus temuan posistif TBC di Banjarnegara maru mencapai 653 kasus, sehingga butuh kerja keras dalam mencari suspect maupun positif, hal ini menjadi penting dalam memutus mata rantai penularan TBC, dan ini menjadi tantangan bagi Dinas Kesehatan.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab TPC ini merupakan bakteri yang menyerang paru-paru sebagai sasaran utama, tapi tidak menutup kemungkinan menyusup ke organ lain seperti tulang, otak, ginjal, bahkan kelenjar getah bening. Penularannya terjadi diam-diam melalui droplet dari batuk atau bersin penderita aktif.
“Biasanya penderita mengalami gejala batuk lebih dari dua minggu, demam sore, keringat malam, nafsu makan hilang, dan berat badan menyusut tanpa sebab. TBC bisa sembuh total asal didiagnosis sejak dini dan diobati teratur. Tapi itu yang paling sulit dalam penanganan ini adalah disiplin minum obat enam bulan tanpa putus,” katanya.
TBC masih bisa disembuhkan, namun membutuhkan pemantauan intensif terhadap penderita agar tidak putus di tengah jalan. Karena jika itu terjadi, penyakit bisa berubah menjadi MDR-TB, alias TBC kebal obat. Jauh lebih berbahaya dan lebih sulit disembuhkan.
“Melalui TBC SIMPATIK ini, kami ingin melakukan penanganan TBC tidak hanya sekadar pendekatan medis, tapi menyentuh ranah sosial, edukasi, bahkan kebijakan, sebab masalah TBC ini sangat kompleks dan membutuhkan gotong royong lintas sektor agar penanganan lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.






