Apa gunanya syahadat jika sujud saja enggan? Sebuah fenomena ironis tengah menjangkiti sebagian umat, di mana pengakuan kepada Allah dan Rasul-Nya tak sejalan dengan kedisiplinan mendirikan salat. Bibir boleh saja fasih bertauhid, namun ketika panggilan salat tak lagi sampai ke hati, di situlah letak krisis keimanan yang perlahan merusak pondasi spiritualitas kita.
Syahadat adalah janji terbesar seorang hamba kepada Rabb-nya. Janji untuk tunduk, patuh, dan taat sepenuh jiwa. Namun apa arti janji jika kewajiban paling utama justru diabaikan? Salat yang menjadi bukti cinta dan ketaatan sering dikalahkan oleh urusan dunia yang tak pernah benar-benar selesai.
Kita marah ketika Islam dihina, tersinggung saat syariat direndahkan. Tetapi anehnya, kita tenang saja ketika meninggalkan salat. Seolah-olah dosa itu kecil, seolah-olah Allah tidak melihat. Padahal salat adalah tiang agama, pembeda antara iman dan kekufuran.
Banyak orang merasa masih “baik-baik saja” meski jarang salat. Hati terasa aman, hidup berjalan normal. Padahal bisa jadi itulah tanda paling berbahaya: hati yang mati rasa. Dosa terbesar sering kali terasa biasa karena terlalu sering diulang.
Salat bukan sekadar gerakan tubuh. Ia adalah pertemuan sakral antara hamba dan Penciptanya. Saat kita meninggalkannya, sesungguhnya kita sedang menolak undangan langsung dari Allah. Undangan yang lima kali sehari, namun sering kita anggap sepele.
Kita punya waktu untuk segalanya. Waktu bekerja, waktu istirahat, waktu hiburan. Anehnya, waktu salat selalu terasa sempit. Bukan karena waktunya kurang, tapi karena hati kita terlalu penuh oleh dunia.
Padahal salat tidak pernah meminta banyak. Hanya beberapa menit untuk bersujud, mengadu, dan memohon. Justru di sanalah letak ketenangan yang selama ini kita cari ke sana ke mari. Ironisnya, kita meninggalkan sumber ketenangan itu sendiri.
Syahadat Tanpa Salat Ibarat Pohon Tanpa Akar
Syahadat tanpa salat ibarat pohon tanpa akar. Tampak berdiri, tetapi rapuh dan mudah tumbang. Ketika ujian datang, iman goyah, hati gelisah, hidup terasa hampa. Semua itu sering berawal dari salat yang diabaikan.
Banyak orang berharap hidupnya berubah, rezekinya lapang, hatinya tenang. Namun mereka lupa satu kunci utama: salat. Allah tidak meminta yang rumit, hanya meminta kita datang, bersujud, dan taat.
Jangan tunggu sampai hidup terasa benar-benar gelap baru kita kembali ke salat. Jangan menunggu musibah, sakit, atau kehilangan. Karena salat bukan obat darurat, ia adalah kebutuhan harian ruh manusia.
Salat adalah pengakuan bahwa kita lemah dan Allah Maha Kuasa. Saat kita meninggalkannya, tanpa sadar kita sedang menyombongkan diri. Seolah-olah kita bisa hidup tanpa pertolongan-Nya.
Tidak ada kata terlambat untuk kembali. Seberat apa pun masa lalu, pintu taubat selalu terbuka. Langkah pertama taubat sering kali sederhana: tegakkan salat. Dari sanalah perubahan besar bermula.
Mulailah dengan salat yang paling mudah dijaga. Tidak perlu sempurna, yang penting konsisten. Allah lebih mencintai amalan kecil yang terus dijaga daripada yang besar tapi sesekali.
Bayangkan jika syahadat yang kita ucapkan benar-benar hidup dalam salat kita. Bukan hanya di lisan, tapi di gerak, doa, dan air mata. Hidup akan terasa berbeda, iman menjadi nyata, bukan sekadar identitas.
Syahadat adalah pintu, salat adalah jalannya. Jangan berhenti di pintu lalu enggan melangkah. Karena kelak, yang pertama kali dihisab bukan seberapa lantang kita bersyahadat, tetapi apakah kita menjaga salat atau justru meninggalkannya.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.






