Jalan berlubang di India, kini bisa terdeteksi dengan mudah dengan memanfaatkan AI. Jalan berlubang masih menjadi persoalan serius dan terus memakan korban setiap tahunnya.
Kondisi jalan yang rusak, terutama saat musim hujan atau pada malam hari dengan visibilitas rendah, kerap menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang berujung pada cedera permanen hingga kematian.
Meski perbaikan jalan berlubang rutin dilakukan, luasnya jaringan jalan membuat proses pemantauan dan penanganan sering kali berjalan lambat.
Situasi tersebut mendorong munculnya pendekatan baru berbasis teknologi. Sejumlah perusahaan rintisan di India kini memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi lubang di jalan secara otomatis dan melaporkannya kepada pihak berwenang.
Inovasi ini diharapkan dapat mempercepat proses perbaikan jalan berlubang sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Peran Startup dalam Mengawasi Kondisi Jalan Berlubang
Salah satu perusahaan yang aktif mengembangkan solusi ini adalah Nayan Company. Startup tersebut bekerja sama dengan instansi pemerintah di sekitar 15 kota di India untuk memantau kondisi jalan dan lalu lintas menggunakan sistem berbasis AI.
Dalam operasionalnya, Nayan memanfaatkan sekitar 500 dashcam khusus serta lebih dari 2.000 ponsel pintar yang telah dipasangi aplikasi perusahaan.
Perangkat tersebut sebagian besar dipasang pada kendaraan milik pemerintah, seperti bus angkutan umum dan mobil patroli polisi.
Saat kendaraan beroperasi, sistem secara otomatis memindai permukaan jalan untuk mendeteksi lubang dan berbagai permasalahan lain, mulai dari pelanggaran lalu lintas hingga tumpukan sampah yang belum dibersihkan.
Teknologi AI Dilatih dengan Ratusan Ribu Data
Direktur bisnis Nayan, Umang Gupta, menjelaskan bahwa sistem yang mereka kembangkan telah dilatih menggunakan ratusan ribu gambar lubang jalan dan potensi pelanggaran lainnya.
Proses pelatihan ini memungkinkan mengenali berbagai bentuk kerusakan jalan dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Menurut Gupta, pendekatan berbasis AI jauh lebih murah dan efisien dibandingkan inspeksi manual. Biaya operasional perangkat Nayan selama satu tahun, termasuk pengiriman laporan analisis kepada klien pemerintah, sekitar 40.000 rupee.
Angka ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan biaya mempekerjakan tenaga manusia untuk melakukan pemantauan jalan berlubang secara rutin di lapangan.
RoadBounce Andalkan Getaran Kendaraan
Selain Nayan, startup lain bernama RoadBounce juga mengembangkan solusi berbasis artificial intelligence untuk mendeteksi kondisi jalan.
Berbeda dengan Nayan yang mengandalkan pencitraan visual, RoadBounce menggunakan aplikasi ponsel pintar yang ditempatkan di dalam kendaraan untuk mendeteksi getaran.
Pendiri RoadBounce, Ranjeet Deshmukh, menilai pendekatan berbasis getaran memiliki keunggulan tersendiri.
Menurutnya, kamera sering kali kesulitan mendeteksi lubang jalan ketika permukaan tertutup air hujan atau salju.
Dengan memanfaatkan sensor getaran dan data lokasi, sistem RoadBounce dapat mengidentifikasi area yang berpotensi bermasalah meskipun lubang tidak terlihat secara visual.
Sejak meluncurkan produk pemantauan jalan pertamanya pada 2020, RoadBounce telah mensurvei lebih dari 65.000 kilometer jalan di berbagai wilayah India.
Data yang dikumpulkan kemudian diolah untuk memberikan gambaran kondisi jalan secara lebih komprehensif kepada otoritas terkait.
Tantangan Memantau Jaringan Jalan Terpanjang Kedua Dunia
India diketahui memiliki jaringan jalan terpanjang kedua di dunia, dengan total panjang mencapai lebih dari 6,67 juta kilometer.
Skala ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menjaga kualitas infrastruktur. Pemantauan manual terhadap jaringan jalan seluas itu hampir tidak mungkin dilakukan secara rutin dan menyeluruh.
Akibatnya, banyak ruas jalan mengalami penurunan kualitas tanpa segera terdeteksi. Proses perbaikan pun sering kali memakan waktu lama, sementara risiko kecelakaan terus mengintai para pengguna jalan.
Di sinilah teknologi artificial intelligence dinilai dapat memainkan peran penting sebagai solusi pelengkap bagi sistem konvensional.
Efisiensi Biaya dan Waktu Jadi Keunggulan Utama
Penggunaan artificial intelligence untuk mendeteksi jalan berlubang dinilai mampu memangkas waktu dan biaya inspeksi secara signifikan.
Data yang dikumpulkan secara otomatis memungkinkan pemerintah daerah untuk mengetahui lokasi kerusakan atau jalan berlubang secara real time dan memprioritaskan perbaikan berdasarkan tingkat urgensi.
Selain itu, sistem pelaporan berbasis data juga mendorong transparansi dan akuntabilitas. Dengan adanya catatan digital yang jelas, pemerintah daerah dapat dipantau kinerjanya dalam menangani pemeliharaan jalan.
Hal ini berpotensi mengubah pola pengelolaan infrastruktur yang selama ini dinilai lamban dan reaktif.
Harapan Perubahan Pengelolaan Infrastruktur
Ke depan, penerapan teknologi artificial intelligence di sektor infrastruktur jalan diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga menciptakan sistem pemeliharaan yang lebih proaktif.
Dengan data yang akurat dan terkini, pemerintah dapat merencanakan anggaran perbaikan secara lebih efektif dan mencegah kerusakan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan adopsi awal, berbagai inisiatif startup di India menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat penting untuk menjawab persoalan klasik infrastruktur.
Jika diterapkan secara luas dan konsisten, pemanfaatan artificial intelligence untuk “berburu” lubang jalan berpotensi membawa perubahan signifikan bagi keselamatan dan kualitas jalan di India.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.






