Di tengah kabut tipis dan hawa dingin Dataran Tinggi Dieng, berdiri kompleks Candi Pandhawa Dieng yang menjadi saksi bisu peradaban Hindu kuno yang pernah berjuang melawan alam. Terletak di Desa Diengkulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, candi-candi ini menyimpan kisah panjang tentang manusia, kepercayaan, dan lingkungan pegunungan yang ekstrem.
Dilansir dari berbagai sumber sejarah, Kompleks Candi Pandhawa Dieng diduga pernah terendam air Telaga Balekambang, sebuah danau purba yang dahulu menutupi sebagian besar kawasan Dieng. Keberadaan telaga ini menjadikan candi-candi tersebut sempat hilang dari pandangan, hingga akhirnya ditemukan kembali setelah melalui proses panjang penyelamatan.
Budayawan Banjarnegara, Wahono, menyebutkan bahwa Candi Pandhawa Dieng berada di ketinggian sekitar 2.090 meter di atas permukaan laut dan termasuk jajaran candi tertua di Pulau Jawa. Keberadaannya menjadi bukti kemampuan manusia masa lalu dalam beradaptasi dengan kondisi alam yang keras sekaligus sakral.
“Kompleks Candi Pandhawa Dieng merupakan peninggalan bercorak Hindu Siwa yang diperkirakan dibangun pada abad VIII hingga IX Masehi. Letaknya di dataran tinggi yang diapit Gunung Prau di sebelah utara, sementara aliran Sungai Tulis mengalir dari kawasan gunung menuju selatan ke wilayah Dieng,” ujar Wahono.
Pada masa kuno, kawasan Dieng membentuk danau luas bernama Telaga Balekambang. Untuk mengendalikan luapan air, leluhur Dieng membuat saluran bawah tanah berupa terowongan yang dikenal sebagai Gangsiran Aswatama. Terowongan ini menjadi kunci penting dalam sejarah penyelamatan candi-candi dari genangan air.
“Ada prasasti yang ditemukan di area kompleks yang mencantumkan angka tahun 713 Saka atau setara dengan 809 Masehi. Namun para ahli meyakini sebagian bangunan candi kemungkinan sudah ada sejak awal abad VIII,” katanya.
Penemuan kembali candi-candi Dieng dimulai pada abad ke-18, ketika Kompleks Candi Arjuna ditemukan dalam kondisi masih tergenang air. Penelitian awal dilakukan oleh arkeolog Belanda Theodoor van Erp, kemudian dilanjutkan oleh arkeolog Inggris H.C. Cornelius pada 1814. Upaya pengeringan besar-besaran baru terealisasi pada 1856 oleh J. van Kinsbergen dengan memanfaatkan Terowongan Gangsiran Aswatama untuk mengalirkan air keluar dari dataran Dieng.
Selain Kompleks Arjuna, sejumlah candi lain tersebar di berbagai titik kawasan Dieng. Candi Gatotkaca berada di barat daya Telaga Balekambang, tepatnya di kaki Bukit Pangonan. Candi Dwarawati terletak di utara dekat lereng Gunung Prau, sementara Candi Bima berdiri sendiri di ujung selatan kawasan Dieng. Sekilas, arsitekturnya menyerupai kuil-kuil India, namun tetap menampilkan ciri khas Nusantara.
Sejarah kompleks ini diperkuat oleh sejumlah prasasti, di antaranya Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Mantyasih (907 M) yang menyebut keberadaan candi-candi Hindu di Dieng. Selain itu, Prasasti Dieng beraksara Kawi dan Sanskerta mencatat berbagai persembahan serta upacara keagamaan yang pernah dilakukan di kawasan tersebut.
“Kompleks Candi Arjuna tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan agama Hindu. Para brahmana dan pemuka agama berkumpul di sini untuk melakukan ritual sekaligus mengajarkan ajaran Hindu kepada murid-muridnya,” jelas Wahono.
Candi Pandhawa Dieng Penanda Perjalanan Sejarah Peradaban Nusantara
Kini, Candi Pandhawa Dieng tidak sekadar menjadi destinasi wisata dan lokasi ritual adat, seperti cukur rambut gimbal, tetapi juga penanda penting perjalanan sejarah peradaban Nusantara. Dari telaga purba hingga bangunan candi yang tetap bertahan di tengah kabut pegunungan, Dieng menyimpan pesan tentang harmoni antara manusia, alam, dan kepercayaan.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.






